<http://www.republika.co.id/><http://www.republika.co.id/kanal/senggang/artis>
 Mengenang Kembali Sosok Kang
Ibing<http://www.republika.co.id/berita/senggang/artis/10/08/20/130991-mengenang-kembali-sosok-kang-ibing>
Jumat,
20 Agustus 2010, 00:04 WIB

<http://www.republika.co.id/berita/senggang/artis/10/08/20/130991-mengenang-kembali-sosok-kang-ibing#>

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Nama yang bisa disebut telah membuat banyak orang
lupa hingga tak mengenal lagi nama yang sebenarnya, Rd. Aang Kusmayatna
Kusumadinata. Tapi sebagai seorang Kang Ibing, popularitas lelaki kelahiran
Sumedang tahun 1946 dan putra dari pasangan Rd Suyatna Kusumahdinata dan Rd
Kusdiyah itu tak bisa dipisahkan dari jagat dunia perlawakan di Indonesia.

Terutama lagi bagi publik di Jawa Barat. Bahkan nama dan penampilannya
identik dengan tokoh legendaris seperti Si Kabayan. Tokoh yang lugu, cerdik,
sekaligus jenaka. Dan ini lalu dipertegas juga tak hanya karena pilihan nama
grup lawak yang didirikannya bersama Aom Kusman dan Suryana Fatah (alm),
yaitu D'Kabayan. Tapi juga kesuksesannya memerankan tokoh legendaris ketika
diangkat ke layar film pada tahun 1975.

Namun demikian di balik kesuksesan popularitas namanya tersebut, ia tetap
merasa digelisahkan melihat bagaimana perkembangan dunia lawak di Jawa Barat
yang seakan-akan termarginalkan. Sebagai komedian, ia merasa humor atau
lawak melulu dimengerti tak lebih dari sebuah pekerjaan yang memproduksi
kelucu-lucuan agar orang tertawa. Tak lebih dari itu. Humor tak pernah
dipahami sebagai bagian dari sebuah tradisi dan budaya kehidupan manusia,
yang di dalamnya menyimpan hal-hal yang reflektif, kritis, bahkan filosofis.

Pada konteks ini pula, dalam pandangan suami dari Nieke Kusumayatna dan ayah
dari Dikdik, Mega, dan Diane ini, dunia lawak atau humor sebagai bagian yang
tak terpisahkan dari karakter masyarakat Sunda, seakan-akan belum bisa
diterima sejajar seperti bentuk seni-seni lainnya. Paling tidak hal ini bisa
ditengarai dari bentuk perhatian para inohong, yang tidak seperti yang
dialami oleh kelompok Srimulat, misalnya, mereka memiliki apa yang disebut
oleh Kang Ibing sebagai Bapak. Dan pelawak ini juga pernah menjabat Ketua
Daya Mahasiswa Sunda (Damas) dan alumni Fakultas Sastra Rusia Unpad ini.

Kepergiannya menghadap Sang Khalik pun mengundang duka dari kalangan
masyarakat Jawa Barat. Ucapan duka itu antara lain dikemukakan Gubernur Jawa
Barat, Ahmad Heryawan. "Cara Kang Ibing menyajikan seni Sunda menjadikan
kesenian Sunda dikenal luas. Tidak hanya di lingkup Jawa Barat tapi juga
secara nasional dan mancanegara," ujar dia.

Heryawan menambahkan bahwa Kang Ibing berhasil menyampaikan pesan moral dan
pembangunan kepada masyarakat. Kontribusi Kang Ibing, kata dia, sangat besar
dalam mengisi pembangunan di Jawa Barat.

Beni Fitriadi, salah satu teman Ibing di Radio Mara FM, mengungkapkan
kehilangannya atas meninggalnya salah satu anggota grup lawak De’Kebayan
itu. “Yang pasti saya sangat kehilangan. Saya banyak belajar dari dia
(Ibing, red) mengenai Kesundaan,” kata Beni saat dihubungi Republika, Kamis
(19/8) malam.

Ibing merupakan sutradara yang sangat produktif menghasilkan beberapa karya
seperti film. Beberapa karya film yang telah disuntingnya antara lain, Si
Kabayan (1975), Ateng The Godfather (1976), Bang Kojak (1977), Si Kabayan
dan Gadis Kota (1989), juga Komar Si Glen Kemon Mudik (1990).

http://www.republika.co.id/berita/senggang/artis/10/08/20/130991-mengenang-kembali-sosok-kang-ibing

Kirim email ke