Baraya aya kiteu pangaruhna kana nangtukeun waktu shalat di tatar sunda?

Jam Raksasa Mekkah Berusaha Kalahkan GMT
Rabu, 11 Agustus 2010 | 14:57 WIB
Telegraph
Big Ben (kiri) dan Menara Jam Mekah (kanan) 
MEKKAH, KOMPAS.com — Selama lebih dari satu abad, sebuah titik di atas sebuah 
bukit di tenggara London telah diakui sebagai pusat waktu dunia dan titik awal 
resmi setiap hari baru.

Namun sekarang supremasi Greenwich Mean Time atau lebih dikenal sengan 
singkatan 
GMT sedang ditantang oleh sebuah jam raksasa baru yang dibangun di Mekkah, yang 
diperkirakan akan menjadi acuan waktu bagi sekitar 1,5 miliar warga Muslim 
dunia 
dengan menyesuaikan jam tangan mereka segera. Jam itu mulai berdetak Kamis 
(12/8/2010), saat umat Islam mengawali puasa selama bulan Ramadhan. 


Telegraph, Rabu (11/8/2010), melaporkan, jam tersebut ditempatkan di atas 
Mekkah 
Royal Clock Tower yang mendominasi kota suci Islam itu. Ini adalah jantung dari 
sebuah kompleks luas yang didanai Pemerintah Arab Saudi, di dalamnya terdapat 
hotel, pusat perbelanjaan, dan ruang konferensi.

Penampilan menara jam raksasa itu sangat mirip dengan dua Menara St Stephen (St 
Stephen's Tower), yang merupakan tempat untuk lonceng Big Ben dan Empire State 
Building. Menara jam Saudi itu memang bertujuan untuk mengalahkan saingannya di 
Inggris tersebut dalam segala segi.

Jam empat wajah itu berdiameter 151 kaki dan akan diterangi dua juta lampu LED 
serta dilengkapi tulisan berhuruf Arab ukuran besar yang berbunyi, "Dalam nama 
Allah". Jam akan berjalan berdasarkan Standar Waktu Arabia (AST), yang tiga jam 
mendahului GMT. Begitu sebuah puncak berkilauan ditambahkan, berupa bulan sabit 
untuk melambangkan Islam, tinggi bangunan tersebut akan menjadi hampir 2.000 
kaki, yang menjadikannya sebagai bangunan tertinggi kedua di dunia.

Jam Big Ben, sebagai perbandingan, hanya berdiameter 23 kaki, tinggi menaranya 
hanya 316 kaki. 


Warga Mekkah juga akan diingatkan bahwa sudah waktu untuk berdoa ketika 21.000 
lampu hijau dan putih, dapat terlihat dari jarak 18 mil, menyala lima kali 
sehari.

Para ulama Islam berharap pengaruh jam bisa menjangkau wilayah yang lebih luas, 
melampaui gurun pasir Arab Saudi, sebagai bagian dari sebuah rencana agar 
Mekkah 
dapat meruntuhkan Observatorium Greenwich sebagai "pusat bumi".

Selama 125 tahun terakhir, masyarakat internasional telah menerima bahwa awal 
setiap hari harus diukur dari meridian utama, yang mewakili bujur 0 derajat, 
yang melewati Observatorium Greenwich.

Sebuah standar waktu di mana jam-jam lainnya menyesuaikan untuk kebutuhan 
mengatur perjalanan dan komunikasi global, tetapi dalam dunia Islam, gagasan 
bahwa itu harus berpusat di London dilihat sebagai anakronisme kolonial.

Seperti Mohammed al-Arkubi, manajer salah satu hotel di kompleks itu, tegaskan, 
"Menempatkan waktu Mekkah di hadapan Greenwich Mean Time. Itulah tujuannya."

Menurut Yusuf al-Qaradawi, seorang ulama Mesir yang dikenal di seluruh dunia 
Islam karena acara televisinya yang populer, "Syariah dan Kehidupan", Mekkah 
memiliki klaim yang lebih besar untuk menjadi meridian utama karena berada 
"dalam keselarasan sempurna dengan (garis) magnet utara."

Klaim yang menyatakan bahwa kota suci itu merupakan "zona magnet nol" telah 
meraih dukungan dari sejumlah ilmuwan Arab, seperti Abdel-Baset al-Sayyed dari 
Pusat Penelitian Nasional Mesir yang mengatakan tidak ada gaya magnet di 
Mekkah. 
"Itulah sebabnya jika seseorang melakukan perjalanan ke Mekkah atau tinggal di 
sana, dia hidup lebih lama, lebih sehat, dan kurang dipengaruhi oleh gravitasi 
bumi," katanya. "Anda mendapatkan energi."

Namun, ilmuwan Barat telah menentang pernyataan tersebut dengan mengatakan 
bahwa 
kutub magnet utara pada kenyataannya berada di garis bujur yang melewati 
Kanada, 
Amerika Serikat, Meksiko, dan Antartika.
 ~ experientia docet sapientiam ~ 

Kirim email ke