Skenario Zionis di Balik Penistaan
Al-Quran
Rahbar
atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali
Khamenei dalam pesannya kepada umat Islam menyebut aksi penistaan
terhadap kitab suci Al-Quran di Amerika Serikat sebagai tindakan yang
tidak waras dan penuh dengan kebencian. Rahbar menilai aksi tersebut
bukanlah awal mula suatu gerakan tanpa merupakan fase dari proses
panjang proyek anti-Islam yang dimotori zionis dan rezim Amerika. Meski
demikian beliau mengingatkan bahwa penistaan Al-Quran yang dilakukan
oleh sejumlah pendeta bayaran dan sinting itu tidak boleh
digeneralisasikan kepada seluruh umat kristiani. Sebaliknya umat Islam
juga dituntut untuk tidak melakukan langkah serupa terhadap
simbol-simbol suci agama lain.
Dalam
pesannya itu, Pemimpin Besar Revolusi Islam juga membongkar dalang di
balik aksi penistaan terhadap Islam dan Al-Quran dan bagaimana
cara-cara yang mesti ditempuh untuk menghadapi gerakan anti-Islam di
Barat, terutama di Amerika Serikat.
Pada
dasarnya, jika ditelusuri lebih jauh, permusuhan Barat terhadap Islam
dan masyarakat muslim memiliki akar yang sangat panjang semenjak di
mulainya era kolonialisme yang terus berlanjut hingga sekarang. Namun
gerakan anti-Islam itu makin gencar dalam beberapa dekade terakhir
semenjak kemenangan Revolusi Islam Iran.
Di era
dwi-adidaya, Sosialisme Timur memandang agama terutama Islam sebagai
candu masyarakat. Sementara Liberalisme Barat menempatkan agama hanya
di lingkungan gereja dan pusat-pusat peribadatan. Namun dengan
kemenangan Revolusi Islam di Iran dan munculnya gelombang kebangkitan
Islam di berbagai belahan dunia membuat hegemoni kekuatan adidaya
merasa terancam. Seluruh kekuatan dunia saat itu, yaitu Blok Timur dan
Barat berupaya memberangus Republik Islam Iran dan negara-negara yang
menyuarakan keadilan dan anti-imperialisme.
Karena
itu tak heran jika belakangan ini, hak-hak bangsa-bangsa muslim di
Afghanistan, Pakistan, Irak, Lebanon dan Palestina terus-menerus
menjadi sasaran kebiadaban negara-negara arogan. Ironisnya, meski
kejahatan AS dan rezim zionis Israel di Timur Tengah sudah begitu nyata
terpampang di depan mata, namun media-media Barat masih saja menuding
Islam sebagai sumber kekerasan dan menyebut Al-Quran sebagai ancaman
bagi peradaban manusia.
Sejatinya,
upaya penistaan Al-Quran yang mengatasnamakan gereja di AS merupakan
upaya untuk menimbulkan konflik horisontal yang lebih luas antarumat
beragama di tingkat global. Namun begitu, sebagaimana yang ditegaskan
Rahbar, umat Islam tidak akan terpancing untuk melakukan aksi serupa
dan terseret ke dalam skenario zionis yang mencoba mempertentangkan
umat Islam dan Kristen. Tentu saja, jika rezim penguasa AS memang
mengklaim dirinya sebagai pejuang hak asasi manusia dan kebebasan serta
mengutuk aksi penistaan terhadap kitab suci, maka sudah sepantasnya
mereka juga harus menindak tegas para pelaku penistaan Al-Quran di
negaranya. (IRIB/LV/NA)