Melirik Kuliner Bandung Selatan

Menggeliatnya kehidupan dan industri kuliner di Kota Bandung sebenarnya
bukan tanpa masalah. Selain belum ada tata ruang yang jelas mengenai
peruntukan sentra-sentra kuliner yang ada, perkembangan kuliner juga
cenderung mengarah ke tengah dan utara Bandung. Konsekuensinya, kedua
kawasan itu ketiban beban persoalan, berupa kemacetan yang kian menjadi-jadi
akibat meningkatnya volume kendaraan.

Akibatnya, rasa nyaman menjadi komoditas yang mahal, bukan hanya bagi warga
sekitar, tetapi juga bagi para pemburu kuliner itu sendiri. Belum lagi
ditambah oleh persoalan lain, kian langkanya lahan parkir. Bagaimanapun,
kehadiran konsumen dengan beragam kendaraannya, membutuhkan ketersediaan
area parkir yang memadai. Padahal, lahan parkir kian terbatas. Jika pun ada,
sering memunculkan pertengkaran, yang berujung pada hilangnya rasa nyaman.

"Berburu kuliner di kawasan Bandung utara dan tengah bukan tanpa risiko,
terutama risiko terjebak kemacetan. Soalnya, yang senang berburu kuliner di
Kota Bandung bukan hanya kita orang Bandung, tetapi juga orang-orang luar
kota. Lihat saja kendaraan yang memadati kota, kebanyakan berpelat nomor B,"
kata Dion Widjaja, manajer Peta Square, sentra kuliner baru yang terletak di
Jln. Peta 256 Bandung.

Atas alasan itulah, menurut Dion, ada baiknya warga dan pemburu kuliner,
mulai melirik potensi kuliner yang ada di kawasan selatan Bandung. Apalagi,
belakangan mulai bermunculan tempat atau sentra kuliner baru di kawasan
tersebut. "Hanya, keberadaan sentra-sentra kuliner tersebut masih kurang
diketahui," kata Dion.

Lulusan Marketing/Manajemen dan Psikologi Monash University Australia ini
pun memberanikan diri terjun ke bisnis kuliner dengan memilih lokasi di
kawasan Bandung selatan. Dion yakin, kawasan Bandung selatan akan menjadi
alternatif wisata kuliner Kota Bandung. Tentu saja dengan satu syarat,
Pemkot Bandung serius menggarap potensi tersebut.

"Kalau pemkot sungguh-sungguh menggarap wisata kuliner, saya rasa sangat
memungkinkan, apalagi warga Jakarta sudah cukup gerah dengan kondisi
kepadatan dan kemacetan di Jakarta. Mereka yang ingin menghindari keadaan
serupa di Bandung utara dan tengah, tentunya akan beralih ke Bandung
selatan," ujar Dion seraya menyebutkan sekarang sudah beroperasi Festival
City dan hotel di sekitar Jln. Peta.

Jika bisnis kuliner berkembang di kawasan Bandung selatan, menurut Dion,
bukan saja menjadi alternatif dan solusi dalam mengurai problem kemacetan
yang ada di Kota Bandung, tetapi pada saat yang sama juga membuka peluang
usaha dan menyerap tenaga kerja. "PAD otomatis masuk ke pemkot, angka
pengangguran bisa sedikit dikurangi," katanya.

Dede Rohman, pengelola es campur Pak Utuy setuju dengan pendapat Dion. Kian
menyebarnya sentra-sentra kuliner di Kota Bandung sangat baik bagi
perkembangan industri kuliner itu sendiri. "Secara bisnis, saya sangat
setuju jika industri kuliner berkembang di kawasan selatan, tidak melulu di
tengah dan utara," kata Dede yang bersama saudaranya mengelola sejumlah
gerai es campur dengan merek Pak Utuy. "Induk kami memang ada di Jalan
Sadewa, tetapi alhamdulillah, kami juga punya beberapa outlet di sejumlah
sentra kuliner. Termasuk di Peta Square ini," kata Dede yang menyebut salah
satu menu andalannya adalah es alpuket negro.

Begitu pula dengan Aditya, wiraswasta asal Kopo Kencana Bandung, sangat
senang jika sentra kuliner juga berkembang di kawasan Bandung selatan. "Itu
akan lebih bagus, karena orang-orang seperti saya tidak harus kejebak saat
berburu kuliner. Yang penting rasa dan suasana. Jika dua hal itu terpenuhi,
saya kira orang akan berdatangan dengan sendirinya," kata Aditya, penggemar
iga bakar dan jenis-jenis mi ini. (Muhtar I.T./"PR")***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=162250

Kirim email ke