Pusat Biodiversitas Terbesar Dibangun

Jakarta, Kompas
- Pemerintah dan badan usaha milik negara sektor kehutanan, Perum
Perhutani, akan membangun pusat biodiversitas terbesar Asia Tenggara di
Kabupaten Karawang dan Purwakarta, Jawa Barat. Kawasan seluas 11.250
hektar tersebut akan menjadi pusat ekowisata dan penelitian kehutanan
internasional soal keanekaragaman hayati Indonesia.

Menteri
Kehutanan Zulkifli Hasan menyampaikan hal ini saat berkunjung ke
Redaksi Kompas di Jakarta, Selasa (10/8). Indonesia dijuluki negara
dengan megabiodiversitas karena memiliki, antara lain, 350 spesies
tumbuhan kayu bernilai komersial dan 1.300 spesies tanaman obat.

”Kami
sudah meninjau hutan produksi tersebut dari udara dan memang ada
perambah. Saya sudah meminta Perhutani menertibkan mereka secara
persuasif dan menghutankan kembali kawasan itu untuk dijadikan pusat
biodiversitas terbesar di Asia Tenggara,” ujar Zulkifli.

Selasa
pagi, Menhut didampingi Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan Hadi
Daryanto, Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam
Darori, serta Direktur Utama Perum Perhutani Upik Rosalina meninjau
hutan produksi calon pusat biodiversitas. Kawasan hutan yang berbatasan
langsung dengan kompleks pemakaman San Diego Hills dan kawasan industri
di Karawang ini sebagian besar gundul.

Dari pemantauan udara
menggunakan helikopter Polisi Udara Dauphin AS365 N3, tampak
gubuk-gubuk perambah di kawasan hutan. Mereka berladang tanaman
palawija dan ada juga yang mengalihfungsikan hutan menjadi areal
persawahan.

Menhut meminta Perum Perhutani menertibkan perambah
secara persuasif dan melibatkan mereka dalam pengelolaan. ”Kami juga
mengajak perusahaan lain membangun pusat biodiversitas ini,” ujar
Zulkifli.

Upik menyanggupi hal tersebut. Perhutani telah
bersinergi dengan pemerintah daerah untuk mengajak perambah keluar dari
kawasan hutan tersebut.

Kementerian Kehutanan tengah menyiapkan
peraturan pemerintah yang akan mengizinkan Perum Perhutani mendapat
manfaat dari komersialisasi kawasan hutan di Pulau Jawa. Namun,
Perhutani harus memanfaatkan hasil komersialisasi untuk membeli lahan
kritis rakyat dan menanami lagi. (ham)

-Sumber: Kompas, 11 Agustus 2010, Halaman 18-






Kirim email ke