Artikel ieu sae pisan kang Oman. Nuhun tos di forward ka dieu.

--- In [email protected], oman abdurahman <omana...@...> wrote:
>
> Baraya,
> 
> Hiji carita nyata jaman ayeuna di handap ieu ditumbu-lokakeun ka milist lain
> rek promosi buku anu disebut-disebut dina ieu carita, teu pisan-pisan maksud
> kadinya. Maksud forward ieu carita taya lian nepikein runtuyan carita
> sagemblengna anu mere hiji gambaran kumaha hirup anu teu kudu silih hina
> sumawonna silih tarajang dina imah aneka agama sakumaha kanyataan di
> Indonesia. Hirup dina jero pluralitas bisa oge dieusian ku cara damai, pinuh
> katengtreman jeung pangalaman spirtual. Mudah-mudahan ku carita ieu aya
> gambaran kumaha kuduna masyarakat KW-1 teh :).
> 
> Nyanggakeun.
> 
> manar
> 
> ---------- Forwarded message ----------
> From: Ahsa <ahmadsahi...@...>
> Date: 2010/7/27
> Subject: Re: [altanwir] Cinta Pengikut Yesus kepada Muhammad
> To: [email protected]
> 
> 
> 
> 
> catatan bagus dan mengugah kesadaran.
> 
> Pada 27 Juli 2010 14:10, <[email protected]> menulis:
> 
> >
> >
> >
> > (Testimoni untuk Fahd Djibran, Tasaro GK, dan Sang Penggenggam Hujan:
> > Sebuah Novel tentang Muhammad)
> >
> > Setiap manusia bertanggung jawab pada segala hal yang dipahaminya dalam
> > level teori; cinta dan hal beriman kepada Tuhan. Setiap hari pikiran manusia
> > menumpuk berbagai konsep tentang cinta dan Tuhan. Kita tak pernah lelah
> > menganalisa kejadian demi kejadian yang kita alami, menjadi hakim atasnya
> > yang dengan sesuka hati memutuskan mana yang salah dan mana yang benar, mana
> > yang seharusnya terjadi dan mana yang tidak perlu terjadi. Cinta dan Tuhan
> > pun kemudian menjadi sesuatu yang berbeda dalam setiap kepala. Keduanya
> > memang tak perlu sama. Saya punya konsep dan teori sendiri yang mungkin
> > berbeda dengan yang anda miliki, demikian sebaliknya.
> >
> > Ribuan bahkan mungkin jutaan buku sudah dan sepertinya tetap akan ditulis
> > sebagai dedikasi untuk cinta dan Tuhan. Hingga saat ini, bahkan kelak jika
> > ramalan Nostradamus tentang kiamat 2012 terbukti benar, kedua hal itu
> > sepertinya tetap akan menjadi sesuatu yang tidak bisa digeneralisasi.
> > Sesuatu yang tidak bisa dikalimatkan dalam satu konfigurasi kata-kata
> > absolut yang disepakati bersama oleh semua kepala yang pernah merumuskannya.
> >
> > Saya seorang Kristen; pengikut Yesus yang mengimani Dia sebagai manusia
> > dengan citra Tuhan seutuhnya. Butuh semua keberanian dan ketulusan hati yang
> > saya punya untuk menuliskan kalimat itu. Beberapa tahun belakangan bahkan
> > hingga detik ini, saya masih hidup dalam pergumulan dengan itu. Mengimani
> > Yesus sebagai inkarnasi Tuhan. Tak jarang saya bahkan mengingkari dan
> > menafikanNya sementara tanpa tak kenal malu saya selalu mengatakan `Kristen'
> > ketika ada yang menanyakan agama yang saya anut.
> >
> > Ketika mendengar Islam, tahukah anda apa yang muncul di kepala saya? Dengan
> > segenap kejujuran saya mengatakan bahwa `poligami', `terorisme', `puasa yang
> > dipamer-pamerkan', `jihad', dan `azan yang mengganggu tidur siang' adalah
> > imej yang selalu saya kaitkan dengan Islam. Sebuah agama yang menganggap
> > kami, orang Kristen, sebagai kaum kafir calon penghuni neraka. Ini membuat
> > saya agak takut bergaul dengan kaum Muslimin. Namun, saya yakin ada yang
> > salah dalam pemikiran saya. Saya mengamini bahwa semua agama mengajarkan
> > kebaikan, namun saya harus jujur mengatakan bahwa Islam yang saya tahu tidak
> > seperti itu.
> >
> > Beberapa bulan yang lalu, saya mendatangi seorang Muslim di Yogyakarta.
> > Saya mengenal pemikiran-pemikirannya lewat sebuah blog. Dengan sedikit
> > nekat, saya menawarkan untuk janjian bertemu. Di sebuah café, kami mengobrol
> > santai selama dua jam lebih. Dan tahukah anda apa yang saya rasakan saat
> > itu? Saya kesulitan menjelaskannya secara rinci. Ketika menceritakannya
> > kepada beberapa kawan Kristen saya, mereka malah menganggap saya sedang
> > berencana menjadi mualaf. Kami membincangkan banyak hal tentang Tuhan;
> > Kristen dan Islam. Saya mengajukan protes tentang beberapa ajaran Islam yang
> > membuat saya tidak nyaman. Bukan bantah-bantahan bukan pula debat kusir yang
> > kemudian terjadi, saya malah (alhamdulillah) mendapatkan begitu banyak
> > konfirmasi yang menyamakan persepsi yang semula keliru. Trinitas menjadi
> > kongruen dengan Nur Muhammad. Saya melihat iman Kristen melalui penjelasan
> > Islami. Menurut beliau, Islam adalah berserah. Bagi saya, itu tidak ada
> > bedanya secara esensi dengan Kristen yang saya pahami; saya adalah manusia
> > berdosa dan membutuhkan seorang Juruselamat untuk mendapatkan keselamatan.
> > Dan itu sudah diberikan Tuhan lewat pengorbanan Kristus di kayu salib. Anda
> > boleh tidak percaya, tapi ketika berbincang tentang Tuhan dengan beliau,
> > saya melihat pendaran cahaya halus membungkus tubuhnya.
> >
> > Beberapa bulan kemudian, lewat sebuah cara yang sangat tidak lazim dan
> > hingga kini kadang masih tidak saya sangka, saya berkenalan dengan seorang
> > Muslim yang lain. Sekalipun saya sudah mendapat `pencerahan' lewat diskusi
> > dengan Fahd Djibran di Yogyakarta tentang Islam, tetap saja saya masih punya
> > keberatan-keberatan tentang Islam. Muslim dari dunia maya ini kemudian
> > menjadi seseorang di mana saya bercermin; guru, sahabat, motivator,
> > sekaligus saudara kembar non-biologis. Dengannya, saya menggila. Deretan
> > caci maki dan umpatan kasar saya berikan padanya, bahkan ketika
> > membincangkan agama kami masing-masing. Anda tahu reaksinya seperti apa?
> > Beliau memeluk saya hingga remuk. Suatu malam di Bandung – mungkin salah
> > satu durasi singkat di mana saya berada dalam kondisi paling sadar sepanjang
> > hidup saya – saya hanya sanggup berbahasa dalam isak tangis dan derai tawa
> > yang silih berganti. Kemanusiaan saya terasa sungguh tak ada artinya. Saya
> > merasa ada sesuatu – entah Apa entah Siapa – yang hadir. Beliau memegang
> > pundak saya dan berkata, "Kamu melihat Yesus, bukan?" Saat itu, sekujur
> > tubuh saya merinding dalam kebahagiaan yang tak terkira, hanya sanggup
> > terespon berupa isak tangis yang makin menjadi-jadi. Lirik lagu Amazing
> > Grace saya lantunkan dalam melodi yang tidak karuan, tumpang tindih dengan
> > isak tangis yang sangat tidak harmonis. Seorang muslim menunjukkan kepada
> > saya bahwa Yesus itu benar-benar ada.
> >
> > Saat ini, `cermin' itu, Tasaro GK, sedang menulis sebuah buku. Saya sungguh
> > terhormat mendapat kesempatan membaca draft awalnya dan sedikit-sedikit
> > menjadi editor dadakan meski hanya sekadar mengedit kata-kata yang salah
> > ketik. Muhammad, seorang Nabi yang kehadiranNya dinubuatkan oleh kitab suci
> > agama-agama lain termasuk Kristen. Membacanya membuat saya lebih mengenal
> > Muhammad, seorang suami bagi beberapa istri. Konsep poligami yang saya
> > pahami sebelumnya berubah total. Ajaran tentang `kasihilah musuhmu' yang
> > dulu setahu saya hanya ada dalam Kristen, ternyata juga ada dalam Islam.
> > Saya mengetahuinya lewat novel itu. Sebagi sebuah novel, buku ini tidak
> > lepas dari keindahan alur cerita dan kejutan-kejutan yang menurut saya
> > pribadi sebaiknya ada di setiap novel. Namun, yang lebih bermakna dari itu
> > adalah saya lebih nyaman memelajari Islam yang dikemas dalam bentuk novel
> > dibandingkan dengan membaca buku-buku tentang Islam lainnya dalam format
> > yang berbeda.
> >
> > Mengenal kedua orang di atas adalah anugerah yang luar biasa bagi saya.
> > Saya bisa memelajari Islam tanpa perlu merasa sedang di-Islamkan. Membaca
> > `Sang Penggenggam Hujan' adalah kebahagiaan tak terhingga bagi saya. Saya
> > dikenalkan dengan Muhammad tanpa harus menafikan ke-Tuhanan Yesus. Saya
> > mengamini kalimat Syahadat tanpa perlu meragukan kebenaran Pengakuan Iman
> > Rasuli.
> >
> > Mungkin ada yang akan bertanya, kenapa tidak masuk Islam? Jika ada, saya
> > akan balik bertanya, kenapa harus masuk Islam? Masalah beragama bagi saya
> > adalah soal kenyamanan. Hingga saat ini, saya masih sangat nyaman dengan
> > Kristen. Dan, berbicara tentang kenyamanan, adakah standar umum yang bisa
> > dipakai? Saya kira tidak ada. Kenyamanan sangat subjektif. Mungkin terlalu
> > naïf jika alasan saya belum berpikiran untuk pindah agama adalah karena saya
> > masih merindukan Natal yang syahdu, masih sering merinding mendengar dan
> > menembangkan sendiri kidung puji-pujian bagi Yesus. Semoga itu cukup.
> >
> > Iman tanpa perbuatan adalah sia-sia. Begitu pula dengan teori tanpa
> > praktik. Saat ini, sebagian besar keimanan saya masih ada dalam fase teori,
> > masih jauh dari ranah praktis. Butuh keberanian bagi saya untuk menuliskan
> > testimoni ini. Sebuah `tantangan' bagi saya untuk berhenti mengonsep dan
> > lebih banyak berbuat. Kadang terbersit dalam pikiran saya untuk berhenti
> > menumpuk teori. Lebih baik tidak tahu daripada tahu tapi tidak sanggup
> > mempraktikkannya. Namun, sepertinya kita tidak bisa memilih untuk itu.
> > Masalahnya bukan bagaimana menolak semua teori masuk ke dalam kepala,
> > melainkan bagaimana teori yang ada dalam kepala kita mewujud dalam kehidupan
> > nyata lewat kata-kata, pikiran, dan perbuatan.
> >
> > Testimoni ini pun adalah teori, sebuah konsep yang ada dalam kepala saya.
> > Menuliskannya tidak bermaksud untuk menunjukkan bahwa saya tahu sesuatu,
> > entah apa itu. Kekristenan saya masih jauh dari citra Kristen yang
> > sesungguhnya. Entah darimana saya mendapatkan keberanian untuk memelajari
> > agama lain sementara agama saya sendiri belum saya amalkan dengan baik.
> > Membandingkan Islam dengan Kristen tidak saya lakukan untuk mencari mana
> > yang lebih benar. Saya hanya ingin lebih bisa toleran terhadap Islam, juga
> > agama dan kepercayaan yang lain. Semoga tidak ada yang salah dengan setiap
> > pencarian yang saya lakukan. Lewat testimoni ini, saya ingin mengekspresikan
> > ungkapan syukur saya kepada hidup yang secara tidak kebetulan sudah
> > mengenalkan saya dengan Fahd Djibran, Tasaro GK dan `Sang Penggenggam
> > Hujan'.
> >
> > -Rampa Maega-
> > Sebuah tempat di rimba Kalimantan.
> >
> >
> 
> 
> -- 
> *www.ahmadsahidin.wordpress.com*
>




------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke