Mengakrabi Kedamaian Gunung Wayang

Jika Anda merasa penat dengan kebisingan dan kesemrawutan kota, puncak
gunung merupakan obat yang tepat untuk mengatasinya. Cobalah nikmati setiap
embusan anginnya, cobalah lihat lereng-lereng gunung yang terhampar seperti
permadani berwarna hijau, cobalah dinginnya kabut gunung yang turun
perlahan, niscaya perlahan rasa penat itu akan perlahan tergantikan oleh
perasaan damai dan lega. Puncak Gunung Wayang bisa menjadi salah satu dari
tempat yang dimaksud tersebut.

Secara administratif Gunung Wayang berada di Desa Tarumajaya Kecamatan
Kertasari Kabupaten Bandung. Jika menggunakan kendaraan pribadi tempat ini
bisa ditempuh selama kurang lebih selama empat jam dari pusat Kota Bandung,
sedangkan dengan kendaraan umum bisa jadi jarak tempuhnya menjadi empat jam.
Posisi Gunung Wayang diapit oleh beberapa gunung. Di sebelah selatan
berbatasan dengan Gunung Malabar, sebelah barat berbatasan dengan perbukitan
Arjasari, sebelah timur berbatasan dengan Gunung Papandayan dan sebelah
utara berbatasan dengan wilayah Majalaya.

Sampai di Kaki Gunung Wayang, terlihat kebun teh menghampar luas. Sangat
menyegarkan. Namun sayang di beberapa sudut, terutama yang berdekatan dengan
tempat tinggal penduduk, pohon-pohon teh sudah diganti dengan tanaman
kentang dan wortel yang merupakan tanaman komoditas masyarakat Kertasari.
Sejenak pemandangan tersebut mengajak memori penulis untuk mengingat kembali
cerita-cerita novel sunda berlatar perkebunan teh yang indah, tetapi selalu
dibenturkan dengan nasib pegawai perkebunan yang tidak pernah beranjak
mapan. Dan realita yang ada di novel itu betul-betul dirasakan oleh penulis
ketika itu.

**

Perjalanan dilanjutkan dengan medan yang menanjak. Bagi pendaki pemula hal
ini sangat merepotkan. Napas cepat tersengal dan kaki pun tidak bisa
melangkah cepat. Setiap lima puluh meter perjalanan terpaksa selalu terhenti
untuk istirahat. Akan tetapi rasa lelah tersebut selalu cepat usai ketika
pandangan diarahkan jauh ke depan. Semakin tinggi jarak yang ditempuh
ternyata pemandangan hijau menghampar semakin terlihat jelas. Petak-petak
palawija terlihat tersusun begitu rapi dengan warna hijau yang seragam. Di
sebelah timur tampak terlihat hamparan hijau kebun teh seperti permadani
yang terhampar luas, selain itu tampak pula kompleks perumahan pegawai
perkebunan yang terlihat rapi dan seragam dalam beberapa blok. Rasa penat,
bising suara kendaraan telah tergantikan perlahan. Napas yang tersengal pun
kembali beranjak normal.

Rute pendakian selanjutnya semakin menanjak, kami akan segera memasuki area
hutan Gunung Wayang. Hutan Gunung Wayang merupakan hutan dengan vegetasi
yang padat. Jarak antara tanaman yang satu dengan lainnya sangat dekat.
Selain itu usia pepohonannya berusia lebih dari dua puluh tahun. Hal ini
terlihat dari lumut yang menyelubungi hampir semua kulit pepohonan tersebut.

Selain pohon yang telah uzur, vegetasi lain adalah semak belukar yang
didominasi cucuk leuweung (duri hutan) yang bergelantungan di dahan pohon.
Cucuk leweung ini cukup merepotkan perjalanan karena durinya sering menancap
pada kulit lengan. Rasa gatal yang susah hilang akan segera dirasakan ketika
cucuk leuweung tersebut menancap di kulit.

Di tengah vegetasi hutan yang rapat, hamparan hijau kebun teh serta
blok-blok perumahan pegawai perkebunan tidak bisa lagi terlihat. Yang bisa
kami lihat hanyalah daun-daun serta dahan-dahan pohon yang hijau serta di
selubungi lumut yang juga berwarna hijau. Suasana sunyi dan damai sering
kali langsung menyergap ketika beristirahat.

Setelah sejenak beristirahat perjalanan dilanjutkan kembali. Belum juga satu
langkah ditempuh, dari kejauhan terdengar lantunan azan dari kampung yang
berada jauh di bawah. Langkah kami pun segera dihentikan untuk mendengarkan
azan tersebut. Suasana tiba-tiba menjadi sangat hening, kami semua tidak
sedikitpun mengeluarkan kata-kata. Ketika itu, penulis sendiri merasakan
bahwa manusia memang betul-betul tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan
kekuasaan Tuhan. Sering kali kita menyombongkan diri dan takabur dengan apa
yang telah kita lakukan dan dapatkan. Di tengah hutan yang lebat, suara azan
begitu syahdu.

Azan pun telah selesai, perjalanan segera berlanjut. Hutan dengan vegetasi
yang rapat masih harus kami lalui. Langkah terasa semakin berat. Rute jalan
rupanya semakin menanjak. Di kanan kiri tampak beberapa jenis jamur tumbuh
setinggi sendok makan. Selain jamur, lumut-lumut yang berwarna hijau tua
tampak menyelimuti hampir setiap pohon yang kami lalui. Semakin menanjak
udara terasa semakin sejuk. Akan tetapi tetap saja rasa lelah selalu cepat
menderu. Kembali semua harus berhenti sejenak untuk beristirahat. Perbekalan
makanan ringan yang dibeli dari warung di perkampungan di bawah belum juga
kami sentuh, hanya air putih saja yang dari tadi kami nikmati. Air minum
menjadi menu utama ketika itu.

**

Rute perjalanan kembali semakin menanjak. Akan tetapi vegetasinya tidak
terlalu rapat. Kali ini ada semilir angin yang perlahan menyapa kulit kami.
Di tengah kondisi tubuh yang sedang dibanjiri keringat dingin, embusan angin
tersebut cukup menyegarkan juga mebuat kami lebih dingin kami tetap
melangkah.

Angin masih tetap berembus ketika kami melanjutkan langkah kaki kami, tetapi
bukan hanya embusan angin saja yang menyapa kulit. Dari atas kepala kami
cahaya matahari yang tidak terlalu terik menyapa dengan begitu hangat.
Apakah kita sudah sampai di puncak Gunung Wayang? Itu pertanyaan penulis
kepada diri sendiri.

Belum juga pertanyaan itu terjawab, Irman salah seorang anggota OSIS yang
selalu berada di depan berteriak kepada kami, "Kita sudah sampai! Ini puncak
Gunung Wayang Pak!" Mendengar suara itu kami pun bergegas menghampiri Irman,
dan betul saja apa yang dikatakan Irman. Kami sekarang berada pas di puncak
Gunung Wayang. Dan sungguh aneh tiba-tiba seluruh rasa lelah yang sejak tadi
mendera, dalam sejenak hilang entah ke mana. Rasa lelah yang mendera
tersebut perlahan tergantikan oleh rasa takjub melihat pemandangan yang
terbentang luas sejauh mata memandang.

Di perut Gunung Malabar terlihat hamparan hijau kebun teh tampak seperti
permadani hijau yang di hiasi oleh kabut-kabut tipis berwarna putih awan,
dan yang lebih menariknya lagi, kabut tipis tersebut perlahan menghampiri
setiap petak kebuh teh secara bergiliran. Jadilah semua hamparan kebun teh
tersebut dilewati oleh kabut tipis tersebut tanpa kecuali. Selain kabut
tipis, pemandangan yang tak kalah menarik, di perut Gunung Malabar terlihat
seperti ada selang-selang kecil berwarna putih yan menempel di tanah.
Setelah dilihat lebih jelas ternyata selang-selang tersebut merupakan
selang-selang yang berisi gas alam yang berasal dari perut bukit.

Selang-selang tersebut mengalir dari dalam bukit menuju tempat pengolahan
gas alam di kaki gunung Malabar. PT Star Energy merupakan perusahaan tempat
dimana gas alam tersebut di olah menjadi energi. Dari kejauhan tampat asap
putih selalu mengalun keluar dari kurang lebih lima cerobong besar. Terus
terang saja, hal ini membuat kami enggan segera beranjak dari tempat ini.

Sejenak setelah melihat pemandangan tersebut, pandangan kami arahkan
kesebelah timur. Kali ini bukan hamparan teh yang kami lihat, melainkan
jejeran pegunungan yang berada di wilayah Garut selatan. Kami tidak tahu
persis seluruh nama gunung yang berjejer tersebut, kami hanya mengetahui
pasti satu nama gunung yaitu Papandayan.

Gunung ini menjadi populer di mata kami karena memang gunung tersebut juga
mempunyai pemandangan yang indah, dan juga konon katanya di puncak Gunung
Papandayan tumbuh bunga edelweis yang tak pernah layu itu. (Aang Kusmawan,
guru ekonomi di MA Sukasari Kec. Kertasari Kabupaten Bandung)***

web:
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=151563

Kirim email ke