Rabu, 11 Agustus 2010 *Berdamai dengan Upin dan Ipin* *Oleh: Rinny Rosliany* *JUJUR* saja, saya pribadi merasakan kejengkelan yang kian mendalam pada Malaysia, terutama dengan segala klaim kebudayaan milik Indonesia yang beberapa waktu semakin menjadi-jadi. Keris, batik, dan bahkan reog ponorogo. Ugh!
Tetapi, beberapa waktu ini saya terpaksa mengakui salah satu karya masyarakat Malayasia, serial film kartun Upin dan Ipin. Bahkan mengacungkan jempol dalam upayanya menambah pengetahuan keislamannya. Kedua bocah cilik kembar yang satu berkepala botak plontos dan satunya lagi secuil rambut di atas kepalanya itu, menjadi salah satu serial favorit kedua anak saya, Ravi (4,5 tahun) dan Gadiza (3 tahun). Setiap hari pukul 19.00 WIB, asisten rumah tangga (pengasuh anak-anak di rumah), terpaksa berdamai dan membiarkan tayangan sinetronnya disabotase kedua buah hati saya. Semula saya tidak begitu ngeuh dengan serial anak kembar tersebut. Apaan sih, apalagi logat yang digunakan tentu bahasa Malaysia. Antipati mulai keluar --padahal saat itu saya hanya lihat iklan saja. Suatu waktu, saking penasaran melihat kedua anak saya begitu fasih membicarakan Upin dan Ipin ini, saya terpaksa melihat tontonan tersebut. Saya sempat terperangah. Tidak ada kata-kata yang tidak senonoh dan bahkan kasar yang diperagakan baik oleh tokoh Upin, Ipin serta sahabat yang lainnya seperti Mail, Jajrit, Fizi dan Mey-mey. Meski sering dimarahi oleh Kak Ros (kakak si kembar), namun tidak ada makian yang keluar. Bahkan, dengan bijak Opa (nenek Upin Upin) menasihati secara bijak. Hebatnya lagi, Upin dan Ipin tamat berpuasa di bulan Ramadhan. Padahal, kedua bocah kembar itu masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Hmm... Serial buatan Les' Copaque Production asal Negeri Jiran tersebut, mau tidak mau membuat saya mengacungkan jempol. Tidak hanya satu, empat sekaligus. Kenapa tidak? Coba dibandingkan dengan serial anak-anak yang dibuat oleh masyarakat Indonesia. Meski dibintangi oleh Baim (aktor cilik yang tengah booming), makian, mencibir sesama kawan sering terlontar. Di dua stasiun TV lainnya, serial anak-anak dibuat dengan imajinasi tinggi. Ular jejadian hingga buaya putih yang dibuat sekenanya, asal-asalan. Ada film Tanah Air Beta, buatan sepasang suami istri Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen. Meski film tersebut apik dan bagus di mata saya, tetapi tidak bagi kedua anak saya. Terlalu berat dan tidak mengasyikkan, kata mereka. Harus saya sadari, Upin dan Ipin membantu saya untuk menjauhkan sinteron tidak bermutu. Cinta Fitri hingga season 6 yang dipenuhi intrik permusuhan, dendam kesumat yang betul-betul tidak menjadikan contoh baik bagi anak-anak. Melalui Upin dan Ipin pula, nilai-nilai agama yang terdapat pada agama Islam rupanya pelan-pelan masuk pada kehidupan kedua anak saya. Si sulung, Ravi, tiba-tiba berkata ingin ikut berpuasa dengan mommy dan ayahnya seperti Upin dan Ipin. Meski Ravi bilang, jika berpuasa harus mendapatkan robot-robotan. Bagi saya, tidak apa-apa malah bersyukur. Alhamdulillah. Dalam kondisis ini, saya pikir memang Indonesia sudah kalah jauh melangkah oleh negara tetangga. Padahal, 50 tahun ke belakang, Malaysia berguru pada Indonesia. Kini? Ya sudahlah, saya hanya berharap Indonesia sudah saatnya bangkit. HUT ke-65 Kemerdekaan Indonesia, pada 17 Agustus 2010, diharapkan menjadi momen untuk berbenah diri bagi sejumlah petinggi di negeri ini untuk lebih memerhatikan negeri ini. Apalagi, ulang tahun kemerdekaan bertepatan dengan bulan suci Ramadan 1431 H. Terima kasih Upin. Terima kasih Ipin. Terima Kasih Les' Copaque. Selamat ulang tahun Indonesia. Selamat beribadah Ramadan. Mohon maaf lahir dan batin. (Wartawan Galamedia)** http://www.klik-galamedia.com/indexrubrik.php?idkolom=sketsa
