Nostalgia Puasa "Shiyam" di Sumedang Larang *Puguh maraneh dikawasakeun pikeun bisa narima isarat nu didatangkeun ku Gusti Allah ka maraneh. Maraneh bisa maksa ngeureunkeun kalakuan nu goreng, karana Gusti Allah nu kawasa nuduhkeun kana jalan nu mulus ka maraneh dipilampah di dunya ieu.* (Pangeran Aria Soeria Atmadja)
Ingsun medal ingsun madangan, jadilah Sumedang. Aku lahir untuk mencerahkan. Aku ada untuk memberi penerangan. Itulah asal usul nama Sumedang yang diyakini bermula dari Prabu Taji Malela. Sementara Sumedang Larang berarti wilayah yang sangat luas. Maklumlah, karena Sumedang pernah dipercaya sebagai "pelanjut" Pajajaran ketika kerajaan itu burakrakan. Jejak peradaban Islam khas Cirebon masih terjaga baik di Sumedang. Pusat pemerintahan berada tak jauh dari Masjid Agung, alun-alun, penjara, dan pasar. Pasar-masjid-pendopo, adalah trilogi perkembangan umat Islam. Dari ekonomi berlanjut ke pendidikan dan berujung pada capaian politik kekuasaan. Di Sumedang, ketiga artefak utama itu masih bisa dijejaki. Kebiasaan-kebiasaan islami pun berlaku secara alamiah. Menjelang akil balig, sekitar usia tujuh tahun, anak-anak sudah berlatih berpuasa. Bagi yang laki-laki, dianjurkan dikhitan sebelum belajar mengaji di masjid. "Geura disepitan ngarah bisa ngaji ka masjid," demikian bunyi anjuran itu. Di antara tokoh yang melekatkan Sumedang dengan Islam ialah Pangeran Mekah atau Aria Soeria Atmadja. Kutipan di awal tulisan ini adalah salah satu petuahnya untuk Sagala Barudak Sunda. Kenangan pada masa silam segera terasa saat kita berdiri di tengah Alun-Alun Sumedang, tak jauh dari bangunan Lingga. Monumen ini dibangun pada 1922 untuk menghormati jasa-jasa Pangeran Mekah. "Dulu waktu kecil, kalau ngabuburit saya dan kawan-kawan suka main sosorodotan di seputar Lingga," ujar Moh. Ahmad Wiriatmadja. "Yang tak terlupakan adalah saat lembayung mulai tampak di ufuk, lalu disambung turulung kohkol tanda menjelang magrib," tuturnya bernostalgia. Aki Ahmad, demikian pemangku adat Yayasan Pangeran Sumedang biasa dipanggil, masih mengingat suasana puasa di era Sumedang "lama" itu. Sehari menjelang puasa, bunyi dulag (beduk) bertalu-talu menjadi pertanda. Masyarakat menyambutnya dengan mandi mensucikan diri, berkeramas dengan tanah porang atau jerami yang dibakar, lalu berziarah ke kuburan untuk membersihkan makam yang akan dikunjungi pada Lebaran kelak. Suasana puasa bertambah hangat dengan terdengarnya bunyi petasan dan bedil lodong yang saling bersahutan. Saat itu, karena populasi penduduk yang masih terbatas, belum ada jaringan listrik yang sambung-menyambung dan masih banyak tanah lapang, petasan serta lodong tidak dilarang. Justru dua jenis bebunyian itulah yang menjadi pertanda bulan Puasa. Kebiasaan masyarakat pun terasa berubah. Menjelang berbuka, banyak terlihat warga yang saling bertukar kiriman makanan dengan rantang. "Warga saling pupundutan, saling berkirim antartetangga atau saudara. Dari yang muda kepada yang tua atau sebaliknya," ucap Ahmad mengenang. Di dalam kabupaten, menu makan bupati dan para menak dipersiapkan secara khusus, terutama saat berbuka. "Kebetulan ibu saya juru masuk kabupaten," ujar Ahmad. Aneka hidangan disajikan, dari mulai takjil, lauk-pauk makan, hingga makanan penutup. "Yang saya ingat itu macam-macam sambal pasti selalu tersedia," katanya menambahkan. Satu hal yang jadi catatan Ahmad adalah soal kepemimpinan. Pemimpin yang jujur itu selalu saciduh metu saucap nyata. Kata dan perbuatan saling menguatkan. Adanya wibawa kepemimpinan itu dirasakan pula dalam relasi orang tua dan anak-anaknya. Menurut Ahmad, sangat terasa ada penghormatan dari yang muda terhadap yang tua. Hubungan ulama-umara pun terjalin dengan baik. Di Sumedang waktu itu tidak pernah ada konflik soal jumlah Tarawih atau perbedaan penetapan hari Lebaran. Antara ulama dan umara dapat menghargai otoritas masing-masing. Pada hari Lebaran, bupati diiringi pejabat kabupaten menuju masjid. Mereka memakai jas tutup warna putih dan bersarung palekat. Para pamong praja memakai udeng (iket) sementara para petugas kaum memakai destar. Seusai menunaikan salat, bupati menyaksikan penyalaan meriam di alun-alun. Kembali ke kabupaten, bupati segera menggelar open house, menerima sungkeman para kerabat dan kunjungan tamu-tamu. Suasana ini melekat dalam benak Ahmad. Kolam besar yang ada di belakang pendopo dibedahkeun. Ikan yang istimewa di empang kabupaten ini adalah kancra, selain ikan mas, gurame, nilem, dan mujair. Karena posisi Sumedang yang dianggap lebih tua, sejumlah bupati dari wilayah sekitar pun turut memberikan sungkeman sebagai tanda penghormatan. Siang atau sore hari setelah acara silaturahim usai, barulah bupati beserta keluarga berziarah ke Pemakaman Gunung Puyuh. Begitulah tradisi shiyam (siam atau puasa) di Sumedang. Sebagian kebiasaan baheula itu masih bisa kita jumpai, dan sebagian lagi sudah hilang. Tak berlebihan jika sejumlah elite Sumedang terobsesi mengembalikan "kejayaan" yang pernah diraih itu. Kejayaan sebuah kerajaan Sunda yang dibalut spirit dan nilai-nilai islami, yang mampu madangan balarea, mencerahkan pemimpinnya, dan menyejahterakan rakyatnya. (Iip D. Yahya)*** http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=154981
