*Pemilu Migas* Gas Kalah Telak dari Minyak Tanah Minggu, 25 Juli 2010 | 17:47 WIB KOMPAS/WINDORO ADI Kompor minyak tanah alias kompor sumbu produk para perajin kompor di Cawang, Jakarta Timur, pada sebulan terakhir ini kebanjiran pembeli. Jika sebelumnya dalam sehari hanya mampu menjual satu sampai lima kompor sumbu, sebulan terakhir ini para perajin rata-rata bisa menjual belasan kompor, yang sebagian besar konsumennya adalah ibu rumah tangga.
*JAKARTA, KOMPAS.com* - Tidak hanya untuk memilih legislator, maupun presiden, ternyata pemilu juga bisa diadakan untuk menentukan apakah masyarakat lebih cenderung menggunakan bahan bakar minyak tanah atau gas untuk menghidupi kompor di rumah mereka. Hal itu seperti terjadi di Kecamatan Cipayung, Kelurahan Cipayung, Jakarta, Minggu (25/7/2010). Ratusan warga delapan RT di RW 2 Kecamatan Cipayung, mengikuti Pemilu Migas yang dilangsungkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera). Sama halnya dengan layaknya Pemilu Legislatif maupun presiden, dalam Pemilu Migas ini tersedia Tempat Pengambilan Suara (TPS), lengkap dengan petugas dan pengawasnya. Ratusan warga tampak antusias dan menjejali TPS yang terletak di Jl Cipayung Barat 1 RT 006 RW 02 No 17 Kelurahan Cipayung, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur sejak pukul 13.30 WIB, untuk menyampaikan aspirasi mereka dengan jalan mencontreng atau mencoblos hingga perhitungan hasil suara pada pukul 14.30 WIB. Setelah batas waktu pilih selesai, panitia pun mengumumkan hasil dari pemungutan suara yang berlangsung kurang lebih selama satu jam tersebut. Dari hasil pemungutan suara 100 orang, sebanyak 86 orang memilih menggunakan minyak tanah, sementara hanya 12 orang yang memilih menggunakan gas. Dua orang lainnya dianggap tidak sah suaranya karena surat suara mereka dicoblos dengan tidak sah. "Dari 102 orang, ternyata 86 orang memilih menggunakan minyak tanah," ujar anggota DPR RI, Nursuhud yang menjadi saksi dalam Pemilu Migas tersebut. Ditemui setelah Pemilu Migas selesai dilangsungkan, Nursuhud menuturkan, hasil yang diperoleh dalam Pemilu Migas hari ini, merupakan gambaran umum masyarakat Indonesia secara keseluruhan, yang cenderung lebih memilih minyak tanah bila dibandingkan gas. "Berdasarkan pengamatan kami, masyarakat tidak akrab dengan gas, karena tidak sesuai dengan tradisi, selain itu minyak tanah dari segi keamanan jauh lebih aman bila dibandingkan gas. Selama 20 tahun di Jakarta, kasus kompor minyak tanah meledak tidak ada satu persen dari jumlah kasus kompor gas meledak, karena itu masyarakat lebih cenderung memilih minyak tanah dibandingkan dengan gas," tutupnya. (*Tribunnews.com/Samuel Febriyanto*) web: http://megapolitan.kompas.com/read/2010/07/25/17474068/Gas.Kalah.Telak.dari.Minyak.Tanah-8 2010/7/25 mh <[email protected]> > Partai Minyak Tanah Favorit, Gas Dicemooh > > Minggu, 25 Juli 2010 | 16:34 WIB > > *TEMPO Interaktif*, *Jakarta* - Partai minyak tanah keluar sebagai > pemenang dalam pemilihan bahan bakar yang diadakan di Cipayung Barat, > Jakarta Timur. Dari 100 warga yang terdaftar dalam pemilihan, sebanyak 86 > suara memilih minyak tanah sebagai favorit bahan bakar mereka. Sementara gas > tabung 3 kilogram hanya mendapatkan 12 suara, dan 2 suara tidak sah. > >
