Pemindahan Ibu Kota Jangan di Jabodetabek

JAKARTA, (PR).-
Pemindahan ibu kota negara dari Jakarta Raya ke tempat lainnya, sebaiknya
tidak dilakukan di sekitar Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi
(Jabodetabek). Sebab, pemindahan itu tidak akan bertahan lama.

"Memindahkan ibu kota ke sekitar Jakarta, tidak akan menyelesaikan masalah
untuk jangka panjang. Lingkungan sudah tidak mencukupi untuk dikembangkan
lagi. Jakarta sendiri dan daerah pinggirannya akan semakin menarik banyak
orang, karena ketimpangan pembangunan itu sendiri," ujar Kepala Lembaga
Demografi Universitas Indonesia Sonny Harry pada dialog kenegaraan bertajuk,
"Urgensi Pemindahan Pusat Pemerintahan ke Kota Selain Jakarta", di Gedung
DPD RI, Rabu (4/8) bersama John Piries anggota DPD RI.

Dikemukakan, pemindahan ibu kota harus memilih lokasi yang tepat. "Kalau
pindah di sekitar Jakarta hanya akan bertahan dalam waktu pendek, karena
memindahkan masalah Jakarta ke tempat yang dekat. Jabodetabek sudah sangat
padat. Sekitar 56 persen penduduk Indonesia sudah tinggal di Jawa," kata
Sonny.

Ia mengakui bahwa biaya perpindahan sangat mahal. Akan tetapi, manfaat yang
diperoleh juga sangat besar. Mengatasi kerugian akibat kemacetan dapat
menjadi momentum, untuk mendorong persebaran penduduk dan manfaat
pembangunan yang lebih merata, sehingga berguna untuk menghindari
pembangunan yang bersifat enclave.

Perpindahan ini, katanya, juga dapat menjadi momentum meningkatkan persatuan
dan kesatuan bangsa, menjadi momentum untuk memperbaiki iklim investasi
nasional, juga untuk mengurangi risiko bagi Indonesia secara keseluruhan
akibat menumpuknya aktivitas di Jakarta.

Dikatakan, Jakarta dulu dipilih menjadi ibu kota karena letaknya sebagai
gerbang masuk ke Pajajaran, sehingga dapat dikatakan ini terjadi secara
alamiah. "Kini, Jakarta semakin berkembang. Meskipun terlihat berkembang
pesat, kenyataannya pertumbuhan penduduk Jakarta relatif stabil. Pada 1995
kepadatan penduduk di Jakarta sebesar 11.413 jiwa per km persegi dan 2007
sebesar 11.499 jiwa per km persegi. Artinya, pertumbuhan kepadatan selama 12
tahun hanya 0,75 persen," ujar Sonny.

Sementara kepadatan Bodetabek meningkat drastis dengan pertumbuhan kepadatan
67 persen. "Dari 1.690 pada 1995 menjadi 2.823 pada 2007. Inilah salah satu
faktor yang menyumbangkan masalah. Kalau mereka beraktivitas di pinggiran
saja tidak masalah, tapi ini kan beraktivitas di Jakarta juga," kata Sonny.

Kini, jumlah penduduk Jakarta berdasarkan perhitungan pada 2009 sejumlah 8,9
juta jiwa dan di wilayah Bodetabek sekitar 16,5 juta. "Kalau ditotal, ini
jumlah yang sangat besar. Jakarta ini sudah terlalu berat bebannya," kata
Sonny selanjutnya.

Pertumbuhan penduduk di pinggiran Jakarta sangat drastis, karena beberapa
hal yaitu membaiknya infrastruktur yang menghubungkan Jakarta dengan daerah
di sekitarnya, mahalnya harga tanah, terbatasnya lahan kosong di pusat kota,
berkembangnya aktivitas ekonomi di daerah pinggiran, dan fenomena urban
sprawl. "Dalam ekonomi ini disebut Suburbanisasi," ujar Sonny.

Anggota DPD RI John Pieris, memberikan beberapa persyaratan terkait
pemindahan ibu kota. Ibu kota bisa di mana saja, asalkan jangan dibebani
dengan permasalahan pembangunan, yang dapat mengganggu ketenangan
pengambilan keputusan politik tingkat tinggi.

Bagi Piries, untuk konsep ideal harus dipikirkan kepentingan negara dan
tidak boleh disibukkan dengan berbagai kesibukan yang kontraproduktif.
"Jakarta sudah tidak pas lagi menjadi ibu kota negara atau kota pemerintah,"
kata Jhon. (A-109)***

web:
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=151548


2010/8/4 mh <[email protected]>

> ceuk mas achmad urang jabar, dki, jeung banten bakal ngarasa rugi, mun
> ibukota pindah ti jakarta pindah ka palangka.
> naha enya ngan urang jabar, banten, jeung dki nu ngarasa dirugikeun? atawa
> ukur tudingan mas achmad, neumbleuhkeun ka urang jabar?
>
> Pemindahan Ibu Kota Cenderung Direspon Negatif
> Selasa, 03/08/2010 - 16:35
>
> YOGYAKARTA, (PRLM).-Gagasan pemindahan ibu kota keluar dari Jakarta
> diperkirakan cenderung direspon negatif oleh pihak-pihak berkepentingan di
> DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Pertimbangannya pemindahan ibu kota
> bisa menjauhkan akses politik kawasan tersebut.
>
>
>

Kirim email ke