Kearifan Lokal "Leuit", bukan Sekadar Lumbung Padi Setelah melalui hutan lebat, pada ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut tampaklah sekumpulan rumah. Meski terbuat dari kayu, mereka kokoh berdiri di kaki bukit Cikarancang, wilayah yang kini berada di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Itulah Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar. Secara administratif, kampung itu termasuk ke dalam wilayah Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.
Ciptagelar bersembunyi nun jauh di pedalaman. Akses terdekat untuk menggapainya adalah melalui Kampung Cikakak, tepat di seberang Samudera Beach Hotel, Palabuhanratu. Di pintu masuk kampung, di pinggir jalan, terdapat plang yang menginformasikan bahwa jarak tempuh Ciptagelar dari sana "hanya" 18 kilometer. Akan tetapi, setelah dijalani, waktu tempuh ke kampung itu mencapai lebih dari dua jam. Kendaraan tak bisa kencang dipacu lantaran kondisi jalan yang terjal dan berkelak-kelok. Apalagi, badan jalan didominasi tanah merah dan --di beberapa bagian-- hanya berupa susunan batu (agregat). Keadaan kian sulit bila hujan turun. Jalanan menjadi licin dan di banyak bagian berubah menjadi kubangan. ** begitu memasuki pintu gerbang kampung, di antara rumah-rumah penduduk, terdapat bangunan mungil yang berbaris rapi. Akan halnya rumah penduduk, bangunan itu juga beratap ijuk. Itulah leuit, bangunan yang berfungsi sebagai tempat menyimpan padi. Di kampung adat yang kini berpenduduk 36.000 jiwa itu memang terdapat banyak leuit. Soalnya, hampir semua keluarga memiliki leuit. "Begitu juga dengan 569 kampung lain yang berafiliasi kepada Ciptagelar. Tradisi menyimpan padi di dalam leuit masih kami pertahankan hingga sekarang," ujar Abah Ugi Sugriana Rakasiwi, pemegang wewengkon Kasepuhan Ciptagelar. Selain warga, secara kelembagaan, Kasepuhan Ciptagelar pun memiliki leuit khusus yang berukuran lebih besar yang dinamakan "Si Jimat". Leuit tersebut diletakkan tepat di samping imah gede, "rumah dinas" abah. "Leuit Si ’Jimat’ mampu menampung 5.000 ikat padi. Soal berat padi yang bisa ditampung? Tinggal kalikan saja. Satu ikat padi biasanya memiliki berat 3,5 kilogram," ujarnya. Yang menarik, Abah Ugi sendiri tak mengetahui secara persis kapan "Si Jimat" dibangun. Berdasarkan penuturan para pendahulunya, leuit itu dibangun pada tahun 13. "Apakah tahun 1913, 1813, 1713... atau berapa, tak ada yang bisa memberikan keterangan secara pasti. Orang-orang tua dahulu hanya menyebut tahun 13," ujar Abah Ugi yang kini berusia 26 tahun itu. Sekadar informasi, Kampung Adat Ciptagelar memang telah berdiri. Tahun ini, kampung tersebut memasuki usia ke-642 tahun. "Ini hanya berdasarkan catatan sejarah yang tertulis, yakni tahun 1368. Saya sendiri tidak tahu kapan Ciptagelar sesungguhnya berdiri. Selama kurun waktu itu, sesuai dengan tradisi yang ada, pusat kampung adat sudah beratus-ratus kali pindah. Setiap kali pindah, ’Si Jimat’ selalu diikutsertakan," ucapnya. ** Sesungguhnya, leuit merupakan salah satu kearifan lokal yang dimiliki masyarakat tradisional negeri ini. Tak di Jawa Barat, leuit alias lumbung padi juga dikenal oleh masyarakat di sejumlah daerah. "Simpanan padi di dalam leuit sebagai wujud kesiapan masyarakat untuk menghadapi kondisi paling buruk, yakni masa paceklik," tuturnya. Akan tetapi, sejauh ini, masa paceklik tak pernah menghampiri. Jadilah leuit mengalami pengayaan fungsi. Hari-hari ini, fungsi leuit "Si Jimat" yang paling menonjol adalah sebagai sumber dana talangan bagi warga adat yang kekurangan modal. "Biasanya, warga meminjam padi dari dalam leuit untuk kemudian dibelikan pupuk, benih, dan sebagainya. Mereka baru mengembalikan pinjaman ketika panen. Sebenarnya, tak banyak warga yang terpaksa meminjam dari ’Si Jimat’. Tahun lalu saja, padi yang keluar hanya seratus ikat," tuturnya. Karena frekuensi "lalu lintas" padi tidak terlalu ramai dan padat, tak heran jika kemudian "Si Jimat" menyimpan padi ranggeuyan berusia tua. "Bahkan, ada padi yang sudah berusia tiga puluh tahun," katanya. Abah Ugi berkisah, pada tahun 1984, Kasepuhan Ciptagelar mampu menyumbang beras terbesar ke Etiopia. Ketika itu, negeri di Benua Afrika tersebut dilanda bencana kelaparan. "Pemerintah Indonesia saat itu memutuskan untuk mengirimkan bantuan bahan makanan ke sana. Alhamdulillah, Ciptagelar bisa berkontribusi," ujar Abah Ugi. ** Hal serupa berlaku di Kampung Adat Kuta, Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis. Menurut Ketua Adat, Abah Karman (49), terdapat sepuluh leuit di seantero Kampung Kuta. "Dalam hal ini, adat hanya memiliki satu leuit. Adapun sisanya adalah milik pemerintah kampung dan milik pribadi. Setiap leuit hanya bisa menampung 1,5 ton hingga 2 ton padi. Tak ada yang besar seperti di Ciptagelar," tuturnya. Akan halnya Ciptagelar, leuit di Kampung Kuta juga sudah mengalami pengayaan fungsi. Bedanya, "lalu lintas" padi di Kampung Kuta lebih ramai. "Setiap tahun, selama tiga bulan, leuit pasti kosong. Soalnya, semua padi yang disimpan di dalam leuit dipinjam warga. Padi hasil pinjaman itu dijual untuk kemudian dijadikan modal bercocok tanam satu musim. Padi yang dipinjam itu baru dikembalikan ketika musim panen tiba, kira-kira empat bulan. Jadi, saat ini, leuit yang kami miliki lebih banyak fungsi sosialnya. Ya, lebih baik begitu daripada disimpan lama-lama," katanya. Abah Karman menuturkan, biasanya, warga yang meminjam memberi tambahan padi saat membayar utang. Itu semua dilakukan atas dasar sukarela. Soalnya, adat memang tak memiliki ketentuan baku soal itu. "Misalnya, kalau meminjam satu kuintal, warga memberi tambahan 10 kilogram. Itu sebagai tanda ucapan terima kasih," tuturnya. (Hazmirullah/"PR")*** http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=156223
