Assalamu 'alaikum,
Mudah-mudahan postingan anu ieu mah clom giriwil, langsung nonghol. Duka pedah 
tebih ti server admin-na duka pedah sok resep neda cau pangsisina basa budak, 
sok kasingsal wae imel teh. Pas nonghol tos kaopat dintenna, tod basi weh pan. 
Matak sabaraha waktos mah ngadepong we, bari ngabandungan kadang mun hoream mah 
dialungkeun we kana carangka runtah :D


Aya padungdengan anu pogot di detik.com, mudah-mudahan sanes ieu nu 
ngajantenkeun Merapi mules beuteung teh, henehe. Pan cenah saur nu percanten 
mah, bituna Merapi teh salah sahiji totonden teu panujuna alam mistis Jawa ka 
manusa nu ngawasa di ieu pulo. Duka teuing ketang, ena mah babalagonjangan we 
panginten.

Kumaha tah saur baraya sadayana? Da anu kasawang ku Abdi mah asa beuki teu 
pararuguh we alam nusantara teh, duka bade aya naon.

Hatur Nuhun, Wassalam,

Deni

http://us.detiknews.com/read/2010/10/18/194736/1468229/159/jeffrey-winters-kalkulasi-sby-naif-dan-salah?nd991107159


Setahun SBY-Boediono (7) 
Jeffrey Winters: Kalkulasi SBY Naif dan Salah  
M. Rizal - detikNews
 


 



Baca Juga :
        * Setahun SBY-Boediono (5) 
Tidak Ada Uang, Demo Tidak Jalan 
        * Setahun SBY-Boediono (4) 
Setgab Jadi Tempat Dagang Jabatan 
        * Setahun SBY-Boediono (3) 
Maaf, Pak Menteri Mau Belajar Dulu.. 
        * Setahun SBY-Boediono (2) 
Pemerintah Mantap Berencana, Tumpul Implementasi Jakarta -              Setahun 
sudah 
pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II  berjalan. Namun kinerja 
pemerintah dianggap masih merah. Perolehan suara  60 % dalam Pilpres 2009 dan 
mendapat dukungan mayoritas di parlemen  ternyata belum bisa dioptimalkan 
pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan  Boediono untuk melakukan langkah-langkah 
yang konkrit dalam meningkatkan  pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. 

 
Di mata pengamat  ekonomi politik dari Northwestern University, Amerika 
Serikat, 
Prof  Jeffrey Winters, buruknya kinerja pemerintah tidak lepas dari sikap  
Presiden SBY dalam menjalankan pemerintahan. SBY dianggap lebih suka  terlihat 
cantik, santun dan berambut rapi di depan kamera dibanding  bekerja keras 
mengatasi persoalan-persoalan yang ada di Indonesia. 

 
Lantas  apa yang membuat pasangan SBY-Boediono belum bisa berbuat banyak selama 
 
setahun bekerja? Berikut pandangan Jeffrey Winters kepada detikcom,  Sabtu 
(16/10/2010): 

 
Apa pandangan Anda terhadap kinerja SBY-Boediono selama menjalankan 
pemerintahan? 

 
Sampai  saat ini saya melihat kinerja pemrintahan SBY-Boediono rendah. Dan  
perlu dicatat prestasi yang rendah kepemimpinan SBY bukan sesuatu yang  baru. 
Karena sejak 2004 memang kinerjanya tidak pernah tinggi. Jadi  kombinasi 
SBY-Kalla yang sudah mengecewakan menjadi lebih parah dengan  kombinasi 
SBY-Boediono. 

 
Meski pada masa SBY-JK kinerjanya  buruk, paling tidak Jusuf Kalla dikenal 
sebagai orang yang tidak sabar  dan sering mendorong SBY untuk bertindak dan 
ambil keputusan. Tetapi  akhirnya Kalla menjadi capek, frustrasi dan lepas 
saja. 

 
Selama  ini SBY adalah orang yang selalu ingin menjadi cantik. Dan jelas dia  
tidak mungkin menjadi cantik di depan kamera kalau benar-benar mendorong  
sistemnya sehingga bajunya dan mukanya penuh keringat seperti buruh  yang kerja 
keras di jalan atau sawah. SBY dikenal sebagai orang santun  dan rambutnya 
selalu rapih. Orang yang santun gaya SBY bisa sukses di  bidang politik, dalam 
arti mempertahankan posisinya di pemerintahan,  tetapi tidak mungkin bisa 
sukseskan Indonesia yang perlu didorong keras  untuk menjadi kompetitor 
internasional yang dahsyat. 

 
Seharusnya  rakyat tidak lagi memilih pemimpin yang hanya mengandalkan 
kesantunan  dan bersolek diri di depan kamera. Tapi yang perlu dicari adalah 
seorang  presiden yang lebih fokus kepada penurunan jumlah kemiskinan. 

 
Kalau mengenai kinerja para menterinya bagaimana? 
 
Kinerja  para menteri terkait dengan performa pemimpinnya. Karena sikap  
presidennya sebagai leader tidak bagus tentu saja para menterinya juga  tidak 
bagus kerjanya. Apalagi pemilihan anggota kabinet berdasarkan  bagi-bagi 
kekuasaan supaya aman di parlemen. Hasilnya yang terjadi  pemilihan bukan 
berdasarkan kapabilitas dan akuntabilitas. Melainkan  berdasarkan jatah anggota 
koalisi. 

 
Bukankah memperkuat  dukungan parlemen sebagai sebuah strategi supaya 
pemerintahan bisa  berjalan efektif tanpa diganggu manuver-manuver politik dari 
parlemen? 

 
SBY  sebagai calon presiden jelas menang besar di pemilu. Dua kali dia dapat  
60 
persen! Di seluruh dunia jumlah suara sebesar itu disebut 'Landslide  Victory'. 
Yang aneh, SBY tidak mengunakan mandat ini untuk membentuk  kabinet yang 
benar-benar dimiliki dia sebagai instrumen eksekutif,  untuk  melaksanakan 
dengan tegas konsep dan tujuan dia yang disampaikan  dalam kampanye. Malah dia 
terkesan'dagang sapi' dengan partai-partai  politik dan memilih kabinet yang 
lebih seperti kebun binatang atau  'Noah's Ark', dua wakil dari setiap jenis. 

 
Kalkulasi SBY  ternyata naif dan salah. Dia berfikir bahwa dengan kabinet 
seperti ini,  dia akan punya basis aman di DPR dan bisa jadi lebih efektif. 
Yang  
terjadi justru sebaliknya. Malah partner-partnernya tetap melawan SBY di  DPR 
dan memperjuangkan agenda masing-masing di kabinet. Setiap presiden  di 
Indonesia harus berasumsi bahwa tidak akan ada dukungan kuat di DPR.  Dengan 
begitu banyak partai, pasti akan ada perlawanan. 

 
Pertanyaanya,  bagaimana bisa menjadi eksekutif yang memaksimalkan kualitas dan 
 
solidaritas di dalam kabinet sendiri? Sudah barang pasti bahwa DPR akan  selalu 
sulit. Tetapi, minimal bisa diharapkan bahwa kabinet akan utuh  dan solid. 
Dengan formula SBY, justru hasil yang paling buruk, yaitu DPR  yang selalu 
sulit 
dan kabinet pun yang kacau dan tidak efektif. Ingat,  SBY bukan perdana menteri 
yang dipilih oleh MPR. Dia adalah presiden  yang dipilih langsung oleh rakyat.  

 
SBY tidak pernah faham  bedanya, dan akibatnya adalah kabinet yang begini 
sekarang, penuh  menteri yang selalu memperjuangkan agenda partai politiknya 
terlebih  dahulu dan bahkan melawan agenda presiden. 

 
Jadi jangan heran  kalau roda kabinet SBY berputar di tempat. Ini karena dua 
faktor.  Pertama, secara pribadi SBY memang orang yang sulit ambil keputusan 
dan  
tidak bisa menjalankan strategi dengan tegas dan cepat. Dan kedua,  secara 
struktural dia membentuk kabinet dengan cara yang pasti akan  memecah daripada 
menyatu. Oleh karena itu, diharapkan presiden  berikutnya sebaiknya membentuk 
kabinet yang 100 persen penuh dengan  orangnya dia, yang akan memperjuangkan 
agenda presiden, bukan agenda  partai politik masing-masing. 


Mengenai pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai pemerintah SBY-Boediono, apakah 
menunjukan grafik yang menggembirakan? 

 
Sekali  lagi Indonesia menjadi 'flavor of the day' untuk 'hot money financial'  
yang bersirkulasi dengan cepat di bumi ini. Indonesia harus waspada  terhadap 
investasi DCCP ini (datang cepat, cepat pergi), malah  pemerintah sepertinya 
membanggakan bahwa uang tersebut tertarik dengan  bursa efek Jakarta. 

 
Padahal tidak ada alasan yang mendasar  untuk uang tersebut mengalir ke 
Indonesia selain spekulasi sementara.  Kalau berbudi, pemerintah akan hati-hati 
dengan investasi macam ini,  karena pertama, tidak menambah jumlah investasi 
modal di sektor riil.  Kedua, justru pulangnya uang seperti ini yang membuat 
krisis finansial  1997-1998 ganti status dari hujan biasa menjadi badai luar 
biasa. 

 
Saya  melihat, Indonesia saat ini masuk ke dalam situasi yang bahaya dan  
pemerintah SBY serba senyum dan bahagia. Bentuk selalu kalahkan isi,  sejak SBY 
naik menjadi presiden. 

 
Apakah ini artinya satu tahun ini SBY-Boediono gagal menggerakan perekonomian 
nasional? Bagaimana indikatornya? 

 
Pejabat  dan presiden di Indonesia punya penyakit yang saya sebutkan 
'Mentalitas  
7 Persen'. Penyakit mental ini punya dua dimensi. Satu, ada konsep  bahwa 
Indonesia hanya mampu mencapai pertumbuhan ekonomi 7 persen saja.  Target di 
atas 7 persen dianggap mimpi dan tidak realistis. Kedua, jika  Indonesia bisa 
mencapai 7 persen, ini dianggap cukup untuk membuat masa  depan jauh lebih 
baik. 
Dua-duanya salah. 

 
Kalau Cina dan India  bisa mencapai pertumbuhan double digit atau 10 persen ke 
atas, Indonesia  tidak ada alasan yang relevan selain tidak mau membuat 
perubahan supaya  memang ada kinerja ekonomi yang lebih tinggi. Dan, kalau 
ternyata  Indonesia hanya mencapai 7 persen, dan terus terang selalu jauh di 
bawah  target, rakyat harus menunggu lama untuk ke luar dari kemiskinan. Mana  
ada presiden atau partai yang punya 'Visi 2045'? Ini seratus tahun  kemerdekaan 
dan seratus tahun pembangunan. Apakah Indonesia bisa menjadi  negara maju dalam 
waktu 35 tahun ini? Negara maju? 

 
Tidak ada  yang berani setting tujuan se-ambisius itu, karena untuk benar-benar 
 
mencapai target tersebut, harus ada perubahan besar mulai sekarang. Elit  
politik di Indonesia lebih mementingkan partainya, bisnisnya, atau  bahkan 
sakunya pribadi. Itu kenyataan. Jadi rakyatlah yang harus maksa  perubahan yang 
lebih cepat, dan sense of urgency di tingkat pemerintahan  yang jauh lebih 
tinggi. Elit politik di Indonesia sangat rajin setting  target yang rendah, 
justru supaya bisa malas dan senang. Dan, yang  menjadi korban adalah rakyat 
luas.


Kirim email ke