tah ieu tantangan keur mapag pajajaran anyar teh. berbasis kultural cenah. hn*ocatea
2010/7/9 Ahsa <[email protected]> > > > > Menggagas Sunda Masa Depan > > Oleh H. M. Didi Turmudzi > > MASYARAKAT Sunda memerlukan strategi kebudayaan (culture strategy) untuk > menyongsong masa depan. Strategi kebudayaan ialah sesusun agenda atau > rancangan kebijakan yang memungkinkan wawasan dan pengetahuan budaya > direalisasikan dalam perubahan tatanan kehidupan bersama ke arah yang lebih > baik. Strategi ini bersifat holistik dalam cakupannya dan bersifat jangka > panjang dalam jangkauannya. > > Harus diakui, gagasan seperti ini bukan gagasan baru. Paling tidak, selama > ini sempat tercetus aspirasi kolektif untuk merumuskan visi Sunda masa > depan, khususnya ketika kita mulai memasuki milenium baru. Pada masa > kepemimpinan Gubernur R. Nuriana, misalnya, elemen-elemen masyarakat Sunda > pernah bertemu dan bertukar pikiran mengenai berbagai aspek kesundaan. > Namun, dokumen-dokumen yang dihasilkan oleh forum-forum seperti itu masih > memerlukan langkah-langkah sosialisasi yang lebih jauh agar substansinya > benar-benar menjadi muatan pikiran bersama dan pada gilirannya dapat menjadi > inspirasi bagi perumusan kebijakan publik. > > Mengapa masyarakat Sunda memerlukan strategi kebudayaan? Untuk menjawabnya, > kita dapat membayangkan permainan sepak bola. Ketika bermain sepak bola, > tentu saja kita harus memastikan terlebih dahulu pola permainan seperti apa > yang akan kita kembangkan untuk mencetak gol di gawang lawan. Dengan kata > lain, tanpa strategi kebudayaan, masyarakat Sunda akan sulit menyesuaikan > diri dengan perubahan kehidupan yang tiada henti. > > Tanpa strategi kebudayaan, kita cenderung bersikap reaksioner dalam > menanggapi gejolak kehidupan, dan mudah diombang-ambing beragam isu publik > yang terus bermunculan. Biasanya, sikap demikian disertai dengan > kecenderungan berpaling ke masa lalu, membayang-bayangkan keagungan yang > telah hilang, sebagai selubung bagi ketidakberdayaan menanggapi kenyataan > baru. Tanpa strategi kebudayaan, masyarakat Sunda hanya dipermainkan isu > publik, bukannya ikut mengarahkan isu publik. > > Cakrawala global > > Selama abad kedua puluh, sejalan dengan semangat zamannya, aspirasi > masyarakat Sunda cenderung ditempatkan dalam kerangka nasional. Kelahiran, > pertumbuhan, dan dinamika Paguyuban Pasundan, misalnya, senantiasa > menekankan komitmen untuk turut memelihara dan mengembangkan potensi > kesundaan dengan tidak mengabaikan pentingnya bangunan kebangsaan Indonesia > hasil perjuangan menentang kolonialisme. Dengan kata lain, aspirasi > masyarakat Sunda senantiasa diarahkan kepada upaya-upaya pembangunan bangsa. > > > Dalam abad ke-21, kita hidup dalam keadaan yang semakin menuntut kita untuk > parigel menempatkan diri dalam cakrawala global. Bangsa Indonesi, mau tidak > mau harus berupaya menunjukkan komitmennya terhadap kepentingan masyarakat > sejagat. Masalah-masalah yang menjadi wacana dalam percaturan global, > seperti krisis ekologi, perubahan iklim, ancaman terorisme, dan sebagainya > kian menuntut setiap warga lingkungan budaya, tak terkecuali masyarakat > Sunda, untuk memberikan kontribusinya terhadap upaya-upaya untuk mengatasi > permasalahan seperti itu. Dengan demikian, keberadaan dan kelangsungan > budaya Sunda semakin ditentukan seberapa besar kontribusi yang dapat > diberikan lingkungan budaya tersebut terhadap kepentingan masyarakat > sejagat. > > Di sinilah letaknya signifikansi upaya-upaya untuk menggali berbagai > kearifan lokal, tak terkecuali di lingkungan budaya Sunda. Nilai-nilai > budaya Sunda perlu dan penting digali bukan sekadar untuk menegaskan jati > diri, melainkan terutama untuk memastikan relevansinya dengan kepentingan > masyarakat kontemporer. Dengan berpijak pada khazanah kearifan lokal > sendiri, kita berupaya turut menyiasati dan mengatasi berbagai masalah yang > melanda umat manusia di dunia. > > Kepemimpinan kultural > > Upaya-upaya seperti itu memerlukan kepemimpinan dalam arti seluas-luasnya. > Kepemimpinan yang dimaksud mencakup komitmen, kapabilitas, dan integritas > untuk merumuskan dan merealisasikan visi dan misi sedemikian rupa sehingga > dapat menjadi inspirator bagi setiap tindakan kreatif di berbagai sektor. > Kepemimpinan orang Sunda antara lain dapat termanifestasikan dalam > tindak-tanduk inohong-nya, sepak terjang organisasinya, dan > inisiatif-inisiatifnya dalam berbagai bidang kepentingan publik. > > Memang, sudah sering timbul pembicaraan mengenai kecilnya andil orang Sunda > dalam kepemimpinan nasional dewasa ini. Meskipun rujukan faktual dari > masalah itu tidak dapat dimungkiri, tetapi kita juga perlu mengingat, > kepemimpinan di bidang politik bukan satu-satunya kepemimpinan yang penting > diperhatikan. Tanpa mengabaikan pentingnya bidang politik formal, kita juga > dapat melihat banyaknya sektor kegiatan kolektif yang memberikan peluang > cukup lapang bagi orang Sunda untuk turut memberikan andil kepemimpinannya. > > Yang perlu ditekankan dalam hal ini, lagi-lagi, adalah agenda untuk > mendorong sumber daya manusia dari lingkungan budaya Sunda agar meningkatkan > kinerjanya di sektor masing-masing. Peningkatan kinerja orang Sunda kiranya > akan dengan sendirinya turut membuka peluang bagi nilai-nilai budaya Sunda > itu sendiri untuk memastikan relevansinya dengan berbagai bidang kehidupan. > > Demikianlah, sekelumit gagasan yang mudah-mudahan dapat kiranya turut > memperkaya pertukaran pikiran yang diperlukan untuk memelihara, > memperbaharui, dan mengembangkan kebudayaan Sunda. Mari kita songsong masa > depan dengan berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal kita sendiri.*** > > Penulis, Sekjen PB Paguyuban Pasundan. > http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=147946 > -- > ------------------------------------------------------------- > http://groups.yahoo.com/group/apisejarah/ > ............................................................. > blog: www.ahmadsahidin.wordpress.com > ------------------------------------------------------------- > >
