Cocok pisan oleh-oleh mudik Kang Ajip teh. Kitu deui ieu ngeunaan dulur ti mandala Kanekes, nu kusimkuring digagas ngajak balarea ngiring ngabangkitkeun kasadaran identitas budaya nu kedah dijaga.
Sakedik cuplikanana, The advent of technology that marks the modern civilization surrounding the Baduy Villages will eventually impact the unchanged 'Pikukuh Adat' of the Baduy. The Pikukuh Adat is the Kanekes' Unwritten Customary Laws that govern 'no change' for the ancestor's tradition lifestyles and beliefs upheld by the Baduy in everyday activities. As such, until to day there is no formal education in the villages. This brings about the illiterate society of Kanekes. No Kanekes man knows calculus. No Kanekes man speaks English. The Pikukuh Adat prevents the Baduy people from enjoying the conveniences of modern apparatus. To the unbelievable consequences , because the leaders forbid the formal education for Baduy children, they place their next generation in front of the serious danger of losing their own precious cultural heritage and identity. Of course, the danger comes from their outer boundaries. Although so far the Baduy has been able to preserve their cultural identity for centuries, I daresay five hundreds years, it does not prove that they will have the same endurance, say for the next fifty years. The enemy that encroaching the villages have now changed to be so gigantic as a result of incessant metamorphosis process. The Baduy must learn from the Godzilla film maker, SIZE DOES MATTERS! It is the size of their enemy that will devastate the villages. I arise one of this hypothetical situation, if under the belt of the Baduy land lies silently a huge deposit of gold, how the people will stand in front of the plots of US mining investors that has signed contract with Indonesian authorities for the next 30 years? Salajengna tiasa diaos di http://visitbaduyvillage.com --- In [email protected], ahmad sahidin <aa...@...> wrote: > > Pemerintah harus memiliki undang-undang maupun peraturan daerah untuk > melindungi kebudayaan lokal yang menjadi identitas bangsa. Paradigma > pendidikan pun harus diubah agar lebih apresiatif terhadap kearifan budaya > lokal. Itu merupakan modal besar ketika melangkah ke masa depan. > > Budayawan Ajip Rosidi, Rabu (22/9), mengemukakan hal itu. Pada kegiatan > "pulang kampung", Ajip berbicara banyak tentang perlunya pemberdayaan > khazanah lokal. Hadir para seniman di Majalengka serta para pejabat, tak > terkecuali Bupati H. Sutrisno. > > "Kiamat kebudayaan terbesar ialah bila budaya lokal sudah terkontaminasi > budaya asing atau bahkan punah," kata dia. > > Kang Ajip, demikian panggilan akrabnya menuturkan keprihatinannya. Menurut > dia, berkembangnya kebudayaan tidak boleh bergantung pada figur pimpinan, > baik di pusat maupun daerah. Namun, harus berporos pada sistem. > > Itu kenapa penting ada peraturan daerah yang melindungi kekayaan lokal. Ini > supaya tumbuh prakarasa masyarakat untuk mencintai budaya sendiri sehingga > tidak terjadi kegagapan. > > "Misalnya kita tidak pede berbicara di depan umum tanpa memakai mike. Padahal > kita berbicara di ruang kecil dengan audiens sedikit. Baru gagah kalau bicara > pakai mike," ujar Ajip yang saat itu menolak menggunakan mike di ruang Bina > Asih, Pemerintah Daerah Majalengka. > > Contoh lain, masyarakat yang telah menjadi budak modernisasi handphone. Tak > ada perjuangan dari kita untuk bertemu langsung keluarga atau sahabat. Saat > Lebaran, mengucapkan selamat cukup dengan pesan pendek. > > Ajip mengatakan, perlunya sistem pendidikan diarahkan pada pembentukan matra > budaya ciri khas bangsa. Membangun kekuatan dan kearifan lokal."Ini bukan > berarti tertutup. Justru harus terbuka. Kita tetap mempelajari bahasa asing > justru untuk mengembangkan budaya lokal," ujar dia. > > Koridor budaya > > Pada kesempatan itu, Bupati Majalengka H. Sutrisno menjelaskan, Majalengka > memiliki dua koridor budaya. Antara budaya pantura Cerbon dan Dermayonan, > serta Parahyangan di wilayah tengah dan selatan. Kekhasannya pada ruang > tempat dua corak budaya utara selatan itu bertemu. > > "Di utara masyarakat sawah. Terbuka dan lebih apresiatif menerima pembaruan. > Oleh karena itu, corak keseniannya beragam," ujar Bupati. > > Sementara di selatan, masyarakat pegunungan yang relatif tertutup. Kesenian > asli juga relatif terjaga. Masyarakat selatan memiliki ketahanan budaya dan > teguh mempertahankan keasliannya. > > Bupati Sutrisno berharap Majalengka ke depan bisa maju dan unggul karena > kekuatan dua budaya itu. Memadukan sikap kedua masyarakat itu sehingga > menjadi jangkar kekuatan bagi orang Majalengka . > > Silaturahmi yang dihelat Dinas Pemuda Olah Raga Kebudayaan dan Pariwisata > Majalengka itu juga menghadirkan budayawan Arthur S. Nalan dari Bandung. > Diramaikan pula dengan pembacaan sajak Ki Bagus Rangin oleh seniman Edi > Kinjun dari Komunitas Seni Jatitujuh. > (Rais)***http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=158836 > www.ahmadsahidin.wordpress.com > ------------------------------------ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
