Akibat HAM oge bebas menafsirkan sewang2an.... Cenah muslim tapi rek Qur'an 
hungkul moal pake hadits kaci sabab HAM, sholat make basa karep HAM.......

Ayeuna mangga we nu HAM jeung nu HAM silih HAM HAM

 ~ experientia docet sapientiam ~




________________________________
From: Waluya <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]; 
[email protected]
Sent: Thursday, October 28, 2010 14:19:20
Subject: [kisunda] Fw: Lain di nagara kaum Taliban!

  
Opini ti Koran Tempo senen kamari. Rada telat, tapi paling henteu 
ngingetkeun ka urang Indonesia (kaasup urang Sunda) yen ayeuna, aya gerakan 
nu hayang  sagala "ngarupus"/ mupus budaya nu dianggap teu cocog jeung 
maranehna. Nyanggakeun:

Bukan di Negeri Kaum Taliban
Senin, 25 Oktober 2010 | 00:24 WIB
http://www.tempointeraktif.com/hg/opiniKT/2010/10/25/krn.20101025.215914.id.html

Rasanya tak berlebihan kalau ada yang mengibaratkan kita seperti berada di 
negeri kaum Taliban. Ketika mereka menang perang di Afganistan, belum satu 
dasawarsa silam, kelompok itu meruntuhkan patung Buddha terbesar di daerah 
Bamyan. Saat itu kita barangkali cukup geleng-geleng kepala, tak perlu 
khawatir pengaruh buruk itu akan sampai ke Tanah Air.

Namun, jika menyimak aksi menonjolkan identitas agama yang belakangan kian 
kasar, dan cenderung anarkistis, tampaknya pengaruh kekerasan mereka terasa 
kuat di sini. Makna syiar dan nahi munkar, atau mencegah perbuatan buruk, 
yang disalahpahami, malah berubah menjadi aksi memaksakan kehendak yang 
meresahkan--meski dalam skala lebih kecil.

Rencana pemindahan patung Buddha, Amitabha, di Vihara Tri Ratna, Tanjung 
Balai, Sumatera Utara, sekadar contoh. Beberapa organisasi Islam mendesak 
agar sosok Amitabha yang kelihatan mencolok itu dipindahkan, karena ia bukan 
aspirasi mayoritas masyarakat di Kota Tanjung Balai. Kelompok penekan yang 
telah aktif memaksakan pendapatnya itu akhirnya berhasil mendesakkan sebuah 
kesepakatan bersama yang melibatkan wali kota, pengurus vihara, dan kelompok 
penekan.

Keputusan ini jelas mencederai toleransi beragama di negeri ini. Yang patut 
kita sesalkan, semua petinggi di Tanjung Balai dilanda ketakutan jika 
aspirasi semu itu tak dipenuhi. Mereka seperti lupa bahwa kita sedang berada 
di negara berdasar Pancasila dengan konstitusi yang tegas menjamin kebebasan 
beragama dan berkeyakinan tanpa boleh ada gangguan serta ancaman dari siapa 
pun. Pemaksaan kehendak semacam ini justru harus dilawan dengan dialog 
sehat, plus keberanian semua aparat jika mereka sampai mengancam dengan 
kekerasan.

Mereka pun kini mengusik pertunjukan wayang kulit. Di Sukoharjo, Jawa 
Tengah, sekelompok orang bersorban menghampiri kerumunan orang yang tengah 
asyik menonton pertunjukan wayang yang digelar di pekarangan rumah seorang 
warga Desa Sembung Wetan. Selain melempari penonton, sebagian dari mereka 
mengacung-acungkan pedang sambil bertakbir. Dalam sekejap pertunjukan pun 
bubar.

Padahal, dalam sejarah Islam di Nusantara, agama dan wayang adalah dua hal 
yang sukar dipisahkan. Siapa pun tahu--kelompok penyerang seharusnya juga 
tahu--bahwa wayang justru dijadikan medium efektif oleh Sunan Kalijaga untuk 
menyebarkan Islam. Para penyerang itu telah berusaha membuang elemen budaya 
lokal yang sesungguhnya merupakan buah kreativitas Wali Sanga dalam 
berdakwah.

Agresivitas kelompok radikal yang meningkat belakangan ini harus dihentikan. 
Mereka tak boleh lagi menyerang aset dan pemeluk kelompok Ahmadiyah, 
menurunkan paksa patung dengan dalih apa pun, menyerang rencana pendirian 
gereja, bahkan membubarkan pertunjukan wayang kulit. Terhadap tindakan 
brutal atas nama agama ini, tumpuan akhirnya tertuju pada pihak keamanan. 
Aparat harus bertindak lebih tegas demi menimbulkan efek jera dan 
mengukuhkan hubungan harmonis di antara pemeluk agama.

Kepada para tokoh dan aktivis gerakan radikal itu harus dibuka kontak untuk 
terus berdialog secara sehat. Mereka kudu disadarkan terus-menerus bahwa 
kita tengah berada di negeri yang sangat toleran dalam memandang perbedaan 
beragama dan berkeyakinan. Bukan di negeri kaum Taliban. 


 

Kirim email ke