Oleh: Ahmad Gibson al-Bustomi
“Baheula ku basa Sunda ahirna ku basa Arab; jadi kaula nyundakeun Arab nguyang
ka Arab, ngarabkeun Sunda tina Basa Arab” (Hasan Mustapa, Qur’anul Adhimi)
Relasi kebudayaan Sunda dan Islam telah cukup lama menjadi pembicaraan,
khususnya dari kalangan akademisi, baik dari sisi histroris maupun kajian
budaya. Keakraban antara dunia pesantren dengan kebudayaan Sunda, diantaranya
ditandai oleh banyaknya nadoman dan pupujian yang menggunakan bahasa Sunda dan
biasa dilantunkan di pesantren atau majelis taklim di mesjid-mesjid. Demikian
juga sebaliknya, tidak sedikit dangding atau tembang Sunda yang bertemakan
keagamaan, Islam. Unsur-unsur kebudayaan memang sangat beragam, bukan hanya
bidang seni belaka, akan tetapi keberadaan seni paling tidak bisa dijadikan
indikator yang lebih bisa diukur berkenaan dengan relasi antara sub-kultur
pesantren dengan kebudayaan lokal di mana pesantren itu berada.
Diantara sejumlah karya seni yang mengindikasikan adanya relasi antara tradisi
pesantren dengan tradisi lokal Sunda, dalam kadar yang cukup “kental” adalah
karya-karya dangding Haji Hasan Mustapa (HHM). Tokoh yang kedua kakinya secara
sangat kokoh menapak di kedua wilayah tersebut (tradisi pesantren-Islam, dan
kebudayaan lokal Sunda).
Sosok K.H. Hasan Mustapa, baik sebagai tokoh agama (Kyai), maupun sebagai tokoh
budaya berada di persimpangan, hadir sebagai sosok dari tokoh misterius.
Sebagai bujangga, seperti dikatakan Hawe Setiawan, apa pun peran dan posisi HHM
dalam sejarah kolonialisme di Indonesia, yang jelas karya-karya (sastra)-nya
sangat luar biasa, dan sangat sulit mencari tandingannya di tatar Sunda, sampai
sekarang. Dengan kata lain, posisi HHM dalam khazanah sastra lokal Sunda tidak
diragukan, juga tidak ada yang meragukannya, baik dari sisi kualitas maupun
dari kuantitas. Siapa diantara budayawan Sunda (bahkan mungkin Nasional), yang
memiliki produktivitas di atas 10.000 puisi (dangding)? Bukan hanya jumlahnya,
tetapi juga kualitas karya sastranya.
Karya sastra HHM yang dikategorikan sebagai sasta religius, belum termasuk
sejumlah karya tulis keagamaan dalam bentuk esai, dan juga mengingat posisinya
sebagai Penghulu Agama, tentunya HHM memliki posisi tersendiri dalam dinamika
keagamaan pesantren, paling tidak di wilayah Bandung dan Priangan; oleh
karenanya HHM dikenal dan dijuluki sebagai Kyai.
Namun demikian, ada misteri besar berkenaan dengan “ketokohan” HHM, baik
sebagai bujangga (sastrawan) maupun sebagai elite agama. Kebesaran nama dan
karyanya tidak sebesar pengenalan masyarakat agama dan budayawan (sastrawan)
lokal terhadap karya-karya besarnya.
Misteri dari tidak populernya pemikiran dan ketokohan HHM dalam bidang
pemikiran keagamaan di kalangan pesantren sebenarnya masih sangat bisa
dimengerti. Karena, dalam wilayah pemikiran keagamaan HHM yang mengindikasikan
faham sufistik (wujudiah) yang dengan tegas banyak ditolak oleh komuniatas
pesantren dan komunitas agama lainnya, khsusunya dari kalangan pembaharu. Lebih
dari itu, karena tipologi keberagamaan masyarakat Sunda (dan umumnya Indonesia)
adalah tipologi keberagamaan fiqhiyah; tipologi keberagamaan yang oleh HHM
disebut tipologi keagamaan “nyembah nyabeulah“, maka sangat wajar bila
pemikiran keagamaan HHM yang sarat dengan pemikiran sufistik tersebut tidak
begitu akrab dengan kehidupan keagamaan masyarakatnya. Kalau pun ada diantara
mereka yang cukup mengenalnya, paling tidak namanya dan diakui sebagai seorang
Kyai, bisa dipastikan itu ada dari kalangan tua, dan itu pun dari komunitas
yang menganut faham keagamaan (pesantren) tradisonal
dan mempraktekkan amalan sufistik, thariqat.
Lalu bagaimana dari kalangan budayawan? Sejauh mana sebenarnya budayawan
(lokal) Sunda mengenal HHM sebagai bujangga? Atau, seberapa sering dan
komunitas budaya lokal Sunda mana yang sering mementaskan karya-karya besar
HHM? Kalau ada, dangding yang mana yang biasa dan sering dipentaskan? Rasanya
sangat langka untuk tidak mengatakan bahwa tidak pernah ada komunitas budaya
lokal yang pernah dan biasa mementaskan karya-karya besar HHM. Kecuali di
kalangan yang sangat terbatas dan memang secara spesifik membicarakan dan
mengupas tentang karya dan ketokohan HHM, yang hal itu pun masih sangat jarang
dilakukan. Bahkan, tidak pula menjadi salah satu pokok bahasan dalam materi
pengajaran Bahasa Sunda dan kebudayaan Sunda di sekolah-sekolah tatar Sunda.
Konon, kesulitan terbesar dari kalangan budayawan dalam mengapresiasi
karya-karya HHM adalah justru karena sarat dengan pemikiran dan petuah yang
bersifat religus (sufistik) yang sangat sulit untuk dipahami dan dimengerti.
Asumsi dan argumen ini secara tidak langsung mengindikasikan renggangnya relasi
budaya lokal dengan pesantren serta terjadinya proses pewarisan budaya di
kalangan komunitas budaya yang tidak lengkap, yang hanya mengedepankan aspek
permukaan (artistik) dari karya-karya budaya pendahulunya, dan mengenyampingkan
makna-makna serta “piwuruk” yang terkandung dalam karya-karya mereka.
Karya-karya HHM bila kita simak merupakan salah satu jembatan besar yang
menghubungkan tradisi pemikiran pesantren dengan kebudayaan lokal Sunda. Namun,
ketika karya-karya HHM tersebut telah sekian lama, sampai kini, tidak cukup
dikenal dan tidak disentuh oleh kedua belah pihak, maka kita harus menyebutkan
bahwa karya HHM telah menjadi prasasti dari jejak akhir relasi budaya lokal
Sunda dan Pesantren. Jejak awalnya konon telah sejak awal ditanamkan secara
kuat oleh pioner penyebar Islam di tatar Sunda, yang telah melahirkan ragam
budaya lokal yang sangat kaya dan monumental.
Dengan demikian, dari sisi apa pun, HHM tak lebih dari sekedar tokoh legenda
tatar Sunda, atau bahkan mungkin tak lebih dari tokoh mitologis.
Keindahan karya dangding (puisi) HHM memang bukan terletak dalam penggunaan
kata-kata yang “puitik”, akan tetapi pada keindahan dan kepiawaian dalam
penggunaan logikanya. Hawe menyebutnya dalam ungkapan-ungkapan paradoks yang
sering digunakan HHM yang membuat karya puisi HHM demikian luar biasa,
disamping kepiawaiannya dalam menciptakan diksi-diksi baru. Diksi-diksi yang
diambil dari term dan bahasa Arab (atau lebih tepatnya term keagamaan, Islam)
yang menjadi bagian dari “tradisi” kepesantrenan dan dimodifikasi dan
disesuaikan dengan pola pelapalan lidah masyarakat Sunda dan bahasa Sunda.
Apa yang diupayakan HHM dalam menjembatani tradisi lokal dan tradisi pesantren
sebagai icon bagi tradisi keagamaan dan pemikiran Islam, dari sisi “pemikiran”
secara substansial telah berhasil. HHM mampu meramu dan mendialogkan kedua
sistem nilai tersebut dengan cara apa yang HHM katakan : “Baheula ku basa Sunda
ahirna ku basa Arab; jadi kaula nyundakeun Arab nguyang ka Arab, ngarabkeun
Sunda tina Basa Arab“. Namun, secara sosio-kultural telah gagal. Jangankan
menjembatani kedua “komunitas” tersebut, bahkan namnya sendiri semakin lama
semakin tenggelam dari sejarah ingatan masyarakat Sunda, baik kalangan
pesantren maupun budayawannya.
Atau jangan-jangan masyarakat Sunda dan komunitas Pesantren di tatar Sunda
sendiri yang tidak berhasil, bahkan tidak perduli dengan adanya upaya
“rekonsiliasi” serta upaya dalam menjembatani antara budaya lokal Sunda dengan
tradisi pesantren? Sehingga apa yang HHM lakukan pun tidak pernah mendapatkan
perhatian dan sambutan yang layak, dan dianggap angin lalu?
Sejumlah komunitas maupun perseorangan telah ada yang secara serius mengungkap
dan mensosialisasikan karya-karya HHM. Namun, sampai sekarang, alih-alih
dijadikan sebagai “media” yang menyambungkan kembali relasi pesantren dengan
budaya lokal Sunda, bahkan untuk sekedar mengangkat dan menjadikan karya HHM
sebagai karya yang layak untuk dipentaskan dan mendapat apresiasi publik pun
belum bisa disebut berhasil.
Belum berhasil, akan tetapi tentu bukan berarti tidak berhasil, karena mungkin
upaya yang dilakukan masih pada tahap pengenalan ulang terhadap karya besarnya.
Hal ini bisa dimaklumi karena memang karya-karya HHM bukan sekedar karya seni
“pintonan panglipur lara“, akan tetapi karya yang sarat dengan “pangwuruk” dan
“penyintreuk” yang tidak bisa dinikmati, disimak dan disajikan (dipintonkan)
secara sambi lalu.
Penulis: Dosen Filafat dan Teologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Edisi/versi HU. Kompas (FORUM BUDAYA; Sabtu, 28 Maret 2009 | 11:27 WIB)
www.ahmadsahidin.wordpress.com
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/