PANUJU ... SAPUK ... LOGIS ... JITU, kang YANI nyaeta sipating jalama sok wae ngaHAKIMAN dgn mengatas namakan HUKUM agama ... dikaitkeun ka ALLAH swt... naha bener ALLAH nangtoskeun hukuman kitu ?????????? Ssabatae ...
________________________________ From: MRachmat Rawyani <[email protected]> To: [email protected] Sent: Tue, August 10, 2010 10:26:42 AM Subject: Re: [kisunda] fatwa ti PP PERSIS perkawis mayit koruptor Kuring jadi emut kana film anu diputer salah sahiji stasiun televisi, dua dinten kalangkung. Judulna teh 'Perempuan Berkalung Sorban'. Dina film eta teh digambarkeun aya hiji anak awewe, anu bade dihukum rajam pedah rantang-runtung sareng lalaki lain muhrim (ngan sakadar sangkaan). Pas bade dirajam (dibaledogan batu) aya ibuna anu nyandak batu, nantang ka sadaya jalma anu aya didinya, "yeuh batu, sok baledogkeun ka anak kuring lamun maraneh teu ngarasa boga dosa atawa ngarasa pangsucina?" Teu aya saurang oge anu narima tantangan eta. Naon pakaitna sareng nyalatkeun janazah koruptor? Atawa nyalatkeun mayit teroris? Ceuk kuring mah, ku aya landihan koruptor/teroris wae geus hiji hukuman sosial anu beurat pikeun kulawargana. Ny kitu oge hukuman ti nagara. Komo deui engke jaga di akherat, hukuman Allah leuwih beurat. Maksad tulisan kuring ieu, kadang-kadang urang teh sok ngahakiman batur 'ngaleuleuwihi' , didasaran ku argumen-argumen atanapi dalil ajaran agama. baktos, mrachmatrawyani ________________________________ From: Ahmad Sahidin <ahmadsahidin@ ymail.com> To: altan...@yahoogroup s.com; kisu...@yahoogroups .com Sent: Mon, August 9, 2010 3:01:32 PM Subject: [kisunda] fatwa ti PP PERSIS perkawis mayit koruptor Tokoh Agama tak Boleh Salatkan Jenazah Koruptor SOREANG, (PR).- Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis) mengeluarkan fatwa agar para tokoh agama dan tokoh masyarakat tidak menyalatkan jenazah pelaku dosa besar. Di antaranya koruptor, orang yang bunuh diri, meninggal akibat minuman keras, ber-zina, dan pemimpin yang menzalimi rakyatnya. Hal itu dikemukakan Ketua Umum PP Persis Prof. Dr. K.H. M. Abdurrahman, ketika membahas masalah-masalah aktual di Hotel Antik Soreang, Minggu (8/8). Acara tersebut dihadiri para pengurus Dewan Hisbah PP Persis. Masalah lain yang dibahas pada acara itu antara lain hukum salat malam lebih dari sebelas rakaat, terlambat salat Id dan salat gerhana, serta tawaf saat masih berhadas. Menurut Abdurrahman, ajaran Islam mengenal adanya dosa-dosa besar minimal sebanyak tujuh puluh jenis. Dosa-dosa besar itu antara lain syirik, membunuh, sihir, meninggalkan salat, tidak membayar zakat, tidak puasa tanpa sebab syara, tidak berhaji meski mampu, dan durhaka kepada orang tua. "Dosa besar juga bagi perilaku korupsi, zina, homoseks, memakan harta anak yatim piatu, pemimpin yang menzalimi rakyatnya, ataupun meminum minuman keras," katanya. Abdurrahman mengatakan, fenomena bunuh diri ataupun membunuh orang lain, zina, dan korupsi semakin marak. "Ketika kehidupan semakin sulit, dengan mudahnya seseorang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Padahal, bunuh diri termasuk dosa besar," ujarnya. Bahkan, zina dianggap hal yang bukan tabu lagi malah disiarkan di berbagai media massa, seperti yang dilakukan artis terkenal. "Demikian pula dengan suap, mengurangi timbangan, sumpah palsu, dan memakan barang haram, sudah tidak begitu dipedulikan kaum Muslimin," katanya. Terhadap umat Islam yang melakukan dosa-dosa besar selama hidupnya, kata Ustaz Abdurrahman, tokoh agama seperti ulama dan ustaz tak perlu menyalatkannya ketika meninggal dunia. Tokoh masyarakat ataupun orang yang memiliki kedudukan khusus juga tidak perlu ikut menyalatkan. "Biarlah masyarakat biasa yang menyalatkan jenazah pelaku dosa besar tersebut," ucapnya. Tindakan tidak ikut menyalatkan, menurut Abdurrahman, merupakan sanksi moral dan sanksi sosial kepada pelaku dosa besar. "Kalau Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PW NU) Jawa Timur memfatwakan haram hukumnya menyalatkan koruptor, PP Persis membolehkan masyarakat menyalatkan jenazah koruptor. Hanya, para tokoh agama dan tokoh masyarakat yang tidak boleh ikut menyalatkan pelaku dosa besar, termasuk koruptor," ucapnya. (A-71)*** www.ahmadsahidin. wordpress. com
