Akhir Saum di "Dayeuh" Bandung Pagi hari, sekitar jam enam pagi, sejumlah ulama kaum yang memakai gamis, menjemput khatib Idulfitri di Pendopo Kabupaten Bandung. Sang khatib, yang juga memakai jubah dan gamis, lalu berjalan diiringi para penjemputnya. Seusai menunaikan salat Id, para jemaah yang meluber keluar masjid kemudian khusyuk mendengarkan khutbah dari khatib yang menjabat sebagai Bupati Bandung itu.
"Na maneh geus nalingakeun/jalma nu teu percayaeun/ka agama ngabohongkeun?/ciri-wancina nu yakin/sok bengis ka budak yatim/jeung tega ka fakir miskin/tara pisan mere dahar/jeung ka batur embung nitah/ka nu miskin sing someah/estuna jalma cilaka/salat teu mikir eusina/jeung teu ngingetkeun hartina/estuna jalma cilaka/nu salat ngan ngarah puji/ari tutulung teu sudi/ka nu miskin goreng budi." Pilihan diksi yang murwakanti itu membuat jemaah semakin mengagumi kedalaman ilmu sang khatib. Terjemahan surat Al-Ma`un itu terasa lebih meresap. Selesai khutbah dan bersalaman dengan jemaah, khatib lalu diiringkan kembali ke pendopo. Kali ini iring-iringan lebih meriah ditingkahi tetabuhan rebana. Itulah Bupati Bandung R.A.A. Muharam Wiranatakusumah V, bupati yang kerap memberikan khutbah Idulfitri di Masjid Agung Bandung, sebagai penutup saum sepanjang Ramadan. Dalam khutbah kali itu ia mengingatkan, "Naha kira-kirana tegaeun, dina poe ieu, poe mulya, nenjo imah nu baleunghar halegar garerah, pasemonna marahmay ku suka-bungah, ari dulur-dulur urang nu masakat medem mesum ku kasusah? Cumadong nunggu-nunggu pitulung teu aya cunduk, nganti-nganti pangasih teu aya clikna." Itulah suasana Lebaran di Bandung pada era Wiranatakusumah V atau biasa disebut Dalem Haji. Bandung menjadi banda urang nu unggul, milik berharga yang dijaga kemampuan daya saingnya. Tanpa pandangan optimistis meraih prestasi masa depan, Bandung hanya akan jadi nostalgia nu parundung di Cikapundung. Bandung bisa unggul bisa pula stagnan bahkan mundur, memang tergantung pada pemimpinnya. Bulan Saum (Puasa) di Bandung saat ini adalah bulan belanja. Pusat-pusat pertokoan penuh sesak, jalan-jalan sekitarnya macet total dipenuhi jejalan umat yang mencari "berkah" Ramadan. Hal itu wajar saja karena Bandung adalah magnet ekonomi umat. Warga Bandung pun sudah terbiasa menerima realitas itu sebagai rutinitas setahun sekali. Harapannya agar sepanjang Ramadan di Bandung tak sekadar marak dengan aktivitas ekonomi, tetapi diimbangi pula oleh kegiatan ritual dan spiritual islami, terlebih Kota Bandung saat ini sudah menahbiskan diri sebagai kota agamis. Bagi masyarakat kebanyakan, sejak zaman dulu, pusat kota Bandung adalah alun-alun. Ngabuburit di alun-alun adalah menu wajib menjelang berbuka puasa. Umat memang selalu membutuhkan ruang publik yang akrab, yang tak berjarak dan bisa menjadi "miliknya" barang sejenak. Akan tetapi, kenangan saum di Bandung tak sekadar itu, melainkan juga mencakup capaian kreativitas para pemimpinnya. ** Pada era kepemimpinan Dalem Haji (1920-1931/1935-1945), Bandung pernah mencapai situasi dan kondisi yang boleh disebut "islami". Sang bupati yang menguasai ilmu-ilmu keislaman secara baik, ditopang oleh lingkungan yang sangat mendukungnya. "Saya sudah tua, umur saya sudah lebih dari 80 tahun dan karena itu saya sudah tidak punya lagi tenaga untuk ikut berjuang mempertahankan negeri kita. Akan tetapi, walaupun demikian, saya masih bisa berdoa dan memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk keselamatan kita, tanah air, bangsa, dan pemimpin-pemimpin kita," demikian dinyatakan ulama karismatis yang di kalangan pesantren dikenal sebagai Mama Cibaduyut. Saat itu, 1943, PETA dan Hizbullah baru saja dibentuk dan membutuhkan banyak calon prajurit. Mama Cibaduyut adalah salah satu patron Bupati Bandung selain kalangan birokrat dan ulama kaum. Ia ulama pesantren yang terkenal wara` dan sufi. Ia selalu berpuasa di luar Ramadan dengan tidak memakan nasi. Saat berbuka ia hanya menyantap tiga butir kentang dan sebutir ubi. Ia dengan tulus mendukung bupati, bukan karena imbalan atau tujuan-tujuan lain, semata-mata karena ia melihat sang bupati adalah pemimpin yang layak didukung. Sebagai perintis terjemahan Alquran dalam bentuk pupuh, Wiranatakusumah dikelilingi oleh para ahli yang mumpuni. Misalnya konseptor pidatonya yang bernama R. Padmadinata, selain ahli bahasa juga menulis terjemahan Alquran dalam bahasa Sunda. Buku pribadi Padmadinata penuh dengan catatan mengenai cara bertobat, membersihkan diri, dan laku sufistik. Tak mengherankan jika bupati legendaris ini bisa mendirikan grup diskusi Studi Islam dan penerbitan buku-buku keislaman. Pergaulan Wiranatakusumah, baik sebagai bupati maupun pribadi memang sangat luas. Ia tidak hanya dekat dengan kalangan pesantren seperti Mama Cibaduyut, tetapi juga dengan kelompok modernis. Contohnya, khutbah Idulfitri sebagaimana dikutip di atas, diterbitkan oleh bagian pustaka Persatuan Islam Bandung pada 1937, dengan judul Choetbah Lebaran. Wiranatakusumah adalah bupati yang dianggap layak memberikan khutbah di Masjid Agung Bandung, baik pada hari Jumat maupun hari raya. Hal ini menunjukkan posisi keulamaannya yang diakui oleh kalangan ulama di Bandung. Pada hari-hari besar, ia juga memberikan ceramah dan menerima undangan ceramah dari lain daerah. Dalam satu tulisannya ia menyatakan, "Tiap-tiap orang yang sudah tidak terperintah oleh hawa nafsu yang buas itu, satu tanda orang itu merdeka, dengan bijaksana dapat memerintah sendiri, dan tentu sifat buruk lenyap sama sekali, serta timbul aman, mulia, tenteram, luhur, bijaksana lahir dan batin." Itulah gambaran orang yang sukses menjalankan saum di bulan Ramadan. (Iip D. Yahya)*** http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=154980
