Sim kuring gaduh usul, duka nyambung duka henteu da teu maos ieu jejer ti 
anggalna.

Kumaha upami urang sadaya nu gaduh pakarangan ngadamel sumur resapan oge melak 
tangkal gede minimal 2 tangkal. Langkung efektif mun ieu usulan aya Perda-na; 
pamarentah ngawajibkeun nu gaduh pakarangan hususna di real estate 
sangkan ngadamel sumur resapan sareng melak tangkal.





________________________________
From: Maman <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, December 10, 2008 8:53:01 AM
Subject: Re: [kisunda] Re: [Urang Sunda] tumanya….: urusan cai…


--- On Wed, 12/10/08, oman abdurahman <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
From: oman abdurahman <[EMAIL PROTECTED] com>

Der ah, ka sadayana diantos
usulanana pikeun ngungkulan pasoalan cai ieu. Tetengger-tetengger na
geus disodorkeun dina postingan samemehna.

manar
============ ======

Haturan.

Siganamah kasadaran masyarakat urang masih ipis kanu wawasan lingkungan.
Sugan ku BALIHO atanapi spanduk kasadaran penduduk rada ningkat., apan keur 
usum spanduk di  bangsa urangmah.
Umpamana  ieu seratan ti rerencangan abdi anu linggih di wewengkon Jabar tapi 
rada tebih ti Bandung, DEPOK.

Sugan ku baliho di pasang we sapanjang walungan, ti mimiti sungapan walungan  
nepi ka hilir.  
"Teu kenging miceun sampah kawalungan jing !!".  sing panjang.... he..he.he..

Sugan kitu oge.

----


MEREKA yang kidal tentu mengernyitkan dahi melihat baliho ukuran besar 
bergambar Nurmahmudi Ismail, Wali Kota Depok, itu. ”Kembalilah ke Jati Diri 
Bangsa, Makan dan Minumlah dengan Tangan Kanan”. Begitulah tulisan di baliho 
disertai foto Pak Wali beserta perwakilan masyarakat, seperti pasukan pengibar 
bendera pusaka, Pramuka, abang-none, dan veteran. 
Jumlah baliho yang ditebarkan di sepanjang jalan Depok mencapai puluhan buah. 
Apa penyebab Pak Wali demen berkampanye soal makan dengan tangan kanan? ”Saya 
sering menemukan pejabat atau warga yang makan dengan tangan kiri,” kata Nur 
kepada Tempo. Ia mengaku sudah menegur. Entah mengapa, Nur merasa masih kurang 
sreg, lantas baliho pun ia sebar. 
Namun kampanye ini justru mengundang komentar miring dari warga. Asni, warga 
Depok II, kesal bukan kepalang. ”Basi banget, sih. Kita semua sudah tahu kalau 
makan pakai tangan kanan,” ungkapnya ketus. Ketimbang mengurusi soal tangan 
mana yang digunakan untuk makan, Asni justru mengajukan usul lain. ”Kalau ada 
larangan kencing sembarangan di Terminal Depok, itu baru oye,” katanya sembari 
terkekeh. Maklum, bau pesing di terminal itu, menurut Asni, bisa bikin orang 
pingsan. 
Sedangkan bagi Lia, warga Depok Lama, soal baliho ini tak lagi mengherankan. 
”Pak Nur kan wali kota baliho,” katanya enteng. Maklum, bukan sekali ini saja 
Nur menyebarkan baliho. Sebelum soal tangan kanan, ia sempat melempar wacana 
makan belimbing. Padahal, menurut Lia, mencari belimbing enggak gampang-gampang 
amat. ”Harganya juga mahal,” ujarnya mengeluh. Kampanye makan belimbing itu pun 
sembari menebarkan wajah penuh senyum Pak Wali. 
Maka tak aneh bila Okta, warga Sawangan, menuding baliho itu hanya upaya Pak 
Wali menjaga citra. ”Masih banyak masalah Depok yang mesti diselesaikan, dari 
jalan macet sampai jalan rusak. Tolong itu jadi prioritas,” ujarnya. Belum 
diketahui bagaimana komentar orang bertangan kidal, yang sehari-hari 
menggunakan tangan kiri untuk makan. Lalu bagaimana pula kalau atlet bulu 
tangkis yang kidal? Apa cuma makan saja harus pakai ”tangan manis”? 


Note: Saya sudah lihat baliho ini dan ga ngerti maunya. Memang sih katanya ada 
di Hadits. Tapi apa hubungannya makan tangan kanan dengan Jati Diri bangsa?
 
 


      

Kirim email ke