Paradigma Baru Legenda Jawa Barat Si Kabayan Kembali ke Layar Lebar LAKON Si Kabayan memang tak pernah selesai. Kekayaan cerita komedi situasi yang dikenal sarat kritik sosial itu mengembang berkepanjangan dan menembus batas waktu. Beragam versi pun mengemuka dengan kebebasan imajinasi pengarangnya. Kabayan pun bisa hidup di alam kekinian. Benar kalau Si Kabayan menjadi satu-satunya legenda populer di negeri ini, yang terbanyak ditambang ke dalam industri film nasional.
"Setelah 21 tahun, saatnya Kabayan dihadirkan lagi dalam dunia perfilman nasional. Terlebih, karena cerita Kabayan itu universal, tidak berbatas waktu. Dalam kondisi apa pun, dia tetap hidup," ucap sutradara film "Si Kabayan Jadi Milyuner," Guntur Soeharjanto, ketika dijumpai di lokasi shooting filmnya di Desa Simpen Kaler, Limbangan, Kab Garut, Minggu (22/8). Agaknya Guntur menilai tonggak kebangkitan Kabayan itu sejak sukses pasar film "Si Kabayan Saba Kota". Riwayat Kabayan dalam media film pun memanjang. Bermula ketika sosok almarhum Kang Ibing Kusmayatna dibintangkan di film "Si Kabayan" produksi PT Diah Pitaloka Film, menjemput pentas Festival Film Indonesia (FFI) 1976 Bandung. Dalam film garapan Bay Isbahi itu, aktris Lenny Marlina dihadirkan sebagai Iteung. Akan tetapi, pamor aktris meteor Bandung itu tak bisa mendongkrak reputasi Kang Ibing dalam takaran komersial filmnya secara nasional. Di kancah rebutan Piala Citra FFI Bandung yang pertama itu, "Si Kabayan" sang pelopor hanya mendapat penghargaan khusus. Cerita sukses pasar film Si Kabayan baru dicapai tigabelas tahun kemudian bersama "Si Kabayan Saba Kota" arahan H. Maman Firmansyah (1989). Pasangan komersial Didi Petet dan Paramitha Rusady sukses menghangatkan pasar film legenda Jawa Barat itu, hingga melahirkan lakon serial Kabayan lainnya. Dari film produksi PT Kharisma Jabar Film - Pemda Jabar itu pula, artis kondang Paramitha Rusady terjaring ke peringkat nominasi pemeran utama wanita terbaik FFI 1989 Jakarta. Perdagangan film nasional pun lalu diwarnai kehadiran film-film seperti "Si Kabayan dan Gadis Kota," "Si Kabayan dan Anak Jin," "Si Kabayan Mencari Jodoh," hingga "Si Kabayan Saba Metropolitan" (1994). Semua film itu mencoba menjejaki sukses pasar filmnya terdahulu. Kondisi seperti itu mengidentikkan Didi Petet sebagai Kabayan. "Terus terang saja, sebenarnya saya sendiri tidak tahu, bagaimana karakteristik Si Kabayan itu? Saya hanya memvisualkan tuturan skenario filmnya saja," kata H. Maman Firmansyah dalam perjumpaan di Bandung. Sungguh pun Didi Petet telanjur dikenal sebagai Kabayan, tetapi untuk tokoh itu sang aktor selalu saja dipersaingkan dengan sosok Kang Ibing, komedian yang sangat nyunda. Banyak orang berspekulasi bahwa sepeninggal komedian fenomenal Jawa Barat itu, tiada lagi pelakon paling pas sebagai Kabayan. Opini publik terbentuk sejak Kang Ibing tampil sebagai pelopor pemeran Kabayan dalam film nasional. Sebelumnya, pelawak alm. Us-Us sukses berlakon Kabayan dalam drama seri TVRI Pusat. Betapa pun sukses komersial Didi Petet, tak memudarkan penilaian atas figur Kang Ibing yang amat mewakili karakteristik tokoh dongeng itu. Dari bawah Kang Ibing pun pernah berbangga manakala muncul Oni, komedian yang pernah dikenal bersama grup lawak SOS (Sule, Oni, Ogi). Pelawak ini dianggap duplikat Kang Ibing muda yang bisa menjanjikan kelahiran penerus pelakon Kabayan. Namun, terlepas dari ketepatan pemerannya, kebangkitan kembali film Si Kabayan jadi pembenaran bahwa legenda Jawa Barat itu masih memiliki magnet di mata produser film nasional kekinian. PT Kharisma Star Vision Plus mengemas lagi film berwajah komedi lokal itu di tengah industri film masa kini. Bahkan, "Si Kabayan Jadi Milyuner" tampil dengan kebaruan paradigma. Dalam pemeranan, Didi Petet naik pangkat, tidak lagi sebagai Kabayan tetapi menjadi Abah, tokoh yang semula dikenal dengan figur H. Rachmat Hidayat. Uniknya, Si Kabayan dan Iteung membintangkan duet baru berwajah Indo, Jamie Aditya dan Rianti Cartwright. Guntur Soeharjanto mengungkapkan, film Kabayan kali ini unik. Tokoh Kabayan dan Iteung tampil modern, tanpa kehilangan identitas kultur Sunda. Mereka masih tetap punya karakteristik keramahan orang Sunda. "Dari beberapa calon yang di-casting, saya memilih Jamie Aditya sebagai Kabayan! Dia sebenarnya cucu Achdiat Kartamihardja yang delapan tahun bermukim di Australia," ucap sutradara asal Magelang itu. Achdiat Kartamihardja (alm.) dikenal sebagai novelis asal Cibatu Garut yang melegenda dengan karyanya, Atheis. Novel populer itu pernah dibuat film tahun 1974 dalam garapan (alm.) Syumandjaya. Meski lama mengembara di negeri orang, Jamie Aditya, pendatang asgar (asal Garut), ternyata masih menguasai kekayaan alat kesenian tradisional Sunda. Dalam sebuah adegan jenaka, Si Kabayan tampak piawai menabuh gendang. Bersama Rianti Cartwright, Jamie pun lentur menarikan seni ketuk tilu. "Film Kabayan sekarang ini dibuat dengan sisi pandang positif. Dia melihat kehidupan itu selalu positif. Tema ceritanya pun lebih menasional yang bisa terjadi di luar orang Sunda," kata Guntur kemudian. Dengan film ini, Jamie Aditya diharapkan bisa menjadi ikon generasi muda masa kini. Pasalnya, Kabayan yang berdaya multietnis itu tampil mewakili problematika sosok urban. "Saya ingin lebih instens ke dalam. Membuat sentilan dari bawah, bukan dari atas. Itu sebabnya Kabayan bukan lagi membawa permasalahan kehidupan warga Sunda," ujar Guntur Soeharjanto. Film "Si Kabayan Jadi Milyuner" memuat pula pesan agamis, seperti saat Kabayan dihadapkan pada konflik dengan orang berduit yang membeli lokasi pesantren di desanya untuk bangunan lain. Film yang menekankan sikap hidup santun terhadap siapa pun itu didukung kehadiran Aming, Dicky Chandra, Rani Permata, dan warga setempat. (Yoyo Dasriyo, wartawan dan pemerhati film nasional serta sinetron, tinggal di Garut)*** http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=155718
