--- On Wed, 12/10/08, oman abdurahman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: oman abdurahman <[EMAIL PROTECTED]>
Der ah, ka sadayana diantos
usulanana pikeun ngungkulan pasoalan cai ieu. Tetengger-tetenggerna
geus disodorkeun dina postingan samemehna.
manar
==================
Haturan.
Siganamah kasadaran masyarakat urang masih ipis kanu wawasan lingkungan.
Sugan ku BALIHO atanapi spanduk kasadaran penduduk rada ningkat., apan keur
usum spanduk di bangsa urangmah.
Umpamana ieu seratan ti rerencangan abdi anu linggih di wewengkon Jabar tapi
rada tebih ti Bandung, DEPOK.
Sugan ku baliho di pasang we sapanjang walungan, ti mimiti sungapan walungan
nepi ka hilir.
"Teu kenging miceun sampah kawalungan jing !!". sing panjang.... he..he.he..
Sugan kitu oge.
----
MEREKA yang kidal tentu mengernyitkan dahi melihat baliho ukuran
besar bergambar Nurmahmudi Ismail, Wali Kota Depok, itu. ”Kembalilah ke
Jati Diri Bangsa, Makan dan Minumlah dengan Tangan Kanan”. Begitulah
tulisan di baliho disertai foto Pak Wali beserta perwakilan masyarakat,
seperti pasukan pengibar bendera pusaka, Pramuka, abang-none, dan
veteran.
Jumlah baliho yang ditebarkan di sepanjang jalan Depok mencapai
puluhan buah. Apa penyebab Pak Wali demen berkampanye soal makan dengan
tangan kanan? ”Saya sering menemukan pejabat atau warga yang makan
dengan tangan kiri,” kata Nur kepada Tempo. Ia mengaku sudah menegur.
Entah mengapa, Nur merasa masih kurang sreg, lantas baliho pun ia
sebar.
Namun kampanye ini justru mengundang komentar miring dari
warga. Asni, warga Depok II, kesal bukan kepalang. ”Basi banget, sih.
Kita semua sudah tahu kalau makan pakai tangan kanan,” ungkapnya ketus.
Ketimbang mengurusi soal tangan mana yang digunakan untuk makan, Asni
justru mengajukan usul lain. ”Kalau ada larangan kencing sembarangan di
Terminal Depok, itu baru oye,” katanya sembari terkekeh. Maklum, bau
pesing di terminal itu, menurut Asni, bisa bikin orang pingsan. Sedangkan bagi
Lia, warga Depok Lama, soal baliho ini tak lagi
mengherankan. ”Pak Nur kan wali kota baliho,” katanya enteng. Maklum,
bukan sekali ini saja Nur menyebarkan baliho. Sebelum soal tangan
kanan, ia sempat melempar wacana makan belimbing. Padahal, menurut Lia,
mencari belimbing enggak gampang-gampang amat. ”Harganya juga mahal,”
ujarnya mengeluh. Kampanye makan belimbing itu pun sembari menebarkan
wajah penuh senyum Pak Wali.
Maka tak aneh bila Okta, warga Sawangan, menuding baliho itu
hanya upaya Pak Wali menjaga citra. ”Masih banyak masalah Depok yang
mesti diselesaikan, dari jalan macet sampai jalan rusak. Tolong itu
jadi prioritas,” ujarnya. Belum diketahui bagaimana komentar orang
bertangan kidal, yang sehari-hari menggunakan tangan kiri untuk makan.
Lalu bagaimana pula kalau atlet bulu tangkis yang kidal? Apa cuma makan
saja harus pakai ”tangan manis”?
Note:
Saya sudah lihat baliho ini dan ga ngerti maunya. Memang sih katanya
ada di Hadits. Tapi apa hubungannya makan tangan kanan dengan Jati Diri
bangsa?