Demi Mendapatkan Rasa dan Suasana
Berburu Kuliner di Bandung

SUASANA malam di salah satu sentra kuliner di Jln. Peta Bandung. Para
penikmat kuliner tidak hanya "berburu" dan menikmati beragam jenis makanan
yang ada di setiap sudut Kota Bandung, tetapi juga mencari suasana yang
berbeda dari keseharian. Kian padatnya kawasan tengah dan utara Bandung,
menjadi peluang bagi para pelaku bisnis kuliner untuk mengembangkan sentra
kuliner baru di kawasan selatan Bandung.* MUHTAR I.T./"PR"

 Di mata para penikmat kuliner, Kota Bandung adalah area perburuan dalam
memenuhi "hasrat" mulut dan perut mereka. Mereka datang tak hanya untuk
mencari, mencicipi, dan menikmati setiap sajian yang tersedia di setiap
sudut kota kembang, tetapi juga mencari suasana.

Bukan hanya penduduk lokal Bandung yang menjadikan Bandung sebagai area
perburuan kuliner. Penduduk luar kota, terutama Jakarta, malah kini
memperlihatkan kian dominan "berburu" kuliner di kota kembang. Bahkan,
wajah-wajah Melayu, para turis asal negeri jiran Malaysia, juga sering
dijumpai di sejumlah titik dan sentra kuliner.

Berkat kemudahan sarana transportasi, baik orang Jakarta maupun Malaysia,
menjadikan perburuan kuliner di Bandung tak lebih dari perjalanan sehari.
Orang Jakarta bisa pulang pergi dengan mobil. Sementara orang Malaysia,
pulang pergi lewat pesawat. "Bandung kan sudah seperti halaman belakangnya
Jakarta. Jadi, kalau perut lapar, kita tinggal meluncur saja ke Bandung, toh
perjalanan Jakarta Bandung hanya dua jam," kata Alex (40), eksekutif muda
yang berkantor di kawasan Soedirman Jakarta ini.

Hal senada dikatakan Syarief (44), wiraswastawan asal Jakarta, yang punya
kebiasaan pergi ke Bandung dua hingga tiga kali sepekan hanya untuk makan.
Saat hunting makanan, Syarief kadang ditemani anaknya, sesekali mengajak
kawan karibnya yang ada di Bandung. "Saya biasa datang ke Bandung hanya
untuk cari makan, setelah itu ya kembali lagi ke Jakarta, enggak perlu
nginep. Tak harus mahal, yang penting enak," kata Syarief.

Ada banyak merek kuliner asal Bandung yang menjadi ikon atau legenda dunia
kuliner. Sebut saja misalnya batagor Riri, brownies Amanda, rumah makan
Ampera, bakso Panghegar, sate hadori, martabak San Fransisco, cendol
Elizabeth, pisang molen Kartika Sari, ikan bakar Kaligane, es campur Oyen
atau Pak Utuy. Atau juga ronde Alkateri, lontong kari kebon jukut, bubur
ayam pak otong atau capitol, ayam tulang djuwita.

Umumnya, orang datang ke Bandung karena ingin mencicipi beragam jenis
makanan di tempat yang berbeda. Namun demikian, tak sedikit pula orang yang
datang ke Bandung hanya untuk menikmati satu jenis makanan saja dan singgah
di satu tempat saja. Biasanya, orang jenis ini sudah fanatik terhadap satu
jenis kuliner.

"Kalau saya sih tergantung waktunya, kalau kebetulan lagi akhir pekan dua
tiga hari di Bandung, ya kita manfaatkan untuk hunting makanan di banyak
tempat. Tetapi, kalau hanya sehari atau sekadar singgah sih, kita pilih
makanan yang favorit saja," kata Danu, penyuka batagor, asal Bekasi.

Menurut pengelola es campur Pak Utuy, Dede Rohman, ada beberapa pelanggan
atau pecinta kuliner yang tergolong fanatik terhadap salah satu jenis
makanan. Terutama makanan atau minuman yang tidak ada di tempat lain. "Ada
konsumen yang setiap kali ke Bandung, cuma mampir beli es campur di warung
saya, setelah itu kembali ke Jakarta, mungkin sudah fanatik ya," kata Dede,
salah seorang putra Pak Utuy, pendiri es campur Utuy yang berlokasi di Jln.
Sadewa Bandung.

Denyut kehidupan kuliner di Kota Bandung kian meningkat pada malam hari.
Bahkan, bisa disebut, kehidupan sebenarnya bisnis kuliner di Bandung adalah
pada malam hari. Aktivitasnya sudah bisa terlihat sejak pukul 17.00 WIB dan
baru tutup pada dini hari atau subuh.

Selain pusat-pusat kuliner yang menyediakan hanya satu jenis kuliner saja
seperti jagung bakar Dago, kini mulai berkembang sentra-sentra kuliner yang
menyediakan ragam menu kuliner. Tengok saja di kawasan Jln. Burangrang, Imam
Bonjor, Simpang Dago, Rumah Mode di Jln. Setiabudhi, atau Peta Square di
Jln. Peta 256 Bandung. Bisa disebut, dalam dua bulan terakhir, Peta Square
adalah satu sentra kuliner baru yang tengah bertumbuh. Lokasinya tergolong
strategis, persis berada di ujung simpang lima Jln. Terusan Pasir Koja-Jln.
Jamika-Jln. Peta. Namun, karena terhalang pos polisi bekas Operasi Ketupat
Lebaran yang belum dibongkar, pusat kuliner yang satu ini kurang terlihat
aktivitasnya.

Konsep yang disajikan Peta Square tak jauh beda dengan beberapa pusat
kuliner yang sudah ada di sejumlah titik Kota Bandung, yakni menawarkan
pengalaman bersantap ala kaki lima, tetapi dengan menu kuliner bermerek dan
terkenal yang ada di Bandung. Begitu masuk ke dalam, berjejer stan-stan ala
kaki lima, dengan meja-meja makan tertata rapi di tengah. Mulai dari stan
sate Hadori, ronde Alkateri, lontong kari kebon jukut, martabak San
Fransisco, bubur ayam Capitol, es campur Pak Utuy, igar bakar Sadulur, ayam
lunak Djuwita, nasi goring Echo, baso tahu Sin Sien Hin, batagor spesial
Peta, mie Ale Ale, dan ikan bakar Kaligane.

Menurut Manager Peta Square, Dion Widjaja, konsep seperti itu sengaja ia
kembangkan agar para pemburu kuliner yang malas datang ke kawasan Bandung
tengah dan utara bisa terakomodasi keinginannya. "Semuanya tersedia di sini
dengan standar rasa dan harga yang sama, jadi bagi orang Bandung yang ada di
kawasan selatan, tak perlu repot-repot menjebakkan diri ke dalam kemacetan,
begitu juga dengan orang Jakarta, karena lokasinya mudah diakses lewat pintu
tol Pasirkoja atau Kopo," kata Dion.

Meski demikian, dari sekian menu kuliner yang tersedia, menurut Dion, yang
paling unik dan menjadi daya tarik di Peta Square adalah es duren montong.
Es duren tersebut disajikan dengan mengambil konsep dari es duren
Purbalingga yang terkenal, yakni disajikan tanpa biji dan hanya disajikan
dengan es serut dan susu. "Es duren ini cara bikinnya sangat sederhana,
namun dapat menghasilkan rasa yang luar biasa. Semua orang pasti bias bikin
dan kalau mau, di sini bias diajarkan cara bikinnya," kata Dion menambahkan.


Apa tak takut resep ditiru orang atau pesaing? "Saya menjual es duren
montong tidak ambil untung, ini adalah menu bonus untuk pelanggan yang
datang ke Peta," kata Dion yang mewanti-wanti jika ingin mencicipi es duren
buatannya dianjurkan menelepon terlebih dahulu.

Jadi, ke mana Anda mau berburu kuliner? (Muhtar I.T./"PR")***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=162251

Kirim email ke