agama arab dengan agama sunda
agama islam dengan bangsa sunda
bangsa arab dengan bangsa sunda
bangsa arab beragama sunda
agama islam dengan bangsa arab.
agama sunda dengan bangsa sunda
bangsa sunda beragama islam
bangsa arab beragama islam
bangsa sunda ber agama sunda.

mana anu leuwih konsisten?
da saya mah resep bermatematik ria

hn*ocatea



2010/8/7 mh <[email protected]>

>
>
> Islam Sunda dan Sunda Islam
>
> Oleh ASEP SALAHUDIN
>
> Islam Sunda dan Sunda Islam yang pertama kali dilontarkan Haji Endang
> Saefudin Anshari nyaris sudah menjadi jargon. Walaupun sesungguhnya kita
> belum membuktikan secara ilmiah relasi Islam-Sunda dan Sunda-Islam. Klaim
> dua nomenklatur yang sesungguhnya memiliki sejarah yang berbeda kita terima
> sebagai fakta keseharian masyarakat Sunda, tanpa merasa perlu mengecek aspek
> epistemologisnya.
>
> Benarkah Sunda itu identik dengan Islam dan Islam itu identik dengan Sunda?
> Jawabannya, kalau merujuk kepada tesis Jakob Sumardjo, kita jangan cepat
> mengambil kesimpulan seperti itu. Interupsi Profesor Jakob dalam konteks ini
> benar-benar ditancapkan di atas pijakan argumen yang ajek.
>
> Terlepas dari itu, sesungguhnya kalau kita mau mengkaji pemikiran pujangga,
> filsuf, dan ulama terkemuka Sunda, Haji Hasan Mustapa, akan kita dapati satu
> upaya untuk mengawinkan Islam dan Sunda tanpa satu sama lain saling
> menegasikan. Upaya kreatif ini minimal menjadi pintu masuk untuk meneguhkan
> bagaimana Islam musti ditafsirkan dalam napas penghayatan manusia Sunda,
> kalau agama itu memiliki hasrat untuk "menyatu" dengan budaya lokal. Tidak
> secara langsung, Haji Hasan Mustapa tengah berupaya mengislamkan Sunda dan
> menyundakan Islam.
>
> Tidak tanggung-tanggung, ijtihad budayanya ini dijangkarkan kepada pijakan
> pokok pedoman hidup umat Islam, Alquran. Bagi haji Hasan Mustapa, Alquran
> itu tidak mesti dipahami dalam konteks ideologi dan geneologi pengetahuan
> Arab, tetapi justru harus dijangkarkan dalam tradisi lokal dalam hal ini
> semangat kebudayaan Sunda: ieu ditulis ku Kaula Kuranna, jeung ukuran jiwa
> Kaula.
>
> Menjadi sangat dipahami pula ketika dia menginterpretasikan Alquran,
> pembaca tidak dibawa ke alam Timur Tengah, tetapi justru yang mengendap
> dalam layar bawah sadarnya adalah ingatan tentang alam dan kebudayaan Sunda.
> Yang tergambarkan bukan pedang, tetapi kujang. Yang teringat tidak fantasi
> padang pasir yang tandus, tetapi alam pasundan (dahulu) dengan gunung
> menjulang dan sawah yang hijau, sungai dengan air jernih mengalir. Yang
> muncul bukan manusia yang kepalanya dibulen serban, tetapi sosok-sosok yang
> kepalanya diikat iket, baik iket perengkos nangka, barangbang semplak, atau
> julang ngapak, porteng, talingkup, borongsong keong, udeng, kuda ngencar,
> bungkus peuyeum, dan babalian. Yang menjadi objek korespondensinya bukan
> jubah, tetapi baju kampret atau pangsi. Tidak juga terbayangkan suara gembus
> dan rebana dengan tari perutnya tetapi kecapi, suling, atau cianjuran,
> bandungan, dan cigawiran dengan tarian jaipong, ngibing dan ketuk tilunya.
>
> Di sinilah terpilih susunan kata yang berbentuk dangding, guguritan,
> kinanti, asmarandana, dan atau gaya bahasa yang mendekati jangjawokan dan
> pantun yang memang hal ini sudah menjadi ruh dalam bahasa Sunda sebagaimana
> tampak dalam pantun tua Lutung Kasarung.
>
> Bagi Haji Hasan Mustapa, Alquran bukan sekadar berisi akrobat logika
> memuaskan hasrat ilmiah intelektual, tetapi lebih penting dari itu adalah
> bagaimana firman Tuhan itu menyejarah menjadi bagian dari tindakan
> keseharian. Dalam ungkapannya, Alquran itu adalah kecap terusing nyata.
>
> Iman menjadi identik dengan pendistribusian rasa aman kepada sesama,
> menjadi energi untuk selalu bersikap amanah, menjunjung tinggi toleransi,
> kejujuran, dan terbuka termasuk kesediaan berdialog dengan keyakinan yang
> tidak sama seperti dapat kita simak ketika beliau menafsirkan ayat ke dua
> surat kedua, "Sabab iman taya iman, karana ngaran iman teh wawanen; aman
> salamet amanat puraga jiwa ragana, tacan nelah lamun tacan kapilampah."
>
> Ijtihad budaya
>
> Tentu saja ijtihad budaya relasinya dengan agama yang telah diretas
> pujangga sirna di rasa ini. Jangan sampai berhenti sebatas ini, tetapi harus
> ada upaya lebih jauh dari generasi di kemudian hari untuk mengembangkan
> tafsir keberagamaan yang mencerahkan (iluminasi), membawa perubahan ke arah
> kehidupan yang santun (transformasi), dan membebaskan dari setiap belenggu
> yang dapat mendangkalkan martabat kemanusiaan (liberasi) dengan tetap
> berpijak kepada gugusan tradisi kesundaan yang kokoh.
>
> Tafsir seperti ini justru sangat penting ketika saat ini yang dominan dalam
> pemahaman keberagamaan masyarakat Sunda adalah interpretasi yang
> serbaharfiah, hitam putih dan cenderung mengabaikan budaya lokal. Tafsir
> serampangan yang pada gilirannya menciptakan ketegangan antara agama dan
> Sunda. Agamawan mencurigai penganut Sunda sebagai sesuatu yang harus
> "dimurnikan" karena sedari awal sudah dianggap jauh menyimpang dari
> otentisitas agamanya. Sementara itu, penggerak kelestarian budaya Sunda
> menebarkan asumsi tidak jauh berbeda, berpandangan agama sebagai "orang
> luar" yang tengah merusak tatanan dan pertahanan budaya leluhur.
>
> Paradigma yang dibangun Haji Hasan Mustapa minimal memberikan jembatan emas
> bagaimana Islam dan Sunda dapat dipadukan dengan harmonis sehingga tafsir
> yang ditulisnya bukan hanya melampaui zamannya, tetapi juga memberikan
> wawasan baru yang kaya akan makna dengan berpijak dalam jantung kebudayaan
> Sunda.***
>
> Penulis, kandidat doktor Unpad Bandung, Wakil Rektor IAILM Pesantren
> Suryalaya Tasikmalaya.
>
> web:
> http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=151665
>
>
>  
>

Kirim email ke