Emut kana dongengan urang Majalengka, anu netelakeun kaayaan Majalengka kiwari.
Hiji mangsa aya  sakola ngondang pa bupati, hoyong ngaresmikeun wangunan 
sakalian rek mintonkeun kamajuan sakola eta. Dina poean acara peresmian eta, 
rombongan pa bupati teh tos aya di payuneun sakola, tapi pa bupatina heunteu 
lungsur tina mobilna. Aya naon?
Pedah sakola eta pagerna heunteu dicet beureum, warna salah sahiji partey anu 
ngadukung pa bupati. 


Ayeuna ampir di sapanjang jalan raya majalengka, wangunan gedong jeung imah  
tembokna dicet beureum, atawa paling heunteu aya bagian wangunan anu dicet 
beureum. Tapi aya oge anu teu dicet beureum, salah sahijina wangunan 
Universitas 
Majalengka (UNMA). Soalna waktu aya aparat "ngontrog", ditanya ku anu 
ngokolakeun UNMA, naha aya SK atawa Perda anu marentahkeun sangkan satiap 
wangunan kudu di cet beureum?
Tah, ari kasus siga kitu budaya naon ngaranna?
Budaya pangawasa anu tiran/dzolim.

mrachmatrawyani




________________________________
From: ahmad sahidin <[email protected]>
To: kisunda milis <[email protected]>
Sent: Wed, October 6, 2010 9:12:24 AM
Subject: [kisunda] Oleh-oleh Mudik Kang Ajip Rosidi

  
Pemerintah harus memiliki undang-undang maupun peraturan daerah untuk 
melindungi 
kebudayaan lokal yang menjadi identitas bangsa. Paradigma pendidikan pun harus 
diubah agar lebih apresiatif terhadap kearifan budaya lokal. Itu merupakan 
modal 
besar ketika melangkah ke masa depan.

Budayawan Ajip Rosidi, Rabu (22/9), mengemukakan hal itu. Pada kegiatan "pulang 
kampung", Ajip berbicara banyak tentang perlunya pemberdayaan khazanah lokal. 
Hadir para seniman di Majalengka serta para pejabat, tak terkecuali Bupati H. 
Sutrisno.

"Kiamat kebudayaan terbesar ialah bila budaya lokal sudah terkontaminasi budaya 
asing atau bahkan punah," kata dia.

Kang Ajip, demikian panggilan akrabnya menuturkan keprihatinannya. Menurut dia, 
berkembangnya kebudayaan tidak boleh bergantung pada figur pimpinan, baik di 
pusat maupun daerah. Namun, harus berporos pada sistem.

Itu kenapa penting ada peraturan daerah yang melindungi kekayaan lokal. Ini 
supaya tumbuh prakarasa masyarakat untuk mencintai budaya sendiri sehingga 
tidak 
terjadi kegagapan.

"Misalnya kita tidak pede berbicara di depan umum tanpa memakai mike. Padahal 
kita berbicara di ruang kecil dengan audiens sedikit. Baru gagah kalau bicara 
pakai mike," ujar Ajip yang saat itu menolak menggunakan mike di ruang Bina 
Asih, Pemerintah Daerah Majalengka.

Contoh lain, masyarakat yang telah menjadi budak modernisasi handphone. Tak ada 
perjuangan dari kita untuk bertemu langsung keluarga atau sahabat. Saat 
Lebaran, 
mengucapkan selamat cukup dengan pesan pendek.

Ajip mengatakan, perlunya sistem pendidikan diarahkan pada pembentukan matra 
budaya ciri khas bangsa. Membangun kekuatan dan kearifan lokal."Ini bukan 
berarti tertutup. Justru harus terbuka. Kita tetap mempelajari bahasa asing 
justru untuk mengembangkan budaya lokal," ujar dia.

Koridor budaya

Pada kesempatan itu, Bupati Majalengka H. Sutrisno menjelaskan, Majalengka 
memiliki dua koridor budaya. Antara budaya pantura Cerbon dan Dermayonan, serta 
Parahyangan di wilayah tengah dan selatan. Kekhasannya pada ruang tempat dua 
corak budaya utara selatan itu bertemu.

"Di utara masyarakat sawah. Terbuka dan lebih apresiatif menerima pembaruan. 
Oleh karena itu, corak keseniannya beragam," ujar Bupati.

Sementara di selatan, masyarakat pegunungan yang relatif tertutup. Kesenian 
asli 
juga relatif terjaga. Masyarakat selatan memiliki ketahanan budaya dan teguh 
mempertahankan keasliannya.

Bupati Sutrisno berharap Majalengka ke depan bisa maju dan unggul karena 
kekuatan dua budaya itu. Memadukan sikap kedua masyarakat itu sehingga menjadi 
jangkar kekuatan bagi orang Majalengka .

Silaturahmi yang dihelat Dinas Pemuda Olah Raga Kebudayaan dan Pariwisata 
Majalengka itu juga menghadirkan budayawan Arthur S. Nalan dari Bandung. 
Diramaikan pula dengan pembacaan sajak Ki Bagus Rangin oleh seniman Edi Kinjun 
dari Komunitas Seni Jatitujuh. 
(Rais)***http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=158836

www.ahmadsahidin.wordpress.com


 


      

Kirim email ke