RUNTUHNYA PERADABAN AIR
by Richadiana Kartakusuma<http://www.facebook.com/profile.php?id=1537983874>on
Sunday, September 26, 2010 at 1:41pm

*RUNTUHNYA PERADABAN AIR*



PERADABAN manusia dimulai dengan peradaban air. Sejarah umat manusia dimulai
dengan peradaban peramu dan pemburu yang usianya ratusan ribu tahun.
Kecenderungan peradaban ini adalah konsumsi. Manusia hidup dari memangsa apa
yang disediakan alam raya. Akan tetapi, alam begitu perkasa dan kaya
sehingga manusia yang jumlahnya belum begitu banyak dapat menyusu alam raya
dengan merdeka.



Planet bumi masih hijau dan alam raya masih perkasa. Bumi belum ditaklukkan
manusia. Namun, hidup manusia masih sibuk dengan mengumpulkan bahan makanan
dari alam. Akibatnya, jalan peradaban berlangsung lamban. Sebagian besar
hidup manusia di bumi ini dihabiskan dengan meramu dan berburu. Alam pikiran
tidak berkembang. Sebaliknya, alam perasaan dan intuisi merambah ke
spiritualitas, yang melahirkan mitos-mitos dalam religi purba.



Peradaban air baru muncul 7.000 atau 8.000 tahun yang lalu. Manusia mulai
hidup menetap, tidak lagi nomad seperti peradaban sebelumnya. Peradaban air
dimulai saat itu, yakni hidup produktif bersama keperkasaan alam. Mereka
menetap di tepi-tepi sungai besar dan mengembangkan peradaban hidraulik atau
sawah basah. Sejak saat itulah kebudayaan manusia mulai dikenal.



Kebudayaan manusia mulai berkembang pesat sejak peradaban air. Dalam waktu
singkat, yakni sekitar 8 ribu tahun, pikiran manusia berkembang begitu pesat
sehingga pendulum hubungan manusia dan alam terbalik. Dulu alam menguasai
manusia dan kini manusia menguasai alam dengan pikirannya. Bumi terancam.
Inilah yang kita risaukan sekarang.



Surga manusia itu berlangsung pada masa peradaban air. Pada masa itu
terjalin hubungan timbal balik yang saling menguntungkan antara alam dan
manusia. Manusia menjaga kelestarian alam dan alam memberikan kesuburan
tanaman pada manusia. Bulan madu bumi dan manusia ini berlangsung cukup lama
sampai munculnya revolusi industri pada abad ke-18. Revolusi industri yang
diagung-agungkan manusia sebagai pencapaian puncak peradabannya, ternyata
mengancam keberadaan planet bumi ini.



Dalam waktu 300 tahun peradaban industri, kekayaan bumi diisap habis-habisan
sampai tetes-tetes terakhir air susunya. Bumi mulai sakit, dan sekarang
terancam sekarat. Ibunda bumi mulai menderita kekeringan dan kehilangan
kesuburannya. Semua itu terjadi akibat manusia, melalui alam pikirannya yang
semakin cerdas, mengejar apa yang dinamai sebagai kebahagiaan duniawi.
Manusia mengejar kebutuhan dan kemudahan tubuhnya.



Peradaban air telah diganti dengan peradaban industri. Alat-alat mesin yang
memproduksi asap kimia menjadi simbol kebanggaan manusia. Di Indonesia pun
manusia ikut berlomba menjadikan tanah air ini negara industri, sejajar
dengan negara-negara industri yang telah lama membanggakan diri atas
pendapatan per kapitanya. Tidak ada modus lain di dunia ini untuk tetap
hidup dalam peradaban air yang sudah kuno dan ketinggalan zaman.



Cerita Superman pada suatu saat akan kita alami. Kita akan membuat teknologi
yang dapat mengirimkan anak cucu kita mencari planet primitif di alam
semesta ini. Pada suatu saat nanti tidak ada lagi tumbuh-tumbuhan, tidak ada
lagi air di bumi, kecuali air kimiawi sehingga manusia harus menciptakan
piring-piring terbang mencari tumbuhan dan air. Air yang dahulu gratis, pada
saat itu bisa menjadi penyebab "perang bintang".



BETAPA mulianya air. Pentingnya air bagi hidup ini dapat digali dari
peradaban air dalam sejarah umat manusia. Dalam primbon-primbon Indonesia,
air merupakan salah satu unsur keberadaan ini, sejajar dengan tanah, angin,
dan api. Kombinasi dari unsur-unsur itu adalah hidup, kelestarian,
keselamatan, kesuburan. Manusia selalu merindukan tanah basah. Tanah air.



Dari mana asalnya air? Nenek moyang orang Indonesia mengenal betul asal air,
yaitu dari gunung-gunung berhutan perawan yang mengalirkan sungai-sungainya
ke laut. Itulah sebabnya hunian-hunian tua di Indonesia selalu berada di
tepi sungai. Tempat ideal manusia adalah bertemunya dua sungai.
Kraton-kraton besar selalu dibangun di antara dua atau empat atau delapan
aliran sungai. Di situlah hidup dan kemakmuran dimungkinkan.



Dalam sejarah Mataram kuno dikenal adanya prasasti yang disebut Tuk Mas
(Mata Air Emas) di lereng Merbabu-Merapi. Mata air adalah tambang emas. Mata
air adalah kesuburan, kemakmuran, hidup, kekayaan yang tak terhingga
nilainya. Di Sunda dikenal Sumur Bandung, atau tujuh mata air yang berjajar.
Ada kepercayaan bahwa pengantin harus* *imandikan dengan air yang berasal
dari tujuh "sumur" tadi agar subur rahimnya seperti sawah-sawah yang
menghasilkan bulir-bulir padi besar.



Hunian-hunian di Sunda selalu menyebut kata keramat yang bermakna cai atau
air. Di Melayu nama-nama hunian manusia tak sedikit yang memakai nama "air"
ini. Begitu pula di daerah-daerah lain di Indonesia. Air bukan hanya untuk
hidup, tetapi air adalah kehidupan itu sendiri. Dalam masyarakat agraris,
air adalah segalanya. Air memproduksi tanaman (padi) dan padi adalah hidup
manusia. Mitos-mitos asal mula padi ada dimana-mana di Indonesia. Padi
adalah emanasi dari tubuh Dewi Sri, Po Haci, bidadari langit, dengan
demikian transenden nilainya. Air dan padi adalah spiritualitas, bukan
sekadar produk pikiran manusia. Pikiran manusia tak mampu menghidupkan padi.
Padi itu urusan dunia atas.



Kerajaan-kerajaan besar di Indonesia berdasarkan agraria ini. Siapa
menguasai agraria berarti menguasai manusia. Dan agraris itu tergantung pada
air, sungai, gunung-gunung, dan hutan. Itulah sebabnya batas Negara
ditengarai oleh batas sungai-sungainya. Pembagian negara dipisahkan oleh
sungai. Sungai dan air adalah batas kekuasaan raja-raja zaman peradaban air
Indonesia .



Di kampung-kampung Sunda (dan daerah-daerah lain di Indonesia) orientasi
kampung adalah gunung, sumber asal usul air. Perkampungan didirikan di tepi
sungai (Cibatu, Cikalong, Cidurian) dengan kampung paling tua ke arah hulu
sungai, kampung paling muda di arah hilir sungai. Kampung tua selalu dekat
dengan hutan atau sengaja dihutankan. Di situlah dikuburkan para buyut
kampung (kabuyutan). Buyut itu dekat sumber mata air yang berada di gunung.
Manusia dan air adalah inti peradaban pertanian.



Dalam lembaga-lembaga sosial besar maupun kecil, kerajaan dan kampung
orientasi pada air, sungai, gunung, hutan menjadi keharusan. Pertanian sawah
(hidraulik maupun pertanian ladang orientasi hidupnya tetap sama. Mereka
melestarikan gunung dan hutan demi air. Air bukan hanya minuman, tetapi juga
makanan. Peradaban air pada dasarnya "makan air".



Peradaban air adalah "jalan tengah" antara peradaban peramu pemburu dan
peradaban industri. Peradaban peramu, alam menguasai manusia. Peradaban
industri manusia menguasai alam. Peradaban air, manusia hidup bersama alam
dan dengan alam. Harmoni alam-manusia ini berlangsung cukup lama di
Indonesia, sekitar 5 ribu tahun, yakni sejak manusia Indonesia menghuni
kepulauan ini. Multatuli menamakannya sebagai zamrud khatulistiwa.



Kodrat Indonesia adalah negara tropis yang kaya raya dengan fauna dan flora.
Hanya ada dua musim. Kaya dengan gunung-gunung dan hutannya. Dengan
demikian, kaya dengan aliran-aliran sungai. Kearifan nenek moyang Indonesia
untuk hidup dalam peradaban air adalah puncak pencapaiannya. Alam pikiran
Indonesia dibentuk oleh peradaban air ini. Itulah kearifan lama Indonesia.



Sejak kolonisasi Belanda tahun 1800, sedikit demi sedikit peradaban air
diarahkan pada peradaban industri modern. Industri pertanian dan industri
tambang mulai menggeser peradaban air kita. Industri dan perdagangan mulai
membunuh peradaban air.



RAFFLES melaporkan pada tahun 1813 bahwa pulau Jawa 7,8 wilayahnya masih
merupakan hutan. Sekarang ini barangkali hutan tinggal 1/8 saja di pulau
Jawa. Dalam jangka waktu 200 tahun peradaban air telah berganti menjadi
peradaban industri. Hutan-hutan pabrik ada dimana-mana di pulau Jawa ini
yang dahulu tata tentre kerta raharja ini. Kini, telah menjadi kacau balau
melarat miskin dan memproduksi TKI yang luar biasa banyaknya.



Orientasi industri adalah kekayaan modal, budaya uang. Uang adalah air dalam
peradaban agraris. Modal uang inilah yang telah membuat gungung-gunung kita
mandul dan sungai-sungai mengering. Hutan-hutan ditebangi demi uang, modal
dasar industri. Itulah sebabnya kita menyibukkan diri pinjam modal luar
negeri dalam mengejar ketertinggalan kita sebagai negara industri.
Merajalelanya korupsi menyebabkan kegagalan membangun negara industri.
Sementara peradaban pertanian telah ditinggalkan. Dari mana kita membayar
pinjaman? Dari mana kita mampu bertahan hidup? Sementara para petani telah
lama kita bunuh.



Ini semua disebabkan alam pikiran kita masih berperadaban tani, sedang
tujuan kita peradaban industri. Industri itu muncul dalam sejarah Eropa yang
telah lama meninggalkan peradaban pertaniannya dalam abad pertengahan.
Indonesia yang tani tiba-tiba harus menjadi industri, dan kita tidak siap
dengan strategi perubahan ini. Model industri kita adalah
Eropa-Amerika-Jepang. Sementara mentalitas kita masih air. Mengapa tidak
kembali pada peradaban air?



Peradaban air akan membuat Indonesia kembali sebagai zamrud khatulistiwa.
Gunung-gunung akan hijau kembali, hutan-hutan tumbuh lagi, sungai-sungai
akan mengalir kembali. Produk kita bukan industri tetapi bahan mentah
industri. Para petani kita hidupkan kembali dari kematian yang lama.
Petani-petani modern yang multikultur, bukan monokultur padi saja.



Peradaban air adalah kodrat manusia khatulistiwa. Dengan sikap ini sekaligus
kita menyumbang pada peradaban dunia yang telah diracuni oleh limbah
industri. Menteri Pertanian dan Kehutanan adalah presiden kita yang
sesungguhnya. Bukan presiden tani yang dikendalikan menteri-menteri industri
pada Era Soeharto.



Para petani Indonesia akan berdasi dan mengontrol pertaniannya naik mobil
dan helikopter. Istana-istana mewah bukan hanya dibangun di pusat-pusat kota
kaum elite penguasa dan pengusaha, tetapi akan tersebar di daerah perdesaan.
Orang-orang kota akan melamar kerja pada petani-petani elite desa. Arus
urbanisasi dengan sendirinya berhenti. Pedagang-pedagang kaki lima mengalir
ke desa-desa menjadi buruh tani yang berstatus pegawai pertanian. Semua
pelabuhan Indonesia dipenuhi produk pertanian yang siap diekspor ke
negara-negara industri.



BARANGKALI itu semua cuma impian di siang bolong. Sebab, dalam waktu yang
tak begitu lama, hutan-hutan Indonesia akan gundul dan menjadi padang
gersang. Sungai-sungai di pulau Jawa akan menjadi lahan perumahan.



Perumahan murah akan dibangun 300 meter dari puncak-puncak gunung. Hutan
bakau disulap menjadi perumahan mewah tepi pantai. Anak-anak dan cucu kita
hanya mengenal makna air dalam kemasan botol. Mereka tidak kenal lagi makna
hutan dan sungai yang dibacanya dalam dongeng kanak-kanak.Peradaban air kita
sedang sekarat, runtuh.



Disarikan dari *Jakob Sumardjo*

*
http://www.facebook.com/notes/richadiana-kartakusuma/runtuhnya-peradaban-air/436791449474
*

*
*

Kirim email ke