ceuk beja di handap, cenah angklung mimiti kedeseh,

“Sejak jaman pemerintahan Soeharto hingga Megawati, angklung menjadi acara
khusus kenegaraan yang harus ditampilkan di Istana Merdeka. Tapi kini,
angklung tidak lagi menjadi bagian dari acara kenegaraan, demikian pula pada
acara-acara di lingkungan pemerintah daerah,” ujar Dede.

cing sugan aya nu apal, ari pemda jabar kiwari mun aya acara sok nanggap
naon? tagoni, genjring, atawa gambusan? hehehe

Pamor Angklung Kian Memudar
Selasa, 10/08/2010 - 02:28
  [image: DOK. "PRLM"]
DOK. "PRLM"
PERAJIN membuat angklung di Saung Angklung Udjo (SAU), Jln. Padasuka Kota
Bandung.*

BANDUNG, (PRLM).- Pemerintah dan masyarakat sama-sama telah berbuat khilaf
melupakan kewajiban menjaga warisan leluhur. Harus dilakukan upaya nyata
antara pemerintah dan masyarakat dalam menyelamatkan kekayaan budaya yang
mulai diakui negara lain.

Dikatakan Theresia E.E. Pardede, S.Sos, anggota Komisi X DPR RI, bahwa klaim
negara lain maupun kurang diminatinya sejumlah seni budaya yang merupakan
warisa leluhur sepenuhnya bukan hanya kesalahan pemerintah. “Peristiwa yang
kini sedang terjadi dan akan terus terjadi merupakan perbuatan khilaf kita
bersama, baik pemerintah maupun masyarakat sendiri,” ujar Theresia, yang
dikenal dengan panggilan Tere, pada diskusi “Angklung is Indonesia”
bertempat di Gedung Indonesia Menggugat, Senin (9/8).

Di Indonesia, menurut Tere, pemerintah sudah menerbitkan Undang-undang No.
19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, namun dalam prakteknya masih banyak
pelanggaran yang terjadi. Hingga saat ini karya seni budaya yang merupakan
warisan maupun kekayaan milik negara serta karya-karya seniman dan budayawan
belum dihargai sebagaimana mestinya.

Berkenaan dengan keberadaan alat musik angklung, Tere mengajak masyarakat
maupun komunitas angklung untuk bersama-sama memiliki komitmen. “Komitmen
yang harus ditumbuhkan adalah sama-sama untuk saling menjaga dan
melestarikan,” ujarnya.

Sementara Handiman, salah seorang praktisi musik angklung yang juga murid
dari almarhum Daeng Soetigna, mengatakan bahwa mundurnya pamor angklung
dimasyarakat dikarenakan bergesernya fungsi dari angklung sendiri. “Dulu,
saat pertamakali almarhum (Daeng Soetigna) mengajarkan angklung kepada para
guru maupun calon guru bertujuan untuk sarana belajar, berbeda dengan
sekarang angklung lebih dititikberatkan sebagai sarana hiburan dan
pegelaran,” ujar Handiman.

Hal senada dikatakan praktisi angklung lainnya, Deden, yang mengatakan bahwa
fungsi angklung saat ini sudah merupakan sebagai sarana hiburan. Namun meski
demikian kepedulian terhadap angklung masih sangat minim dan angklung masih
dipandang sebagai kesenian tradisional.

“Sejak jaman pemerintahan Soeharto hingga Megawati, angklung menjadi acara
khusus kenegaraan yang harus ditampilkan di Istana Merdeka. Tapi kini,
angklung tidak lagi menjadi bagian dari acara kenegaraan, demikian pula pada
acara-acara di lingkungan pemerintah daerah,” ujar Dede.

Kondisi-kondisi yang terjadi saat ini, baik yang diciptakan pemerintah
maupun masyarakat, menurut Satria Januar Akbar, selaku penggiat kesenian
angklung, menjadikan kesenian angklung semakin tersisihkan. “Jadi bila ada
pihak lain yang mengklaim sangatlah wajar karena kita sendiri kurang
memiliki kepedulian,” ujar Satria. (A-87/das)***

web: http://www.pikiran-rakyat.com/node/119608

Kirim email ke