Wa'alaikumsalam Wr Wb
Setuju kang Cepi....

"Stop menghakimi dan melanggar HAM atas nama pemberantasan Teroris"

tambihan kang...

"Stop Pengeboman, Perampokan, Kekerasan atas nama Agama/Islam"

Wassalam Wr Wb

--- On Tue, 9/28/10, Cepi Al Hakim <[email protected]> wrote:

From: Cepi Al Hakim <[email protected]>
Subject: [Urang Sunda] Gawat! Densus 88 Habisi Jamaah Sedang Shalat, Dua Tewas
To: "Majalah Sabili" <[email protected]>, "muhammadiyah society" 
<[email protected]>, "pesantren daarut tauhid" 
<[email protected]>, "alumni darularqam" 
<[email protected]>, [email protected], 
"kaulamuda NU" <[email protected]>, [email protected], 
"forum lingkar" <[email protected]>, "persaatun pelajar" 
<[email protected]>, "urang sunda" <[email protected]>, "insan 
cita" <[email protected]>, "Civil Society" <[email protected]>, 
"Forum Sosial Milist" <[email protected]>
Cc: "cepi alhakim" <[email protected]>
Date: Tuesday, September 28, 2010, 10:35 AM










        











Ass. Wr.  Wb.Kita memang mengutuk keji kegiatan terorisme, apapun 
bentuknya...tapi selama ini Islam selalu yang jadi sasaran. Stop menghakimi dan 
melanggar HAM atas nama pemberantasan Teroris, janga samapai membuat provokasi 
dan ummat Islam marah dan menyebabkan hal-hal yang lebih mengarah pada dendam 
dan menimbulkan masalah baru.

Apakah tidak ada cara yang lebih persuasif dalam menangani tersangka Teroris, 
selain memberondong dan menangkap orang yang salah.

Wassalam,
 Al Hakimc


Gawat! Densus 88 Habisi Jamaah Sedang Shalat, Dua Tewas

JPNN - 
Padang Today




Ilustrasi

Tindakan yang dilakukan Densus 88 terhadap Khairul Ghozali bersama 4 
orang jemaahnya saat shalat maghrib di Jalan Besar Medan-Tanjung Balai 
Asahan, dinilai sebagai tindakan yang biadab tidak berperikemanusiaan.

Pernyataan
 tersebut ditegaskan Adil Akhyar Al Medani, didampingi putri kandung 
ustadz Ghozali, Rabbaniyah (17) kepada Sumut Pos (grup Padang-Today.Com)
 Jumat (24/9) di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan Jalan Hindu Medan.

"Biadab.
 Saat orang shalat dihabisi, seolah-olah negera ini bukan Negara hukum. 
Dalam penyerangan biadab itu, dua orang jemaah itu tewas di tempat 
akibat ditembaki Densus 88, sedangkan seorang lagi dapat melarikan diri.
 Sementara itu abang saya, ustadz Ghozali itu terus dianiaya 
diinjak-injak densus, namun abang saya itu tetap terus shalatnya," tegas
 pemilik Pondok Pesantren Dkwah Daarul Syifaa.

Atas penyerangan 
yang tidak berprikemanusiaan itu, sambung Akhyar, diharapkan agar 
presiden segera meninjau dan membubarkan Densus 88 karena telah 
melanggar dan bertindak diluar hukum.

"Saya minta agar presiden 
SBY agar memperhatikan konfrensi pers ini.Jangan presiden hanya 
mendengarkan laporan sepihak dari Kapolri BHD.Kami juga meminta pada 
komisi III DPR-RI, untuk segera mngusut tuntsa kasus ini, dan segera 
meninjau kembali densus 88, karena sudah tidak berprikemanusiaan," tegas
 Akhyar.

Akhyar sendiri sudah mengetahui keberadaan abang 
kandungnya tersebut, ustadz Ghozali yang saat ini info yang dia terima 
berada di Mebes Polri.Sementara itu langkah hukum yang akan ditempuh 
keluarga besar Ghozali yakni sudah melamporkan kasus ini ke Amnesty 
Internasional.

"Saat ini kami sudah memberikan keterangan pada 
Amnesty Internasional, laporan tersebut sudah diterjemahkan kedalam 
bahasa Inggris, nah untuk keponakan saya yang masih berumur beberapa 
bulan yang ditahan Polres Tanjung Balai, bersama ibunya Kartini 
Panggabean, kami juga sudah melaporkan ke Komisi Perli Anak Indonesia," 
beber pria berjubah putih ini.

Akhyar juga menceritakan 
selamatnya Kartini Panggabean istri dari ustadz Ghozali, karena Cici 
(Kartini Panggabean red) berada di ruangan lain. "Namun usai penyerangan
 tersebut tidak berapa lama datang Polres Tanjung Balai, ke kediaman 
abang saya seolah-olah tidak mengetahui penyerangan tersebut.Saat itulah
 Kartini Panggabean bersama anaknya yang masih berumur beberapa bulan 
diboyong ke Polres, dengan alasan polisi untuk diminta keterangannya," 
terangnya.

Sementara itu salah seorang putrid ustadz Ghozali, 
yakni Rabbaniyah, pelajar Kelas 2 SMA Kelas Muhammdiyah 18 Kampung 
Lalang yang turut mendampingi pamannya Adil Akhyar Al Medani, di LBH 
Medan Jalan Hindu Medan, berharap orangnya tuanya tersebut segera pulang
 kerumah untuk berkumpul bersama keluarganya.

"Saya berhaharap 
buya (ayah) pulang secepatnya untuk berkumpul bersama keluarga lagi.Saya
 yakin buya tidak bersalah untuk itu saya hanya hanya bisa menyerahkan 
dan berdoa pada Allah SWT," beber gadis manis berkerudung hijau ini. 
Walaupun, ayahnya dicap teroris oleh Densus 88, namun Rabbaniyah tetap 
percaya pada orang tuanya dan tetap bersemangat untuk bersekolah.

"Saya
 berharap kasus penganiayaan buya saya dilakukan Densus 88, saat 
menjalankan ibadah shalat maghrib, dapat menjadi perhatian serius dari 
bapak Presiden SBY, agar polisi-polisi itu segera ditindak tegas sesuai 
hukum yang berlaku," tegas Rabbaniyah.(rud)
                                  
                                  

http://padang-today.com/index.php?today=news&id=21235









    
    







 




      

Kirim email ke