Hari Quds Sedunia;
Titik Perubahan Perspektif Barat Soal Palestina
Sejak
penamaan hari Jum'at terakhir bulan Ramadhan sebagai Hari Quds Sedunia
oleh Imam Khomeini ra telah 31 tahun berlalu. Sejak itu pula telah
terjadi transformasi di tingkat masyarakat Palestina dan masyarakat
Islam sedunia. Kini perubahan ini telah menyebar dan merasuk ke
tengah-tengah masyarakat Barat.
Dalam
perang 33 Hari Lebanon dan 22 Hari Gaza umat Islam yang tinggal di
dunia Barat melakukan aksi unjuk rasa dan langkah-langkah pencerahan.
Aksi-aksi ini ternyata membuahkan hasil dan masyarakat Barat akhirnya
mengubah cara pandangnya terkait transformasi Timur Tengah. Perubahan
ini tentu saja banyak dibantu oleh media. Karena banyak jaringan media,
termasuk mereka yang mendukung gerakan muqawama di kawasan mengambil
peran penting dalam mencerahkan opini publik.
Perubahan
ini tentu saja meruntuhkan disain besar rezim Zionis Israel untuk
masyarakat Barat dan mampu melemahkan kinerjanya. Sekaitan dengan hal
ini, masalah mitos dan kebohongan holocaust yang menjadi andalan Zionis
Israel mulai dipertanyakan. Untuk itu setiap tahunnya mereka
menyelenggarakan acara "Peringatan Fasisme" guna mengingatkan
masyarakat Barat. Hollywood dan media-media lain dikerahkan untuk
menjustifikasi kebenaran holocaust.
Hasil
alami dari propaganda 60 tahun ini dapat disaksikan dalam pemikiran
bawah sadar masyarakat Eropa. Selama 6 dekade ini, mereka hidup dengan
rasa bersalah dan untuk menebus perilaku anti kemanusiaannya, mereka
harus membantu Zionis Israel yang dianggap pewaris Yahudi. Bantuan itu
sedemikian luasnya mencakup politik, ekonomi, persenjataan, finansial
dan lain-lainnya.
Namun
segalanya mulai berubah pasca perang Lebanon dan Gaza, Barat mulai
sadar bahwa Zionis Israel tidak seperti yang diriwayatkan dalam
holocaust. Zionis Israel bukan lagi korban genosida, tapi selama 60
tahun ini mereka malah menjadi pelaku genosida. Selama itu pula mereka
telah melakukan pembantaian luas terhadap warga Palestina.
Pemberitaan
yang seimbang oleh media-media pendukung muqawama mampu menyadarkan
masyarakat Barat bahwa Zionis Israel bukan korban kebijakan
diskriminasi. Sebaliknya, mereka tahu bahwa Zionis Israel satu-satunya
rezim apartheid di dunia saat ini. Benar, fenomena ini mampu
menyadarkan masyarakat Barat sekalipun terlambat. Namun dampaknya
adalah tergerusnya sistem yang selama ini telah diterapkan dengan apik
oleh Israel dan Zionis di Barat.
Banyak
parameter yang membuktikan telah terjadi perubahan baru di
tengah-tengah masyarakat Barat. Donald Bostrom, wartawan surat kabar
Aftonbladet berani membongkar kejahatan para tentara Zionis Israel
dalam kasus pembunuhan para pemuda Palestina dan pencurian anggota
tubuhnya. Kejahatan ini sebenarnya terjadi tahun 1992, namun baru
dipublikasikan tahun 2009. Tertundanya publikasi berita ini selama 17
tahun menjadi bukti hegemoni sistem yang telah ditanamkan oleh Zionis
Israel. Keberanian lain ahli-ahli hukum Spanyol, Inggris, Belgia,
Swedia dan lain-lainnya selama dua tahun terakhir ini untuk menggeret
para penjahat perang rezim Zionis Israel, khususnya terkait Jalur Gaza,
merupakan perilaku baru yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Pada
dekade 80-an Roger Garaudy, filsuf besar Perancis yang hanya
menjelaskan soal data statistik holocaust dan bukan inti masalah ini
akhirnya dipenjara. Semua ini buntut dari sistem Zionis yang telah
mengakar di Eropa. Namun kini sistem ini tengah menuju pada
kehancurannya. Para aktivis kemanusiaan yang benci Zionis Israel
semakin banyak dan aktif melakukan kegiatan-kegiatannya.
Inggris
adalah negara yang menjadi pendiri rezim Zionis Israel di Timur Tengah
dan merupakan negara pendukungnya di Barat. Berbeda dengan kondisi
sebelumnya, kini negara ini harus menyaksikan aksi demonstrasi
masyarakat di depan toko-toko besar demi mencegah penjualan
produk-produk Zionis Israel. Perilaku rakyat dan rasa kemanusiaan mulai
menampakkan mulai menyadarkan organisasi-organisasi sosial terkait
substansi Zionis Israel. Sekalipun terlambat, rasa tanggung jawab dan
kesadaran ini harus diapresiasi.
Meskipun
fenomena ini belum menyeluruh, namun pengaruhnya mulai merembet ke
tingkat resmi pemerintah. Dalam pertemuan Dewan HAM PBB untuk membahas
laporan Richard Goldstone dan kejahatan perang rezim Zionis Israel
serta tidak hadirnya 11 wakil negara-negara Eropa patut dicermati.
Karena Barat selama ini senantiasa membusungkan dadanya guna
menunjukkan dirinya sebagai pembela Zionis Israel. Ketidakhadiran 11
negara Eropa untuk membela kejahatan perang rezim Zionis Israel dalam
pertemuan itu merupakan perilaku baru dan tidak biasa. Begitu juga saat
pengadilan Inggris dan Spanyol mengeluarkan hukum anti Zionis Israel
merupakan perilaku baru yang tidak pernah ada sebelumnya di Eropa.
Pernyataan Uni Eropa pada 2009 dan mengancam Zionis Israel bila tetap
melanjutkan kebijakan pembangunan distrik zionis merupakan sikap baru
yang tidak pernah diambil sebelumnya.
Semua
indikator ini menunjukkan tengah terjadi perubahan di tingkat
masyarakat Islam berkat strategi Imam Khomeini ra dalam menjadikan aksi
sosial dalam perimbangan kekuatan menghadapi Zionis Israel. Kini
terjadi perubahan besar di tengah-tengah masyarakat Eropa dan bila
fenomena ini terus bergulir, Zionis Israel bakal menghadapi krisis yang
lebih berat.
Perlawanan
rakyat Gaza dalam perang 22 Hari telah menjadi sarana bagi pengiriman
kapal bantuan kemanusiaan guna membatalkan blokade daerah ini.
Kenyataan ini menunjukkan tengah terjadi kesepakatan internasional anti
Zionis Israel di tingkat masyarakat. Upaya membatalkan blokade Gaza
telah dimulai dengan pengiriman satu kapal dengan beberapa orang dari
satu negara. Namun kini aksi ini telah dilakukan dengan konvoi yang
berisikan ratusan lembaga-lembaga swadaya masyarakat dari lebih dari 40
negara. Di sisi lain, semakin banyak masyarakat yang bergabung untuk
membongkar lebih banyak kejahatan Zionis Israel dan membatalkan blokade
Gaza.
Ketika
Imam Khomeini ra menyatakan Zionis Israel sebagai tumor yang harus
dimusnahkan, tidak ada yang percaya bahwa suatu hari ucapan ini bakal
mendapat sambutan di Barat. Namun kini cara pandang ini telah menjadi
satu kenyataan. Bagaimana tidak, dalam sebuah jajak pendapat terbaru di
Eropa menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Eropa (54%) percaya Zionis
Israel merupakan ancaman bagi perdamaian dunia.
Bagaimana dengan anda? (IRIB/SL/MF)