Teu disundakeun  hapunten 


Matematika Rumit dari Tasikmalaya

Yogi Erlangga memecahkan persamaan rumit matematika yang dicari perusahaan 
minyak dunia.

Jum'at, 13 Agustus 2010, 17:06 WIB

Renne R.A Kawilarang

Yogi Erlangga (http://gie-insanmuttaqin.blogspot.com)

VIVAnews – Usia 36 tahun. Lahir di Tasikmalaya. Yogi Erlangga meraih gelar 
doktor dari Universitas Teknologi Delft, Belanda pada usia yang terbilang muda, 
31 tahun. Dia mencintai ilmu yang dibenci banyak orang, matematika. Di negeri 
kincir angin itu, dia dinobatkan sebagai doktor matematika terapan.

Dan matematika itulah yang melambungkan Yogi Erlangga ke perusahaan minyak 
raksasa dunia. Dia adalah efisiensi. Rumus matematika yang dikembangkannya 
membuat ribuan insinyur minyak bisa bekerja cepat. Akurasi tinggi. Dan akhirnya 
si raja minyak banyak berhemat.

Penelitian yang dilakukan Yogi dalam meraih gelar doktor berhasil memecahkan 
persoalan matematika atas gelombang yang bisa digunakan oleh perusahaan minyak 
untuk mencari cadangan emas hitam itu. Rumus yang dikembangkan Yogi ini seratus 
kali lebih cepat dari yang berlaku sebelumnya.

Bukan cuma perusahaan minyak yang riang, sejumlah perusahaan raksasa dunia yang 
mengunakan unsur gelombang juga bersukaria.

Rumus matematika anak Tasikmalaya itu juga manjur untuk teknologi keping 
Blu-Ray. Keping itu bisa memuat data komputer dalam jumlah yang jauh lebih 
besar. Rumus itu juga mempermudah cara kerja radar di dunia penerbangan.

Dalam siaran pers -- saat wisuda doktor Desember 2005-- Universitas Delft 
sungguh bangga akan pencapaian Yogi. Siaran per situ menyebutkan bahwa 
penelitian Yogi adalah murni Matematika.

Dia berhasil mengembangkan suatu metode kalkulasi, yang memungkinkan sistem 
komputer untuk menyesaikan ekuasi krusial secara lebih cepat. Padahal, 
persamaan krusial itu sulit diatasi oleh sistem komputer yang dipakai 
perusahaan-perusahaan minyak.

Penelitian Yogi itu didasarkan pada “Ekuasi Helhmholtz.” Bagi kalangan ilmuwan, 
metode ekuasi itu penting dalam mengintepretasi ukuran-ukuran akustik yang 
digunakan untuk mensurvei cadangan minyak.

Sebelumnya, pengukuran itu dilakukan secara dua dimensi. Namun, dalam 
penelitian doktoralnya, Yogi berhasil membuat metode kalkulasi yang digunakan 
untuk memecahkan ekuasi Helmholtz ratusan kali lebih cepat dari yang biasa.

Itulah sebabnya perusahaan-perusahaan minyak bisa memanfaatkan kalkulasi secara 
tiga dimensi untuk mencari cadangan minyak. Itulah sebabnya Delft yakin bahwa 
metode yang dikembangkan Yogi bisa mengundang daya tarik perusahaan-perusahaan 
minyak.

Profesor pembimbing tesis Yogi, Dr. Kees Vuik, bangga dengan kerja keras anak 
didiknya itu. “Berdasarkan respon-respon yang kami terima dari industri maupun 
universitas-universitas asing, kami yakin bahwa karya itu telah memecahkan 
masalah yang telah berlangsung selama tiga puluh tahun,” kata Vuik dalam siaran 
pers Universitas Delft.

Peneliti asal Institut Teknologi Bandung (ITB), Khairul Ummah, menyatakan 
kekagumannya atas pencapaian Yogi. “Riset PhD dia cukup dahsyat, memecahkan 
persoalan matematika gelombang yang digunakan oleh perusahaan minyak Shell 
untuk mencari cadangan minyak,” tulis Khairul dalam laman blog ilmiah SEPIA 
yang dia kelola bersama sejumlah akademisi lain.

“Hasil riset dia [Yogi] cukup menghebohkan dunia minyak, terutama dengan 
kemungkinan membuat profil 3 dimensi dari cadangan minyak. Metode dia berhasil 
memproses data-data seismik seratus kali lebih cepat dari metode yang sekarang 
biasa digunakan,” tulis Khairul.

Yogi meraih gelar sarjana ilmu aeronautika dari ITB pada 1998. Kemudian dia 
menimba ilmu di Belanda dan meraih gelar Master (Msc) di Universitas Teknologi 
Delft pada 2001 di bidang Matematika Terapan.

Empat tahun kemudian, di alma mater dan disiplin ilmu yang sama, Yogi meraih 
gelar Doktor. Sempat mengikuti program post-doctoral di Jerman, Yogi 
selanjutnya tercatat sebagai Asisten Profesor bidang Matematika di Universitas 
Alfaisal, Arab Saudi. Menurut data dari Universitas Alfaisal, Yogi sibuk dalam 
proyek penelitian aljabar linear dan analisis matriks.

Menurut Khairul, Yogi sempat merasa sedih bahwa dirinya lebih dihargai 
perusahaan-perusahaan asing ketimbang di Indonesia. Saat tidak ada perusahaan 
tanah air yang mengetahui karyanya, Yogi malah gencar didekati sejumlah 
perusahaan top dunia.

“Setelah hasil dia dipublikasikan, maka dia mendapat kontak dari Schlumberger 
untuk menindaklanjuti hal itu. Shell tentu saja sudah memakainya.

Bahkan di Belanda dia diliput oleh media massa, juga media TV Belanda berencana 
mewawancarainya (tapi dia keburu pingin pulang, jadi tidak sempat). Jelas hal 
ini menunjukkan potensi ekonomi luar biasa dari algoritma matematik yang dia 
temukan,” tulis Khairul di blognya.

Di laman blog SEPIA, Mei 2006, Yogi mencurahkan uneg-unegnya atas tiadanya 
perhatian perusahaan-perusahaan asal Indonesia kepada karyanya. “Dari bangsa 
ini, sudah banyak yang memberikan kontribusinya masing-masing pada dunia 
keilmuan yang digelutinya. Sayangnya bangsa kita belum terbiasa untuk 
menghargai hasil karya keilmuan mereka,” tulis Yogi.

Dia mencontohkan, tahun 1970, Indonesia, Malaysia, Korea, China were nothing 
[sama-sama tidak ada apa-apanya]. Tahun 1980, Korea became something. Tahun 
1990 Malaysia started to be something. “Sekarang, China is everything. 
Unfortunately, we are still nothing, sadly speaking,” tulis Yogi.

Namun, dia yakin bahwa masih banyak anak bangsa yang akan merasa bangga jika 
mereka menghasilkan segala prestasi terbaiknya di negeri sendiri dan untuk 
kejayaan bangsanya. Tinggal kemauan bangsa dan negara untuk menyambut keinginan 
mereka dengan sambutan yang “appropriate” [layak], kata Yogi.

• VIVAnews

http://sorot.vivanews.com/news/read/170954-matematika-rumit-dari-tasikmalaya




Kirim email ke