Enya kitu tea mang......Sok seuri ninggali kalakuan urang arab mah, jiga nu 
heueuh...hahahah...Loba ngomongkeun halal haram padahal 95% barang nu aya eta 
teh impor...Matak dilembur uing mah aya sebutan "ceuli arab" 
...hahahah...mangkaning sok loba nu nurutan...
TM

--- Pada Rab, 11/8/10, mh <[email protected]> menulis:

Dari: mh <[email protected]>
Judul: Re: [kisunda] Mecca Royal Clock
Kepada: [email protected]
Tanggal: Rabu, 11 Agustus, 2010, 12:05 PM















 
 



  


    
      
      
      cing sugan aya nu apal, eta jam teh beunang nyieun saha nya? hehehe
upama ngan ukur meunang meuli ti batur, teu didukung kamampuan sains jeung 
teknologi, 
bakal aya pangaruhna moal nya?


2010/8/11 Tirta widjaja <tirt...@yahoo. com>
















 



  


    
      
      
      Baraya aya kiteu pangaruhna kana nangtukeun waktu shalat di tatar sunda?



Jam Raksasa Mekkah Berusaha Kalahkan GMT
                        Rabu, 11 Agustus 2010 | 14:57 WIB
            
                                  
                                  Telegraph
                                  
                                  
                                        Big Ben (kiri) dan Menara Jam Mekah 
(kanan)
                                  
                                          
                                        
                                        MEKKAH, KOMPAS.com —
Selama lebih dari satu abad, sebuah titik di atas sebuah bukit di
tenggara London telah diakui sebagai pusat waktu dunia dan titik awal
resmi setiap hari baru.

Namun sekarang supremasi Greenwich Mean
Time atau lebih dikenal sengan singkatan GMT sedang ditantang oleh
sebuah jam raksasa baru yang dibangun di Mekkah, yang diperkirakan akan
menjadi acuan waktu bagi sekitar 1,5 miliar warga Muslim dunia dengan
menyesuaikan jam tangan mereka segera. Jam itu mulai berdetak Kamis
(12/8/2010), saat umat Islam mengawali puasa selama bulan Ramadhan. 

Telegraph,
Rabu (11/8/2010), melaporkan, jam tersebut ditempatkan di atas Mekkah
Royal Clock Tower yang mendominasi kota suci Islam itu. Ini adalah
jantung dari sebuah kompleks luas yang didanai Pemerintah Arab Saudi,
di dalamnya terdapat hotel, pusat perbelanjaan, dan ruang konferensi.

Penampilan
menara jam raksasa itu sangat mirip dengan dua Menara St Stephen (St
Stephen's Tower), yang merupakan tempat untuk lonceng Big Ben dan
Empire State Building. Menara jam Saudi itu memang bertujuan untuk
mengalahkan saingannya di Inggris tersebut dalam segala segi.

Jam
empat wajah itu berdiameter 151 kaki dan akan diterangi dua juta lampu
LED serta dilengkapi tulisan berhuruf Arab ukuran besar yang berbunyi,
"Dalam nama Allah". Jam akan berjalan berdasarkan Standar Waktu Arabia
(AST), yang tiga jam mendahului GMT. Begitu sebuah puncak berkilauan
ditambahkan, berupa bulan sabit untuk melambangkan Islam, tinggi
bangunan tersebut akan menjadi hampir 2.000 kaki, yang menjadikannya
sebagai bangunan tertinggi kedua di dunia.

Jam Big Ben, sebagai perbandingan, hanya berdiameter 23 kaki, tinggi menaranya 
hanya 316 kaki. 

Warga
Mekkah juga akan diingatkan bahwa sudah waktu untuk berdoa ketika
21.000 lampu hijau dan putih, dapat terlihat dari jarak 18 mil, menyala
lima kali sehari.

Para ulama Islam berharap pengaruh jam bisa
menjangkau wilayah yang lebih luas, melampaui gurun pasir Arab Saudi,
sebagai bagian dari sebuah rencana agar Mekkah dapat meruntuhkan
Observatorium Greenwich sebagai "pusat bumi".

Selama 125 tahun
terakhir, masyarakat internasional telah menerima bahwa awal setiap
hari harus diukur dari meridian utama, yang mewakili bujur 0 derajat,
yang melewati Observatorium Greenwich.

Sebuah standar waktu di
mana jam-jam lainnya menyesuaikan untuk kebutuhan mengatur perjalanan
dan komunikasi global, tetapi dalam dunia Islam, gagasan bahwa itu
harus berpusat di London dilihat sebagai anakronisme kolonial.

Seperti
Mohammed al-Arkubi, manajer salah satu hotel di kompleks itu, tegaskan,
"Menempatkan waktu Mekkah di hadapan Greenwich Mean Time. Itulah
tujuannya."

Menurut Yusuf al-Qaradawi, seorang ulama Mesir yang
dikenal di seluruh dunia Islam karena acara televisinya yang populer,
"Syariah dan Kehidupan", Mekkah memiliki klaim yang lebih besar untuk
menjadi meridian utama karena berada "dalam keselarasan sempurna dengan
(garis) magnet utara."

Klaim yang menyatakan bahwa kota suci itu
merupakan "zona magnet nol" telah meraih dukungan dari sejumlah ilmuwan
Arab, seperti Abdel-Baset al-Sayyed dari Pusat Penelitian Nasional
Mesir yang mengatakan tidak ada gaya magnet di Mekkah. "Itulah sebabnya
jika seseorang melakukan perjalanan ke Mekkah atau tinggal di sana, dia
hidup lebih lama, lebih sehat, dan kurang dipengaruhi oleh gravitasi
bumi," katanya. "Anda mendapatkan energi."

Namun, ilmuwan Barat
telah menentang pernyataan tersebut dengan mengatakan bahwa kutub
magnet utara pada kenyataannya berada di garis bujur yang melewati
Kanada, Amerika Serikat, Meksiko, dan Antartika. ~ experientia docet sapientiam 
~







    
     

    
    






  










    
     

    
    


 



  










Kirim email ke