Molly Bondan (1912-1990)
Pengabdian Wanita Australia untuk RI

CINTA itu buta dan sering kali tidak dapat diprediksi. Demikian juga dengan
Molly Bondan, perempuan Australia yang lahir di Aukland, Selandia Baru, itu
jatuh cinta dengan budaya Indonesia.

Molly yang lahir 9 Januari 1912 itu rela menghabiskan sisa hidupnya untuk
membantu perjuangan rakyat Indonesia, sejak Indonesia masih belum merdeka
sampai dia tutup usia pada 1990.

Perkenalannya dengan pria Sunda, Mohamad Bondan, di Brisbane pada 1945 itu,
telah mengubah hidup Molly sepenuhnya. Mohammad Bondan merupakan aktivis
pergerakan kemerdekaan RI yang juga mantan tahanan politik Belanda yang
dibuang ke Boven Digul, Papua.

Kisah hidup pemilik nama Marry Alithea Warner ini menjadi salah satu bahan
diskusi yang diselenggarakan Museum Asia Afrika Bandung bekerja sama dengan
Kedubes Australia untuk memperingati HUT ke-65 RI di Gedung Merdeka,
Bandung, Selasa (24/8) lalu.

Molly yang merupakan aktivis kemanusiaan dan buruh di Australia itu,
benar-benar jatuh cinta, bukan hanya kepada Bondan yang kemudian menjadi
suaminya pada 1946 dan memberikan seorang putra bernama Alit Bondan pada
1947. Dia juga jatuh cinta kepada negeri ini sehingga dia rela meninggalkan
negaranya untuk menetap di Indonesia sampai akhir hayatnya.

Dalam buku Spanning Revolution yang ditulisnya sebagai otobiografi untuk
suaminya, mantan politikus PNI dan pejuang kemerdekaan RI Mohamad Bondan,
disebutkan bahwa Molly sejak pindah ke Indonesia, mengabdikan dirinya kepada
pemerintah RI dengan bekerja sebagai pegawai negeri di Kementerian
Penerangan sebagai penyiar acara "The Voice of Free Indonesia" dari pemancar
RRI Yogyakarta.

Sebagai salah seorang dari warga keturunan asing yang ikut berjuang untuk
Indonesia, dia memang mengenal banyak sejumlah tokoh pemimpin bangsa ini.
Saat di Yogyakarta itulah, Molly mengenal Soekarno dan Hatta.

Pidato Bung Karno

Karena kepiawaian Molly dalam bahasa dan masalah-masalah politik luar
negeri, dia kemudian bekerja sebagai pegawai negeri di Kementerian Luar
Negeri. Selama di Kemenlu itu, dia bekerja sebagai pengajar bahasa Inggris
untuk para diplomat Indonesia sewaktu menyelenggarakan Konferensi Asia
Afrika (1955).

Empat tahun kemudian, Molly ditunjuk sebagai penerjemah resmi pada
persidangan Allan Pope, pilot Amerika yang menjadi tentara bayaran selama
pemberontakan PRRI/Permesta. Ia juga diberi tugas oleh pemerintah Indonesia
untuk menyusun naskah yang kemudian dibukukan, Subversive activities in
Indonesia. The Jungschlager & Schmidt Affair.

Pada 1961, Molly diangkat sebagai satu-satunya penyusun pidato bahasa
Inggris Presiden Soekarno. Ini adalah suatu pencapaian luar biasa dari
seorang asing yang mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Molly pun
membantu dalam menerjemahkan dan menulis pidato-pidato Presiden Soekarno ke
dalam bahasa Inggris.

Molly bukan sekadar ghost writer, melainkan dia juga seorang yang paham
dengan kebijakan politik yang dianut Bung Karno. Molly pun memahami
sepenuhnya perumusan politik luar negeri Presiden Soekarno, mulai dari era
penyatuan kekuatan Asia–Afrika sampai lahirnya ide New Emerging Forces.
Molly pun ambil bagian dalam penyusunan pidato "To Build the World Anew" di
depan sidang umum PBB sampai dengan politik ganyang Malaysia selama masa
konfrontasi antara RI dan negara jiran tersebut.

Lepas warga negara

Alit Bondan, putra tunggal Molly dan Bondan, dalam acara bedah buku
menyambut peringatan HUT ke-65 RI di Museum Asia Afrika, Bandung, Selasa
(24/8), mengatakan, kecintaan ibunya yang kelahiran Selandia Baru pada 1912
itu, membuat Molly rela mengabdikan seluruh hidupnya untuk bangsa yang tidak
mengalir dalam darahnya. Dia telah menjadi salah satu bagian dari sejarah
Indonesia.

"Ibu Molly merupakan salah seorang yang terlibat dalam kemerdekaan
Indonesia. Dan, suatu ketika Ibu dihadapkan pada dua pilihan, apakah ingin
menjadi warga negara Indonesia atau Australia. Beliau tidak ingin memiliki
dua paspor, " tutur Alit.

Molly melepaskan kewarganegaraanya di Australia karena terlanjur mencintai
Indonesia. Meski demikian, Molly tidak pernah melupakan negara asalnya,
bahkan menjadi perekat hubungan antara Indonesia dan Australia.

Penulis Joan Hardjono yang juga editor buku In Love with a Nation, terkesan
pada kisah hidup Molly Bondan. Apa yang dialami Molly merupakan kisah unik
pengabdian seorang wanita asing yang notabene bukan asli Indonesia. Namun,
dia memiliki kecintaan melebihi dari orang Indonesia asli sendiri kepada
negaranya.

Keunikan kisah hidup Molly ini akhirnya akhirnya diabadikan dalam dua buku,
yakni In Love with a Nation dan Spanning a Revolution. Namun, sayang, Molly
wafat pada 6 Januari 1990 sebelum menikmati dan mengevaluasi bukunya
tersebut. Buku in Love with a Nation ini tidak saya edit, ini asli tulisan
dari Molly tanpa saya edit," ujar wanita yang fasih berbahasa Indonesia
tersebut. (Huminca/Miradin/"PR")***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=154396

Kirim email ke