Tuh na ari batur mah asana teh leukeun nya. Pami di urang kumaha nya KO naha 
ahli geologi, ahli vulkanologi laleukeun? Rada paur lamun ahli teh birokrat 
engke leukeuna ngadisposisi pagawean he he... biasa alesan gajih, take home pay 
tidak memadai sebagai pegawai negeri   
 
Hiji deui naha aya kitu diskusi rutin para ahli eta sareng nu akrab sareng alam 
sapertos mbah Marijan?
 
 
~ experientia docet sapientiam ~ 




________________________________
From: oman abdurahman <[email protected]>
To: [email protected]
Cc: urang sunda <[email protected]>
Sent: Saturday, October 9, 2010 7:25:29
Subject: [kisunda] Usaha ngurangan risiko bencana akibat gempa-->Fwd: 
Antisipasi 
Gempa di Qinglong dan pencerahan di hari Sabtu

  
Baraya,

Kajadian gempa bisa disebutkeun masih misteri atawa teu aya saurang oge anu 
bisa 
ngaramalkeun waktu kajadianana jeung sakumaha gedena. Sok sanajan kitu, tina 
pangalaman mangtaun-taun ngeunaan mikawanoh tanda-tanda kajadian gempa, tina 
nitenan informasi ti para ahli geologi dipadukeun jeung tanda-tanda alam atawa 
kearifan lokal (China maju pisan dina kearifan lokal atawa elmu tanda-tanda 
alam 
ngeunaan gempa),  kalayan usaha anu soson-soson, kabejakeun di China hiji 
pemuda 
di China bisa nyalametkeun (syare'atna) rebuan jelema di hiji wewengkon tina 
gempa. 


Ieu carita di handap beja anu dimaksud anu sumberna tina hiji blog. Memang ieu 
carita teh masih perlu diklarifikasi. Sok sanajan kitu, guluyur caritana logis. 
Mangga nyanggakeun:


-----------


Berikut sedikit kisah dari sebelum terjadinya gempa besar di Qinglong, semoga 
bisa bermanfaat buat kita semua.

Dia anak muda yang masih belia. Umurnya 21 tahun. Namanya Wang Chungqing. Tapi, 
dialah yang menyelamatkan Kabupaten Qinglong dari bencana besar. Tak satu pun 
orang meninggal di daerahnya. Padahal, akibat gempa terbesar di dunia selama 
satu abad ke-20 yang terjadi pada 1976 lalu itu luar biasa. Di Kota Tangshan, 
tetangganya, jumlah orang yang meninggal mencapai 280.000 jiwa (melebihi korban 
tsunami Aceh).

Yang dilakukan Wang Chungqing kini tercatat dalam dokumen internasional yang 
semestinya bisa menjadi pelajaran bagi negara-negara yang berpotensi terkena 
gempa. Dokumen itu lengkap menyebutkan apa yang diprogramkan Wang dan bagaimana 
menerapkannya dalam action plan. Memang, tercatat satu orang meninggal di 
Kabupaten Qinglong saat itu, namun ternyata akibat serangan jantung.

Dua tahun sebelum gempa, Wang ditunjuk sebagai kepala kantor penanggulangan 
gempa di kabupatennya. Memang, tidak ada penjelasan mengapa pemerintah berani 
mengangkat pejabat semuda itu. Saya sedang berusaha bertemu anak itu yang 
sekarang tentu umurnya masih 50 tahun. Tentu saya tidak bisa mencarinya dalam 
waktu singkat karena kesibukan saya di Tianjin saat ini. Kalau saja saya masih 
wartawan seperti zaman muda dulu, pasti orang tersebut sudah saya temukan.

Pemuda Wang yang tercatat dalam dokumen itu sangat memperhatikan informasi dari 
ahli-ahli geologi. Memang, saat dia diangkat menjadi pimpinan satkorlak gempa 
kabupaten tersebut, sudah ada informasi dari pemerintah pusat bahwa dalam waktu 
dua tahun kemungkinan akan terjadi gempa besar di kawasan utara Tiongkok. 
Namun, 
kapan waktunya dan di daerah mana saja yang terkena, tidak ada yang tahu.

Padahal, kawasan utara Tiongkok sangat luas. Pokoknya, pemerintah pusat hanya 
menegaskan bahwa gempa tersebut akan terjadi di kawasan tujuh provinsi di utara 
(Tianjin, Beijing, Hebei, Shanxi, dan sekitarnya).

Yang membedakan pemuda Wang dari pimpinan satkorlak (eh, apa tepat ya 
menggunakan istilah ini?) di kabupaten lain adalah: Wang sangat memperhatikan 
informasi itu. Sedangkan kabupaten lain tidak. Dia berusaha di kabupatennya 
dipasangi detektor sederhana. Lalu, diterapkan juga cara-cara tradisional.

Misalnya, setiap hari mengecek kualitas air di sumur-sumur penduduk. Berubah 
warna dan rasa atau tidak. Mengecek air sungai. Meletakkan gelas-gelas berisi 
air di atas tanah. Setiap hari dicek, apakah ada air yang tumpah akibat getaran 
atau tidak.

Tiap hari prosedur itu dilakukan. Tentu bisa sangat membosankan karena gempa 
tidak juga datang setahun setelah persiapan tersebut. Namun, pemuda Wang tidak 
bosan. Dia terus mengadakan kontak dengan ahli geologi, melakukan rapat dengan 
kelompok-kelompok masyarakat, mengajari cara-cara menyelamatkan diri, dan 
mempersiapkan tim pertolongan.

Ketika informasi akan terjadinya gempa mendekati dua tahun, usaha Wang semakin 
intensif. Sebulan sebelum terjadi gempa, langkah-langkahnya semakin konkret. 
Dia 
meminta agar masyarakat tidak lagi menutup pintu dan jendela waktu malam agar 
kalau terjadi gempa bisa menyelamatkan diri dengan cepat. Dia meminta satu di 
antara anggota keluarga tidak tidur secara bergiliran.

Namun dia tetap tidak tahu akan terjadi gempa. Bahkan, dia memprogramkan, pada 
28 Juli, Wang akan mengadakan simposium besar untuk menyadarkan masyarakat 
mengenai bahaya gempa. Tentu simposium tersebut tidak terjadi karena gempanya 
ternyata sudah datang pada 26 Juli, dua hari sebelum itu.

Tapi, banyak program yang sempat dilakukan. Misalnya, sejak 25 Juli sekolah 
harus mengajar muridnya di luar kelas. Penduduk sebanyak mungkin berada di luar 
rumah. Dokter yang bertanggung jawab mengepalai penyelamatan sudah ditunjuk. 
Dan 
seterusnya.

Maka, di kabupaten tersebut, meski guncangan gempa juga hebat dan rumah yang 
roboh mencapai 180.000 rumah, tidak satu pun orang meninggal.

diambil dari : 
http://tikabanget.blogspot.com/2006/07/antisipasi-gempa-di-qinglong.html







Kirim email ke