Karek maca warta lini geus rek ngarayap deui sigana. Ti Aceh geus ngarieg di 
Sumut, na ari gurawil teh warta waspada ka nu caricing di Jakarta.

Nyanggakeun. 
http://sorot.vivanews.com/news/read/166557-gempa-jakarta--siapkah-kita-
 ~ experientia docet sapientiam ~ 


SOROT 93
Gempa Jakarta, Siapkah Kita?
Para ahli ITB meluncurkan peta baru gempa di Indonesia. Jakarta kian rawan 
digoyang gempa.
Jum'at, 23 Juli 2010, 21:11 WIB
Elin Yunita Kristanti, Zaky Al-Yamani, Anda Nurlaila
VIVAnews –TIGA abad lalu ada kisah bumi Jakarta nyaris rata akibat gempa. Hari 
itu, 4-5 Januari 1699, guncangan di Jawa Barat merambat ke Batavia. Peradaban 
kota baru bentukan kolonial Belanda itu nyaris hancur.
Saat itu, Gunung Salak meletus. Dari puncaknya setinggi dua ribu meter, gunung 
itu menyemburkan abu dan batu. Ribuan kubik lumpur muncrat. Puluhan ribu pohon 
tumbang, menyumbat aliran Sungai Ciliwung, membekap kali dan tanggul di 
Batavia, 
kota yang dibangun meniru Venesia.
Banjir lumpur tak terelakkan. Kota mendadak menjadi rawa.
Bencana itu dicatat Sir Thomas Stamford Raffles dalam bukunya History of Java.  
"Gempa 1699 memuntahkan lumpur dari perut bumi. Lumpur itu menutup aliran 
sungai, menyebabkan kondisi lingkungan tak sehat, kian parah.”
Batavia didera bencana rangkap dua. Gubernur Jendral Hindia Belanda Willem van 
Outhoorn (1691 – 1704) yang berkuasa saat itu sangat nepotis. Para kerabatnya 
menduduki jabatan strategis di Hindia Belanda. Dia bahkan digantikan menantunya 
sendiri, Johan van Hoorn.
Hampir seabad kemudian, gempa hebat kembali melanda Jakarta pada 1780. Lalu 
seabad kemudian, pada  27 Agustus 1883, Gunung Krakatau meletus, dan memicu 
tsunami 35 meter. Sekitar 36 ribu jiwa melayang, di Jawa bagian barat, dan 
sebelah selatan Sumatera.
Jumlah korban fantastis untuk ukuran masa itu.
Ombak tsunami Krakatau mampu mendorong karang seberat 600 ton ke pantai. Inilah 
salah satu bencana alam terdahsyat, selain letusan Gunung Tambora, yang 
membolongi atmosfer, mengubah iklim dunia, dan konon membuat Napoleon Bonaparte 
kalah perang.
Kisah Krakatau mengamuk itu pernah dicatat saksi mata Muhammad Saleh, yang 
menulis ‘Syair Lampung Karam’, dan terbit pada Agustus 1883. Ini barangkali 
dokumentasi tragedi Krakatau satu-satunya yang ditulis oleh seorang pribumi.
Saleh menulis:“Serta pula dengan gelabnya, tidak berhenti goncang gempanya. 
Bukan Bumi yang menggoncangnya, gempa air laut nyata rupanya.”
 “Dengan takdir Tuhan yang Ghani, besar gelombang tidak terperi.  Lalulah masuk 
ke dalam negeri, berlarian orang ke sana ke mari.”
“Ada yang memanjat kayu tinggi, masing-masing membawanya diri. Ada yang gaduh 
mencari bini, ada yang berkata ‘Allahurabi’”.
Naskah itu ditemukan kembali oleh sejarawan Universitas Andalas, Suryadi, yang 
kini menimba ilmu di Universitas Leiden, Belanda. Dia lalu menyunting teks 
syair 
yang mirip laporan ‘jurnalistik’ itu, dan diterbitkan kembali dalam buku  
‘Dahsyatnya Letusan Krakatau 1883’.
Periode yang mengulang

Empat gempa dahsyat itu bukan sekedar catatan sejarah. Bagi para pakar, dia 
menjadi petunjuk bencana yang sama bisa berulang di ibu kota.
Pakar gempa dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Danny Hilman 
Natawijaya, misalnya, mengatakan dari fakta sejarah gempa selalu berulang dalam 
periode waktu tertentu. “Ini adalah peringatan bagi Jakarta, kota besar dengan 
9 
juta penduduk. Jakarta harus selalu siap menghadapi skrenario terburuk bencana 
gempa.”
Peringatan dari Danny ada dasarnya. Dari data peta gempa 2010, Jakarta termasuk 
rawan. Tingkat kerentanan Jakarta terhadap gempa bumi naik probabilitasnya. 
Pada 
2002, dia tercatat pada angka 0,15 g (gravitasi). Kini, pada 2010 naik menjadi 
0,2 g.
Encyclopedia of World Geography mencatat Jakarta, seperti halnya mayoritas kota 
besar di Indonesia, dibangun di atas tanah relatif tak stabil. Meski jauh dari 
pusat gempa, kota seperti itu rentan goncangan.
Tanah yang tak stabil itu membuat rambatan gempa jadi lebih hebat. Seperti 
dikatakan Ketua Tim Revisi Peta Gempa Indonesia atau Tim 9, Profesor Masyhur 
Irsyam, kawasan Jakarta Utara memiliki kondisi batuan dasar yang memungkinkan 
terjadinya percepatan rambatan.
Ambil contoh kasus gempa 1699 itu. Pusat gempanya tidak di Batavia, nama lama 
Jakarta. “Tapi di wilayah lain. Karena kondisi batuan dasar memungkinkan 
percepatan rambatan, maka guncangannya lebih kuat daripada kekuatan gempa di 
sumbernya," kata Prof Masyhur.
Intensitas gempa yang kian meningkat di zona patahan aktif sepanjang pantai 
barat Sumatera akhir-akhir ini membuat para pakar turut cemas. Soalnya potensi 
gempa bisa menuju ibu kota sewaktu-waktu.
"Ini juga bisa jadi semacam emergency call. Bisa dilihat mana yang relatif aman 
dari goncangan, sehingga bisa jadi jalur evakuasi," ucap Masyhur, ahli gempa 
dari Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.
Suka tak suka, Jakarta memang di bawah bayang-bayang jalur gempa itu. 
Sebelumnya 
beredar kabar adanya sesar, atau patahan gempa di Jakarta. Melintang dari 
wilayah Ciputat sampai Kota, patahan itu disebut juga Sesar Ciputat.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebut, salah satu bukti adanya 
Sesar itu adalah sumber mata air panas di sekitar Gedung Arsip Nasional. Namun, 
Sesar itu adalah patahan tua. 


Pada 2006 lalu sesar itu masih berstatus tidak aktif. Tapi, dia bisa 
"terbangun" 
kembali. Misalnya, jika Sesar tua itu "digelitik" oleh gempa berkekuatan di 
atas 
7 skala Richter. Untungnya, tak ada gempa sebesar itu di Jakarta, setidaknya 
dalam 200 tahun terakhir.
Negeri langganan gempa

Ini takdir: Indonesia berada di atas zona tektonik sangat aktif karena tiga 
lempeng besar dunia –Pasifik, Australia, dan Eurasia, dan sejumlah lempeng 
kecil 
lainnya bertemu di wilayah nusantara.
Berada di lingkaran ‘cincin api’ atau ring of fire membuat negeri ini langganan 
bencana, seperti gempa dan letusan gunung berapi. “Indonesia adalah supermarket 
gempa”, ujar Staf Khusus Presiden Bidang Bencana, Andi Arief.
Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS), dari 15 gempa paling 
dahsyat di dunia sejak tahun 1900, empat di antaranya berada di Indonesia.
Sebut saja gempa Aceh 2004 yang berkekuatan 9,1 skala Richter. Menurut versi 
USGS, gempa Aceh menduduki nomor tiga setelah gempa Chile pada 22 Mei 1960 (9,5 
SR) dan gempa di Alaska (9,2 SR), 28 Maret 1964.
Tiga gempa lainnya adalah guncangan berkekuatan 8,6 SR di Sumatera Utara pada 
28 
Maret 2005, Gempa 8,5 SR di Sumatera Selatan 12 September 2005, dan gempa di 
Laut Banda 1 Februari 1938.
Tentu, kita masih terkenang gempa dan tsunami di Aceh pada Minggu 26 Desember 
2004, yang menjadi salah satu bencana paling mematikan sepanjang sejarah. 
Sekitar 230.000 orang tewas di 8 negara. Bencana ini bahkan menewaskan warga di 
Afrika Selatan, yang letaknya hampir 5.000 mil dari episentrum.
Kekuatan gempa di Aceh dua kali lipat lebih dibandingkan gabungan seluruh bahan 
peledak yang digunakan dalam Perang Dunia II, termasuk bom atom yang 
meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki.
Korban umumnya jatuh akibat tak adanya sistem peringatan tsunami di Samudra 
Hindia. Maka, tsunami Aceh harus menjadi pelajaran. Termasuk pentingnya 
memperhitungkan probabilitas gempa.
Menurut Tim 9, identifikasi sumber gempa melalui data seismisitas baik historis 
maupun instrumental, pemetaan sesar aktif, dan pemantauan deformasi kerak 
adalah 
aspek penting untuk diperhitungkan.
Ancaman gempa naik dua kali 

Dalam kerangka itulah, sejumlah ahli gempa mencoba melakukan revisi peta gempa 
Indonesia pada 2010.  Peta bahaya gempa terakhir dibuat pada 2002. Laporan 
terbaru itulah itulah diberi tajuk Peta Bahaya Gempa Indonesia 2010 
(Probabilitic Seismic Hazard Analysis Map).
Danny Hilman menjelaskan, peta ini berisi potensi bahaya gempa yang tersimpan 
di 
tiap daerah. Peta 2010 diklaim lebih baik dari 2002.  “Datanya lebih lengkap 
karena dari berbagai instansi. Sebelumnya data-data hanya berasal dari 
perorangan. Metode yang digunakan juga lebih bagus.”
Soal potensi gempa, menurut Danny, hampir semua kota di wilayah patahan aktif 
terancam. “Misalnya Padang, Banda Aceh, Surabaya, Malang, Semarang. Jumlahnya 
ratusan kota. Hanya pulau Kalimantan saja yang relatif aman dari gempa.”
Peta gempa ini akan digunakan sebagai bahan pertimbangan ketahanan bangunan. 
Penerapannya dilakukan Departemen Pekerjaan Umum (DPU) dalam hal kualitas 
bangunan.
“Kekuatan bangunan harus disesuaikan dengan besaran yang ada saat ini. Kalau 
dulunya ketahanan bangunan berdasarkan 0,15, sekarang kekuatannya harus 0,2. 
Semuanya sudah diperhitungkan, dan tiap individual bangunan sangat bervariasi.”
Bencana gempa dapat terjadi karena kegagalan menerapkan parameter bahaya 
(hazard) sesuai tingkat bahaya gempa bumi pada desain, konstruksi gedung, serta 
infrastruktur di wilayah tertentu.
Yang membuat agak cemas adalah hasil penelitian tim itu. Dikatakan, potensi 
gempa pada peta 2010 makin besar. “Sekitar dua kali lipatnya dibandingkan peta 
tahun 2002," kata Ketua Tim, Masyhur Irsyam.
Kenaikan 100 persen itu, kata Masyhur, terutama terjadi di dekat sumber gempa. 
"Di sekitar patahan, dan di sekitar sesar," ujarnya. Tim kemudian membandingkan 
tingkat guncangan di sejumlah kota pada peta 2002, dengan hasil riset 2010.
Di Aceh, tingkat guncangan meningkat dari 0,2 g (gravitasi) di 2002 menjadi 
0,33 
g pada 2010. Di Padang, dari 0,25 g menjadi 0,32 g. Di Pulau Jawa, tingkat 
goyangan meningkat dari 0,15 g menjadi 0,2 g.

"Namun ada juga yang tingkat goyangan menurun. Misalnya di Lampung, dari 0,25 g 
pada 2002 menjadi 0,2 g pada 2010," lanjut ahli gempa asal Insitut Teknologi 
Bandung ini.

Masyhur menjelaskan, pemantauan potensi gempa di Indonesia belum sepenuhnya 
tuntas. "Masih banyak sesar aktif atau pun patahan tua aktif yang belum dapat 
diidentifikasi di sekitar pulau Jawa dan Indonesia Timur.
Berhenti jadi ‘pemadam kebakaran’

Data terbaru itu layak membuat kita waspada. Tapi pakar manajemen krisis dari 
Sekolah Ilmu Pemerintahan John F Kennedy, Universitas Harvard, Arnold Howitt 
justru kaget saat melihat anggaran penanggulangan bencana yang dimiliki 
Indonesia.
“66 persen anggaran hanya untuk rekonstruksi. Seharusnya dana itu juga 
dialokasikan sebelum bencana terjadi,” kata Howitt dalam diskusi bertajuk 
‘Kepemimpinan dalam Pengelolaan Bencana. Mencari Formulasi untuk Indonesia’ di 
Kompleks Istana Negara, Jakarta, akhir Juni lalu.
Menurut Howitt, pola pikirnya harus berubah. Dari ‘pemadam kebakaran’, menjadi 
selalu siap siaga terhadap bencana.  “Data ini menunjukkan, ada kesalahan dalam 
mengalokasikan belanja,” dia menambahkan.
Dibandingkan Indonesia, Amerika Serikat lebih siap menghadapi bencana. Warga 
New 
Orleans, yang diterjang badai Katrina misalnya. Sebelum bencana terjadi mereka 
telah membangun dinding-dinding pelindung angin ribut.
Atau belajarlah dari Chile. Negeri itu pernah hancur diterjang gempa 9,5 SR 
pada 
1960. Tapi, kata Tim 9, negara ini cukup cerdas membuat peristiwa gempa itu 
sebagai pelajaran penting. Chile relatif siap.
Buktinya, saat gempa besar berkekuatan 8,8 SR kembali mengguncang Chile pada 
Februari 2010, dengan 512 kali getaran hebat, mereka bisa menekan jumlah 
korban. 
Hanya sedikit rumah yang hancur. Pemulihan jaringan komunikasi juga relatif 
cepat.
Coba bandingkan dengan Haiti. Negeri itu dihajar gempa 7 SR pada Januari 2010. 
Ratusan ribu jiwa melayang. Ribuan gedung hancur, dan proses pemulihan jaringan 
komunikasi berlangsung lama.
Rahasianya keselamatan itu sebetulnya sederhana: kebijakan soal standar 
bangunan.  “Undang-undang di Chile mengharuskan setiap bangunan memiliki 
konstruksi tahan gempa,” begitu uraian dari Tim 9.
Siapkah kita?
Direktur Kawasan Khusus dan Derah Tertinggal di Bappenas Dr. Suprayoga Hadi 
mengatakan pemerintah pusat sudah menyusun Rencana Nasional Penanggulangan 
Bencana (RNPB) dan juga Rencana Aksi Penanggulangan Bencana (Renas PB). 


“Ini sudah terencana dalam jangka 2010-2014,” ujarnya kepada VIVAnews. Termasuk 
di dalamnya adalah  kebijakan antisipasi 16 kategori bencana, baik bencana alam 
maupun buatan.
Untuk gempa, Suprayoga menjelaskan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral 
(ESDM) melalui Pusat Vulkanologi sudah menyiapkan rencana antisipasi bagi 
daerah 
yang tingkat kerawanannya tinggi. Rencana itu akan dibantu tiap pemerintah 
daerah terkait. 
Sesuai peta terbaru, gempa cenderung bergerak ke wilayah Barat Indonesia. 
Karenanya, diperlukan aturan ketat soal standar bangunan di wilayah itu.
“Implikasi terbitnya peta rawan gempa baru harus ditindaklanjuti dalam aturan 
penerbitan IMB di perkotaan. Izin mendirikan bangunan harus lebih ketat. 
Misalnya harus diterapkan kontsruksi bangunan tahan gempa 5-6 SR,” ujar 
Suprayoga.
Sumatera Barat dan Bengkulu mengambil langkah lebih maju. Untuk mengantisipasi 
gempa, daerah itu melakukan revisi rencana tata ruang wilayah (RTRW) Propinsi, 
dan juga peraturan daerah.
“Gempa pada 2007 dijadikan pijakan mereka, sehingga kawasan beresiko sangat 
tinggi dicegah mendirikan pemukiman. Jadi sangat diperhatikan wilayah yang ada 
patahan, dan pergeseran dengan kerawanan tinggi,” Suprayoga menambahkan.
Lalu, bagaimana dengan Jakarta? Menurut dia, bangunan Jakarta lebih banyak yang 
vertikal alias gedung jangkung yang menjulang. Selain harus memenuhi 
persyaratan, bangunan di Jakarta harus punya sistem evakuasi yang bagus.
“Harus ada rute yang jelas untuk evakuasi. Lalu sejauh mana fasilitas yang ada 
dapat berfungsi seperti tangga darurat, atau alarm lainnya. Agar tidak 
menimbulkan kepanikan saat terjadi bencana,” ujar Suprayoga.
Dia menyarankan, di Jakarta harus ada renovasi bangunan mengikuti kaedah rawan 
gempa. Antara lain memperkuat struktur gedung dengan penambahan tulang 
penyangga.
Sudah siapkah kita?

Kirim email ke