.http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&view=article&id=25333:iran-serukan-unjuk-rasa-sedunia-jumat-depan&catid=16:cakrawala-indonesia&Itemid=59
Iran Serukan Unjuk Rasa Sedunia, Jumat Depan
.Rahbar
atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali
Khamenei dalam pesannya kepada umat Islam menyebut aksi penistaan
terhadap kitab suci Al-Quran di Amerika Serikat sebagai tindakan yang
tidak waras dan penuh dengan kebencian. Rahbar menilai aksi tersebut
bukanlah awal mula suatu gerakan tanpa merupakan fase dari proses
panjang proyek anti-Islam yang dimotori zionis dan rezim Amerika. Meski
demikian beliau mengingatkan bahwa penistaan Al-Quran yang dilakukan
oleh sejumlah pendeta bayaran dan sinting itu tidak boleh
digeneralisasikan kepada seluruh umat kristiani. Sebaliknya umat Islam
juga dituntut untuk tidak melakukan langkah serupa terhadap
simbol-simbol suci agama lain.
Ketua
Dewan Pakar Kepemimpinan Iran, Ayatullah Ali Akbar Hashemi Rafsanjani
juga memperingatkan orang-orang yang menistakan sakralitas kitab suci
al-Quran. Dikatakannya, rencana pembakaran al-Quran memperlihatkan
bahwa musuh punya dendam kesumat terhadap Islam.
Sebagaimana dilaporkan IRNA hari Selasa (14/9), Ayatullah Rafsanjani
ketika membuka sidang Dewan Pakar Kepemimpinan Iran ke delapan di
Tehran, menyinggung pelecehan ekstrimis AS terhadap al-Quran.
Ditegaskannya, ketika musuh menyaksikan kesadaran di dunia Islam, maka
mereka bangkit melakukan pelecehan seperti pembakaran al-Quran.
Seraya
menegaskan upaya Zionis untuk mengadu domba antara Islam dan Kristen,
Ayatullah Rafsanjani menandaskan, umat Islam harus waspada dalam
masalah ini.
Menurut
rencana, Umat Islam hari Jumat depan (17/9) secara serentak akan turun
ke jalan-jalan untuk menyatakan kebencian dan kemarahannya atas
penistaan kitab suci al-Quran.
Menyusul
pelecehan terang-terangan terhadap sakralitas kitab suci al-Quran,
Dewan Koordinasi Dakwah Islam Iran, Selasa (14/9) dalam statemennya
mengajak seluruh umat Islam dan orang-orang merdeka di dunia untuk
menyatakan kemarahan dan kebenciannya atas aksi gila tersebut seusai
shalat Jumat. Aksi ini ditujukan untuk mendemonstrasikan persatuan dan
kesatuan umat Nabi Besar Muhammad Saw dalam menghadapi ujian baru.
Di era
dwi-adidaya, Sosialisme Timur memandang agama terutama Islam sebagai
candu masyarakat. Sementara Liberalisme Barat menempatkan agama hanya
di lingkungan gereja dan pusat-pusat peribadatan. Namun dengan
kemenangan Revolusi Islam di Iran dan munculnya gelombang kebangkitan
Islam di berbagai belahan dunia membuat hegemoni kekuatan adidaya
merasa terancam. Seluruh kekuatan dunia saat itu, yaitu Blok Timur dan
Barat berupaya memberangus Republik Islam Iran dan negara-negara yang
menyuarakan keadilan dan anti-imperialisme.
Sejumlah
ekstrimis AS, Sabtu lalu (11/9) di Washington dan New York merobek
puluhan al-Quran. Tindakan keji itu membangkitkan protes luas di Iran
dan dunia.
Sejatinya,
upaya penistaan Al-Quran yang mengatasnamakan gereja di AS merupakan
upaya untuk menimbulkan konflik horisontal yang lebih luas antarumat
beragama di tingkat global. Namun begitu, sebagaimana yang ditegaskan
Rahbar, umat Islam tidak akan terpancing untuk melakukan aksi serupa
dan terseret ke dalam skenario zionis yang mencoba mempertentangkan
umat Islam dan Kristen. Tentu saja, jika rezim penguasa AS memang
mengklaim dirinya sebagai pejuang hak asasi manusia dan kebebasan serta
mengutuk aksi penistaan terhadap kitab suci, maka sudah sepantasnya
mereka juga harus menindak tegas para pelaku penistaan Al-Quran di
negaranya. (IRIB/AR)