Resumena we lah Mh jadi kacindekanana kumaha tah urang sunda teh dina masalah ieu? ~ experientia docet sapientiam ~
________________________________ From: mh <[email protected]> To: [email protected] Sent: Monday, August 16, 2010 22:01:09 Subject: Re: [kisunda] Fw: Ratu Adil Bermodal Keris [1 Attachment] [Attachment(s) from mh included below] ieu we atuh yeu aya 26 artikel. toong dina buntelan. * Imam Pemberontak dari Malangbong * Santri Abangan dari Hutan Jati * Murid Tjokroaminoto di Peneleh * Mampir di Masyumi * Akar yang Terserak * Kekasih Orang Pergerakan * Kenang-kenangan Institut Suffah * Ratu Adil Bermodal Keris * Menumpang Momentum Renville * Upaya Hampa Natsir * Kartosoewirjo Vs Alex Kawilarang * Jejak Gerilya di Belantara Priangan * Misteri Ki Dongkol dan Ki Rompang * Tiga Berpayung Kecewa * Lubang Peluru di Menara Masjid * Dodol Garut dan Susu dalam Gubuk * Asimilasi Setelah Eksekusi * Sidang Kilat Kawan Soekarno * Masih Misteri Setelah 45 Tahun * Jihad Sebatang Korek * Negara Setengah Hati * Pasang-Surut Pesantren Darul Islam * Surat Perpisahan dari Johor Bahru * Dua Tahap Revolusi * 2010/8/16 oman abdurahman <[email protected]> >Dina sababaraha kajadian, filsafat "Ratu Adil" cukup ampuh salaku modal pikeun >ngalawan pangjajah. Mangga geura aos, upamana, buku "Api Sejarah" seratan prof >Ahmad Mansur Suryanegara. Dina mangsa-mangsa rahayat katindes, filsafat Ratu >Adil ieu mucunghul. Tapi, mindeng oge disalahgunakeun ku jelema2 anu memang >boga >niat goreng. Akon-akon jadi Ratu Adil, pamustungana nipu jelema rea. > >Nyimpang heula soal Kartosoewiryo, si kuring meunang kiriman sababaraha >tulisan >(leuwih ti lima) kiriman ti salah saurang anggota milist dina milist sejen anu >si kuring miluan. Upama kasaluyuan, eta seratan-seratan teh seja diforward ka >milist kisunda. Kumaha kinten2na? Atanapi, ka anu peryogi, mangga wae ngajapri. > >manar > > > > >2010/8/16 Tirta widjaja <[email protected]> > > > >>Pas na rahayat sunda panginten nya. >> ~ experientia docet sapientiam ~ >> >> >> >> >> ________________________________ From: MRachmat Rawyani <[email protected]> >>To: [email protected] >>Sent: Monday, August 16, 2010 18:55:08 >> >>Subject: Re: [kisunda] Fw: Ratu Adil Bermodal Keris >> >> >> >>memang sacara budaya di Wewengkon mana wae di Nusantara (Ind, Malay, Singa, >>Pilipina) aya kapercayaan kana ratu adil, Heru Tjakra, Imam Mahdi. Jadi teu >>heran upama Karno atawa karto "memperalat" ratu adil pikeun narik hate >>rahayat. >> >>Mrachmatrawyani >> >> >> >> >> >> ________________________________ From: Tirta widjaja <[email protected]> >>To: [email protected]; [email protected]; >>[email protected] >>Sent: Mon, August 16, 2010 6:11:36 PM >>Subject: Re: [kisunda] Fw: Ratu Adil Bermodal Keris >> >> >>Bah Willy katingalna mah langkung kuat unsur kabatinan batan kekerisan. Boa2 >>klop tah Karno sareng Karto di tatar sunda sabab urang sunda resep ngabatin >> ~ experientia docet sapientiam ~ >> >> >> >> >> ________________________________ From: Waluya <[email protected]> >>To: [email protected]; [email protected]; >>[email protected] >>Sent: Monday, August 16, 2010 16:36:00 >>Subject: [kisunda] Fw: Ratu Adil Bermodal Keris >> >> >>Dina DI/TII, Kartosuwiryo meunang dukungan ti sabagian urang sunda, cenah >>kulantaran urang Sunda mah Islamna kuat. Tapi Islam nu mana? Lamun maca >>artikel Tempo dihandap ieu, dukungan ka Karto teh teu leupas ti strategina >>make "Islam Kejawen", Islam nu pacampur jeung kabatinan lokal (jawa + >>sunda). Contona urang Sunda nu ayeuna umurna geus cueut kahareup pasti >>kantos ngareungeu kana pusaka Pak Karto, keris Ki Dongkol jeung Ki Rompang >>....... >> >>Nyanggakeun artikelna, kanggo nu hayang terang Ki Dongkol jeung Ki Rompang >>tiasa di klik di >>http://tempointeraktif.com/khusus/selusur/kartosoewirjo/page15.php >> >>Ratu Adil Bermodal Keris >>Tempo, 16 Agustus 2010 >> >>KABAR itu disiarkan melalui radio tabung ketika fajar baru terbit, 4 Juni >>1962. Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, "Imam Negara Islam Indonesia", >>diringkus tentara di persembunyiannya yang becek dan basah, di sebuah hutan >>yang tidak lebat di Jawa Barat. >> >>Kastolani, komandan kompi Tentara Islam Indonesia di Brebes, Jawa Tengah, >>tak mampu menahan amarah. Ia berniat mengajak sembilan anak buahnya menyerbu >>markas Tentara Nasional Indonesia. Berusia 29 tahun ketika itu, Kastolani >>bertambah geram akan sikap para komandannya. >> >>"Komandan Batalion" dan "Komandan Resor Militer" Tentara Islam Indonesia di >>Brebes justru menganjurkan prajuritnya menyerah. "Saya tegaskan: komandan >>yang menyerah akan saya tembak," tuturnya kepada Tempo di rumahnya di Salem, >>Brebes, akhir Juli lalu. >> >>Tapi, melihat para komandan dan anggota Tentara Islam tak berniat >>melanjutkan perlawanan setelah Kartosoewirjo tertangkap, ia melunak. "Saya >>perintahkan anak buah saya, silakan turun kalau mau menyerah," ia mengenang, >>dengan nada pahit. "Tapi, saya ingatkan, jangan tinggalkan salat." >> >>Kastolani bergabung dengan Tentara Islam Indonesia di Brebes pada 1953. Ia >>terpikat janji negara berbasis syariah. Diproklamasikan Kartosoewirjo pada 7 >>Agustus 1949 di Desa Cisampah, Cisayong, Tasikmalaya, Jawa Barat, Negara >>Islam Indonesia memikat ribuan orang pada mulanya. >> >>Tidak ada angka pasti, tapi diperkirakan 50 ribu orang menjadi anggota >>ketika Kartosoewirjo ditangkap. Kepada pengikutnya, Karto selalu mengobarkan >>semangat jihad dan memerangi "pemerintahan kafir" Soekarno. >> >>Dianggap memberontak, pengikut Negara Islam Indonesia diburu Tentara >>Nasional Indonesia. Sejak itu, mereka masuk hutan. Kastolani menjelajahi >>hutan di kawasan Bantar Kawung, Salem, Majenang, Songgong, Cibinbin, dan >>Jati Rokek. Desa-desa itu merupakan wilayah pegunungan di Brebes yang >>hutannya masih tersisa hingga kini. >> >>Kartosoewirjo menggagas Negara Islam setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, >>Agustus 1945. Ia melontarkan keinginan itu ketika menjadi Sekretaris Partai >>Masyumi Jawa Barat pada Oktober 1945. Meski ditolak partai, gagasan ini >>didukung banyak ulama di Jawa Barat. >> >>Melalui para ulama, Karto mempengaruhi anggota Sabilillah dan >>Hizbullah-sayap ketentaraan Masyumi-di Jawa Barat pimpinan Oni. Dua laskar >>itu merupakan cikal bakal Tentara Islam Indonesia yang dibentuk pada >>Februari 1948. Merasa mendapat dukungan kuat dari pengikutnya dan Tentara >>Islam Indonesia, Kartosoewirjo membekukan kegiatan Partai Masyumi Jawa >>Barat. Ia mendirikan Negara Islam Indonesia. >> >>Solahudin, peneliti Darul Islam dari Universitas Indonesia, mengatakan >>keberhasilan memperoleh dukungan tak lepas dari strategi Karto menggunakan >>ajaran tasawuf. "Modelnya tasawuf bercampur unsur kebatinan," katanya. >> >>Ia mencontohkan, pada suatu kesempatan, Karto melakukan tapa geni di Gunung >>Kidul, Yogyakarta. Dengan bertapa, Karto mengasingkan diri dari keramaian, >>membersihkan diri dari pengaruh duniawi. Dalam bahasa Arab, aktivitas ini >>disebut riyadhoh. Kepada pengikutnya, menurut Solahudin, Karto meyakinkan >>bahwa bertapa juga dilakukan Rasulullah ketika memperoleh wahyu pertama kali >>di Gua Hira. >> >>Setelah bertapa, Karto mengaku mendapat "wahyu cakraningrat"-sinar terang >>yang disebutkan berbentuk kalimat syahadat dalam bahasa Arab. Sinar itu >>disebutkan melingkari wajah Karto. Ateng Jaelani Setiawan, mantan Panglima >>Tentara Islam Indonesia, yang ditangkap pada Maret 1962, mengatakan bahwa >>dengan "wahyu cakraningrat" Karto mengklaim dirinya sebagai "khalifatullah". >>Kartosoewirjo mengangkat dirinya sebagai imam seluruh umat Islam di dunia. >> >>Dalam buku Pedoman Dharma Bhakti Negara Islam Indonesia jilid ketiga, >>Kartosoewirjo disebut dengan banyak julukan: Ratu Adil, Imam Mahdi, Sultan >>Heru Tjokro, dan Satrija Sakti. Julukan itu disesuaikan dengan ramalan >>Joyoboyo, pujangga Jawa, tentang orang yang akan memimpin umat manusia. >>Konon Kartosoewirjo akan bisa menjadi Ratu Adil jika bisa menyatukan dua >>senjata pusaka, yakni Ki Dongkol dan Ki Rompang. Ketika ia ditangkap pada 3 >>Juni 1962, keris Ki Dongkol ada di tangannya. >> >>Dalam buku manifesto politiknya, Heru Tjokro Bersabda: Indonesia Kini dan >>Kelak, Kartosoewirjo menulis, "Heru Tjokro" merupakan "makhluk Allah yang >>suci, menguasai dan memutar roda dunia menuju mardlotillah sejati, yaitu >>Negara Islam Indonesia." Heru Tjokro juga diartikan sebagai: "penyapu >>masyarakat jahiliah". Pemerintah Soekarno dianggap kafir karena tidak >>menjalankan syariat Islam, dianggap jahiliah, dan harus diperangi. >> >>Karto menganggap situasi Indonesia ketika itu sama dengan masa penyebaran >>Islam oleh Nabi Muhammad di Mekah. Sementara Muhammad menghadapi perlawanan >>kaum Quraisy, Kartosoewirjo mengatakan menghadapi Tentara Nasional >>Indonesia. Menurut Solahudin, alih-alih mengikuti cara tasawuf yang tidak >>agresif, Kartosoewirjo meminta anak buahnya memerangi pemerintah. >> >>Karto juga membaurkan ritual keagamaan dengan kebatinan. Pada malam-malam >>tertentu, dia mengumpulkan 41 ulama di daerah "D-Satu"-daerah yang >>sepenuhnya dikuasai Negara Islam Indonesia. Mereka berdoa, berzikir, dan >>bersalat tahajud bersama. Semua dilakukan, menurut Solahudin, demi >>"menggapai wangsit dari langit". >> >>Al-Chaidar, peneliti gerakan Islam Indonesia dari Universitas Malikussaleh, >>Nanggroe Aceh Darussalam, ragu Kartosoewirjo menggunakan pengaruh tasawuf, >>apalagi yang berbau mistik. "Informasi itu bias, hanya cerita dari mulut ke >>mulut," katanya. >> >>Untuk menguatkan ketaatan, konsep baiat-pernyataan setia kepada >>imam-diberlakukan bagi pengikut. Sebelum berbaiat dengan Kartosoewirjo, >>seseorang belum dianggap menjadi muslim. Dengan baiat, pengikut Negara Islam >>Indonesia dituntut tunduk dan patuh kepada pemimpin. Dengan kesetiaan ini, >>sebagian besar pengikut menjadi puritan. Tak aneh, Tentara Nasional >>Indonesia butuh 13 tahun untuk melumpuhkan kekuatan Tentara Islam Indonesia. >> >> >> >> >> >
