Baraya,

Kajadian gempa bisa disebutkeun masih misteri atawa teu aya saurang oge anu
bisa ngaramalkeun waktu kajadianana jeung sakumaha gedena. Sok sanajan kitu,
tina pangalaman mangtaun-taun ngeunaan mikawanoh tanda-tanda kajadian gempa,
tina nitenan informasi ti para ahli geologi dipadukeun jeung tanda-tanda
alam atawa kearifan lokal (China maju pisan dina kearifan lokal atawa elmu
tanda-tanda alam ngeunaan gempa),  kalayan usaha anu soson-soson, kabejakeun
di China hiji pemuda di China bisa nyalametkeun (syare'atna) rebuan jelema
di hiji wewengkon tina gempa.

Ieu carita di handap beja anu dimaksud anu sumberna tina hiji blog. Memang
ieu carita teh masih perlu diklarifikasi. Sok sanajan kitu, guluyur caritana
logis. Mangga nyanggakeun:

-----------

Berikut sedikit kisah dari sebelum terjadinya gempa besar di Qinglong,
semoga bisa bermanfaat buat kita semua.

Dia anak muda yang masih belia. Umurnya 21 tahun. Namanya Wang Chungqing.
Tapi, dialah yang menyelamatkan Kabupaten Qinglong dari bencana besar. Tak
satu pun orang meninggal di daerahnya. Padahal, akibat gempa terbesar di
dunia selama satu abad ke-20 yang terjadi pada 1976 lalu itu luar biasa. Di
Kota Tangshan, tetangganya, jumlah orang yang meninggal mencapai 280.000
jiwa (melebihi korban tsunami Aceh).

Yang dilakukan Wang Chungqing kini tercatat dalam dokumen internasional yang
semestinya bisa menjadi pelajaran bagi negara-negara yang berpotensi terkena
gempa. Dokumen itu lengkap menyebutkan apa yang diprogramkan Wang dan
bagaimana menerapkannya dalam action plan. Memang, tercatat satu orang
meninggal di Kabupaten Qinglong saat itu, namun ternyata akibat serangan
jantung.

Dua tahun sebelum gempa, Wang ditunjuk sebagai kepala kantor penanggulangan
gempa di kabupatennya. Memang, tidak ada penjelasan mengapa pemerintah
berani mengangkat pejabat semuda itu. Saya sedang berusaha bertemu anak itu
yang sekarang tentu umurnya masih 50 tahun. Tentu saya tidak bisa mencarinya
dalam waktu singkat karena kesibukan saya di Tianjin saat ini. Kalau saja
saya masih wartawan seperti zaman muda dulu, pasti orang tersebut sudah saya
temukan.

Pemuda Wang yang tercatat dalam dokumen itu sangat memperhatikan informasi
dari ahli-ahli geologi. Memang, saat dia diangkat menjadi pimpinan satkorlak
gempa kabupaten tersebut, sudah ada informasi dari pemerintah pusat bahwa
dalam waktu dua tahun kemungkinan akan terjadi gempa besar di kawasan utara
Tiongkok. Namun, kapan waktunya dan di daerah mana saja yang terkena, tidak
ada yang tahu.

Padahal, kawasan utara Tiongkok sangat luas. Pokoknya, pemerintah pusat
hanya menegaskan bahwa gempa tersebut akan terjadi di kawasan tujuh provinsi
di utara (Tianjin, Beijing, Hebei, Shanxi, dan sekitarnya).

Yang membedakan pemuda Wang dari pimpinan satkorlak (eh, apa tepat ya
menggunakan istilah ini?) di kabupaten lain adalah: Wang sangat
memperhatikan informasi itu. Sedangkan kabupaten lain tidak. Dia berusaha di
kabupatennya dipasangi detektor sederhana. Lalu, diterapkan juga cara-cara
tradisional.

Misalnya, setiap hari mengecek kualitas air di sumur-sumur penduduk. Berubah
warna dan rasa atau tidak. Mengecek air sungai. Meletakkan gelas-gelas
berisi air di atas tanah. Setiap hari dicek, apakah ada air yang tumpah
akibat getaran atau tidak.

Tiap hari prosedur itu dilakukan. Tentu bisa sangat membosankan karena gempa
tidak juga datang setahun setelah persiapan tersebut. Namun, pemuda Wang
tidak bosan. Dia terus mengadakan kontak dengan ahli geologi, melakukan
rapat dengan kelompok-kelompok masyarakat, mengajari cara-cara menyelamatkan
diri, dan mempersiapkan tim pertolongan.

Ketika informasi akan terjadinya gempa mendekati dua tahun, usaha Wang
semakin intensif. Sebulan sebelum terjadi gempa, langkah-langkahnya semakin
konkret. Dia meminta agar masyarakat tidak lagi menutup pintu dan jendela
waktu malam agar kalau terjadi gempa bisa menyelamatkan diri dengan cepat.
Dia meminta satu di antara anggota keluarga tidak tidur secara bergiliran.

Namun dia tetap tidak tahu akan terjadi gempa. Bahkan, dia memprogramkan,
pada 28 Juli, Wang akan mengadakan simposium besar untuk menyadarkan
masyarakat mengenai bahaya gempa. Tentu simposium tersebut tidak terjadi
karena gempanya ternyata sudah datang pada 26 Juli, dua hari sebelum itu.

Tapi, banyak program yang sempat dilakukan. Misalnya, sejak 25 Juli sekolah
harus mengajar muridnya di luar kelas. Penduduk sebanyak mungkin berada di
luar rumah. Dokter yang bertanggung jawab mengepalai penyelamatan sudah
ditunjuk. Dan seterusnya.

Maka, di kabupaten tersebut, meski guncangan gempa juga hebat dan rumah yang
roboh mencapai 180.000 rumah, tidak satu pun orang meninggal.

diambil dari :
http://tikabanget.blogspot.com/2006/07/antisipasi-gempa-di-qinglong.html

Kirim email ke