cingcau lah sanes cingcay

--- Pada Kam, 14/10/10, [email protected] <[email protected]> menulis:

Dari: [email protected] <[email protected]>
Judul: Re: [kisunda] Bahasa Gaul (ALAY) Ancam Bahasa Indonesia, kumaha ka sunda?
Kepada: [email protected]
Tanggal: Kamis, 14 Oktober, 2010, 11:26 PM







 



  


    
      
      
      












Leres kangPowered by Telkomsel BlackBerry®From:  "Roza R. Mintaredja" 
<[email protected]>
Sender:  [email protected]
Date: Fri, 15 Oct 2010 00:22:50 +0700To: <[email protected]>ReplyTo:  
[email protected]
Subject: Re: [kisunda] Bahasa Gaul (ALAY) Ancam Bahasa Indonesia, kumaha ka 
sunda?

 



    
      
      
      basa sunda mah tos gaul ti baheulana ogen lurjanten moal sieun ku 
ancamanmalah asa kabaturanconto: cingcay

2010/10/14 Ii Sumirat <[email protected]>
















 



  


    
      
      
      







Bahasa
gaul cenah ngancam ka bahasa Indonesia, kumaha tah ka bahasa sunda

Kusabab
ayeuna muncul kecap2 anu sora tungtungna “ay” samisal alay, jablay, lebay, ah
capcay

Sikuring
bari ngacay : ) 

 

Baktos


  







http://www.gatra.com/artikel.php?id=141968

 

Bahasa Gaul Ancam Bahasa Indonesia



Jakarta, 10 Oktober 2010 07:00



Perkembangan zaman dan teknologi informasi telah menggiring kaum 

muda untuk berkomunikasi dengan caranya sendiri, hingga bisa mengancam bahasa
Indonesia.



"Bahasa Indonesia yang baik dan benar pun jadi korbannya dan 

kalau mau menggunakan bahasa Indonesia total saja. Jangan dicampur dengan
bahasa 

rekaan sendiri atas nama bahasa gaul," kata Ketua Program Studi Indonesia 

Universitas Indonesia, Maria Josephine Mantik, di Jakarta, Sabtu 

(9/10).



Dijelaskan Maria, bahasa Indonesia adalah identias bangsa, 

karenanya tidak pantas perkembangan zaman dan perubahan teknologi komunikasi 

menggerusnya. Terlebih dasarnya hanya, atas dasar pergaulan.



Pergeseran 

itu tampak di kalangan remaja, utamanya saat mengirim pesan singkat via telepon


seluuler atau berkomunikasi di dunia maya melalui akun 

Facebook.



Salah satu contoh bahasa komunikasi mereka yang 

dikatakan bahasa gaul adalah dengan menyingkat huruf dengan angka dalam sebuah 

kata.



Sebagai contoh kata Maria, "9ax aneh kok ay..slmet ya mo9a 

lan99eng. amHIen". Kalimat itu artinya, "nggak aneh kok Ay,selamat ya
semoga 

langgeng. Amin."



Bahasa gaul atau yang kerap disebut bahasa "alay", 

menurut Maria, baik. Asal dikendalikan, jangan kebablasan seperti sekarang ini,


setiap saat mempergunakan bahasa gaul, tidak lagi melihat tempat dan 

momennya.



Untuk itulah diskusi ini digelar sebagai peringatan kepada anak 

muda untuk tidak terus menerus bercakap dengan bahasa gaul karena bahasa itu 

bisa merusak tata bahasa Indonesia yang baik dan benar.



Menurut Maria, 

munculnya bahasa gaul terjadi karena dinamika kehidupan masyarakat. Kemajuan 

teknologi komunikasi yang pesat turut mendorong perkembangan bahasa. Ditambah 

lagi dengan kemunculan situs jejaring sosial di dunia maya.



Awal tahun 

2000 kata Maria, menjadi titik penting,dikenalnya istilah bahasa gaul, terutama


di kalangan anak muda.



Masyarakat pengguna media internet memanfaatkan 

bahasa gaul untuk berkomunikasi secara online. Akhirnya penggunaan bahasa 

gaul tumbuh dengan subur di dunia maya.



Bahasa gaul atau "alay" 

berkembang karena remaja atau anak muda ingin diakui statusnya di dalam 

pergaulan. Karena itulah, mereka rela mengubah gaya bicara, mimik, bahasa 

tulisan, bahkan sampai mengubah gaya berpakaiannya.



Untuk mengendalikan 

itu semua, peran orangtua, keluarga, pengajar, dan masyarakat sangat
dibutuhkan. 

Jika tidak, penggunaan bahasa "alay" itu akan merusak penggunaan tata
bahasa 

Indonesia dan bahasa lainnya," papar Maria.



Saat ini, tambah Maria, 

pengetahuan kaum muda, termasuk mahasiswa dalam penggunaan bahasa Indonesia 

sangat minim, ini diketahui saat mereka membuat makalah atau presentasi. Banyak


mahasiswa yang tidak mengerti penggunaan tata bahasa Indonesia karena kerap 

menggunakan bahasa "alay" dalam percakapan sehari-hari.



Sementara itu 

pengamat komunikasiDian Budiargo menuturkan, penggunaan bahasa "alay"
bisa 

menyebabkan pembentukkan pemahaman yang mengkristal di kaum muda. Hal ini 

dikhawatirkan akan merusak tatanan bahasa Indonesia.



"Seperti kata lu dan 

gue, jika dua kata itu digunakan antar teman tidak akan menjadi masalah. Namun 

jika digunakan pada acara formal, maka akan muncul anggapan rendahnya tingkat 

profesionalisme seseorang dalam suatu hubungan kerja," ujar Dian.



Untuk 

menghindari makin hilangnya pemahaman kaum muda dan masyarakat tentang bahasa 

Indonesia adalah perlunya ditanamkan kesadaran dan pemahaman membedakan 

penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai konteks," tutur 

Dian.



Dian mengimbau kepada masyarakat termasuk pendidik untuk menjaga 

dan melestarikan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang utama dan penting sebagai


warga negara Indonesia.



"Di era global, penguasaan bahasa asing tetap 

diperlukan. Namun yang lebih penting adalah menjadikan bahasa Indonesia sebagai


bahasa utama. Sehingga kekhawtairan kita akan buramnya penggunaan bahasa 

Indonesia di media digital yang dianggap tidak baik dan tidak benar tidak akan 

terjadi," terang Dian.

[EL, Ant] 




















    
     

    
    






  










    
     

    










    
     

    
    


 



  





Kirim email ke