hehe judulna edun! mun aya pahlawan sesungguhna, berarti aya pahlawan aspal. kade we bisi nu katuduh pahlawan aspal teh para pajoang nu 'kabeneran' dibere perhatian ku pamarentah kalayan nyugemakeun. :p
Pada 11 November 2010 03.35, mh <[email protected]> menulis: > > > Mereka Pahlawan Sesungguhnya > > SOEBARNA (84) terlihat sedih saat mengingat peristiwa pertempuran heroik > Bojongkokosan, 9 Desember 1945 lalu. Kesedihan bercampur haru saat mengingat > teman seperjuangannya yang sebagian besar telah wafat. > > Walau daya ingatnya melemah, untuk perjuangannya melawanan pasukan sekutu > di Sukabumi ingatannya seolah masih segar. Mungkin karena peristiwa itu > menjadi hal paling luar biasa selama perjalanan hidupnya. Dengan > bersemangat, Soebarna berusaha mengingat-ingat peristiwa yang tercatat > sebagai perang besar di dunia itu. "Walau sudah tua, kenangan pertempuran > Bojongkokosan masih saya ingat. Terutama saat kami melakukan penghadangan di > atas tebing Bojongkokosan," kata Soebarna kepada "PR", Senin (8/11). > > Pertempuran yang berlangsung tengah hari itu, kata Soebarna, merupakan > kontak senjata kedua setelah pertempuran di Surabaya sebulan sebelumnya, > atau pada 10 November 1945. Selain sebagai rangkaian perang di Surabaya, > pertempuran Bojongkokosan juga terkait peristiwa Bandung Lautan Api (BLA). > Pada peristiwa itu, para pejuang membakari rumah-rumah dan fasilitas di > Bandung selatan untuk memperlambat laju pasukan sekutu yang diboncengi > pasukan Belanda (NICA). > > "Pertempuran terjadi setelah TKR dan rakyat melakukan penghadangan. Kami > tidak rela tanah air ini kembali dinjak-injak Belanda. Setelah peristiwa > Bojongkosan, terjadilah pertempuran serupa di Bandung yang kemudian dikenal > peristiwa Bandung Lautan Api," katanya. > > ** > > Walaupun pertempuran Bojongkosan tidak kalah heroik dengan pertempuran di > Surabaya dan Bandung, kata mantan Ketua Dewan Harian Cabang Legium Veteran > Republik Indonesia Sukabumi itu, peristiwa tersebut telah dilupakan banyak > orang. Pelajar atau generasi muda pun sama sekali tidak mengetahui betapa > heroiknya aksi para pejuang dan rakyat Cianjur-Sukabumi pada peristiwa > Bojongkokosan. > > "Kami memang tidak memusuhi tentara Inggris. Hanya masalahnya, dalam > pasukan sekutu itu terdapat tentara NICA Belanda. Ini yang kami lawan. Para > pejuang dan rakyat tidak mau akal licik Belanda yang membonceng pasukan > sekutu, datang untuk menjajah kembali Indonesia," tutur Soebarna. > > Veteran itu sangat menyesalkan bahwa hingga saat ini pertempuran > Bojongkokosan belum dicatatkan dalam sejarah nasional. Peristiwa itu pun > tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah secara nasional. Kesannya > peristiwa itu hanya sebagai pertempuran lokal. Padahal, sekutu sendiri > mencatat peristiwa Bojongkokosan sebagai salah satu pertempuran paling > heroik dalam sejarah Perang Dunia. "Sedih sekali bila orang telah melupakan > persitiwa besar itu," tuturnya. > > Peristiwa itu harusnya menjadi kebanggaan, tak hanya bagi rakyat Cianjur > dan Sukabumi, tetapi juga bagi rakyat Indonesia secara keseluruhan. Meski > begitu, Soebarna sangat menyesal dengan kurangnya perhatian pemerintah > terhadap peristiwa itu, termasuk perhatian kepada para pejuang yang gugur > dengan gagah berani. > > Banyak pejuang yang terlibat langsung dalam peristiwa itu kini kondisi > ekonominya memprihatinkan. Bahkan beberapa di antaranya tidak memperoleh > pensiun hingga akhir hayatnya. > > "Masih banyak pelaku dan veteran yang hidupnya memprihatinkan. Padahal > mereka telah rela mengorbankan nyawa dan darahnya demi bangsa ini. Namun, > perhatian dari pemerintah tidak memadai. Bagaimana pun, mereka adalah > pahlawan sesungguhnya," ujarnya. (Ahmad Rayadie/"PR")*** > > http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=163610 > __. > ,___ > -- d-: dudi herlianto :-q paciringan.wordpress.com kunyuk nuyun kuuk, kuuk nuyun kunyuk
