Rada pakepuk jigana wartawan nulis artikelna.
Cing korehan dimana pakepukna? Hehehe


Dikenal di Seantero Negeri

*Ati tungau samo dicaca, ati gaja samo dilapa
Indak samo dicari, ado samo
dimakan*

Tradisi menanam padi di dalam lumbung sesungguhnya bukanlah milik suku
Sunda. Banyak suku lain di negeri ini yang juga memiliki kebiasaan yang
sama. Dua daerah yang terkenal dengan tradisi itu adalah Tana Toraja
(Sulawesi Selatan) dan Minangkabau (Sumatra Barat).

Masyarakat Tana Toraja memiliki dua jenis lumbung, yakni alang dan gorang.
Alang merupakan lumbung padi yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat
menyimpan padi, tetapi sekaligus sebagai simbol status sosial pemiliknya
(bangsawan atau orang kaya). Pada waktu-waktu tertentu, alang juga berfungsi
sebagai bangunan untuk menerima tamu dan tempat pertemuan keluarga/warga.
Pada upacara adat, alang juga berfungsi sebagai bangunan tempat singgah
orang-orang yang dihormati (To`Dua dan To`Parenge).

Sementara gorang merupakan lumbung yang hanya berfungsi sebagai tempat
menyimpan padi. Gorang dimiliki oleh keluarga biasa.

Bagi masyarakat Tana Toraja, lumbung merepresentasikan miniatur rumah.
Tiang-tiang yang menyangganya tidak bersegi --seperti pada tiang tongkonan
(rumah adat Tana Toraja)-- tetapi bulat. Biasanya, lumbung terbuat dari kayu
banga (Corypha gebanga) dan dipelitur untuk mencegah naiknya tikus ke ruang
penyimpanan.

**

orang Minangkabau lebih kompleks lagi dalam pengelolaan lumbung padi
(rangkiang). Mereka membagi-bagi fungsi lumbung padi berdasarkan sistem
pemerintahan tradisional yang berlaku. Oleh karena itu, lumbung padi pun
diberi nama (julukan) sesuai dengan peruntukannya.

Berdasarkan penelusuran, "PR" mencatat sejumlah rangkiang yang memiliki
fungsi tertentu, terutama terkait dengan hajat rumah gadang (rumah adat
sekaligus pusat pemerintahan tradisional Minangkabau). Pertama, Sitinjau
Lauik, disebut juga Kapuak Adat Jo Pusako. Bentuknya lebih langsing
dibandingkan dengan rangkiang lain, berdiri di atas empat tiang, dan
terletak di tengah-tengah barisan rangkiang yang lain.

Padi yang berada di dalam rangkiang ini hanya digunakan untuk keperluan
adat, seperti tagak panghulu, kematian, dan lain-lain. Di dalam beberapa
literatur, padi di dalam rangkiang ini juga digunakan untuk memenuhi
keperluan mereka yang pulang bepergian jauh, atau mereka yang kemalaman di
tengah perjalanan.

Rangkiang kedua adalah Sibayau-bayau atau Kapuak Salang Tenggang. Padi di
dalam rangkiang ini digunakan untuk makanan sehari-hari anggota keluarga
rumah gadang. Ketiga, Sitangka Lapa atau Kapuak Gantuang Tungku. Padi di
dalam rangkiang inilah yang digunakan untuk mengatasi masa paceklik.

Keempat, Kaciak Simajo Kayo yang disebut juga Kapuak Abuan Rang Mudo. Padi
di dalam rangkiang ini digunakan untuk keperluan anak-anak muda yang tinggal
di dalam rumah gadang. Biasanya, untuk keperluan menikah.

Selain itu, masyarakat Minangkabau juga mengenal sejumlah rangkiang yang
berfungsi memenuhi kebutuhan orang-orang di luar rumah gadang. Rangkiang
pertama adalah Mandah Pahlawan atau Kapuak Tuhuek Parang. Padi di dalam
rangkiang ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan orang-orang yang
mempertahankan kampung halaman dari serangan musuh.

Ada lagi rangkiang yang dinamakan Harimau Paunyi Koto, disebut juga Kapuak
Pambangunan Nagari. Padi di dalam rangkiang ini digunakan untuk keperluan
pembangunan daerah. Ada pula yang disebut Galuang Bulek Basandiang atau
Kapuak Abuan Panghulu. Padi di dalam rangkiang ini digunakan untuk
kepentingan penghulu yang ada dalam kaum tersebut agar memiliki jaminan
ekonomi dalam menjalankan tugas-tugas adat.

Terakhir, ada rangkiang yang dinamakan Garuik Simajo Labiah, disebut juga
Kapuak Abuan Sumando. Padi di dalam rangkiang ini digunakan untuk
kepentingan anak dan kemenakan urang sumando (orang pendatang).

Berdasarkan cerita, dahulu, di setiap rumah setidaknya terdapat tiga jenis
rangkiang, yakni Sitinjau Lauik, Sibayau-bayau, dan Sitangka Lapa. Akan
tetapi, saat ini, tradisi menyimpan padi di dalam rangkiang perlahan-lahan
ditinggalkan. Rangkiang yang ada saat ini tak lebih dari sekadar hiasan.
"Bahkan, di rumah gadang sendiri, sekarang, hanya ada satu rangkiang. Kalau
saya sendiri, lebih mengenal rangkiang itu sebagai merek kopi," ujar
Herisman (35), seorang kawan asal Padang Pariaman. (Hazmirullah/"PR", dari
berbagai sumber)***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=156221

Kirim email ke