Wisata Ziarah
Bertemu Sang Dalem di Puncak Bukit

Makam Dalem Cikundul merupakan salah satu objek wisata ziarah yang menjadi
kebanggaan Kabupaten Cianjur. Malah, kontribusinya terhadap pendapatan asli
daerah di sektor pariwisata cukup besar, menempati peringkat kedua setelah
Kebun Raya Cibodas (KRC-LIPI). Kompleks makam Dalem Cikundul ini terletak di
Desa Cijagang, Kecamatan Cikalongkulon, persisnya 17 kilometer di timur laut
pusat Kota Cianjur. Areal permakaman itu memiliki luas 300 meter persegi,
terletak di atas sebuah bukit yang luas totalnya mencapai 4 hektare.

Semula, kondisi makam Dalem Cikundul sangat sederhana. Baru pada 1985, lewat
tangan Ny. Hajjah Yuyun Muslim Taher (istri mendiang Prof. Dr. Muslim Taher,
Rektor Universitas Jayabaya Jakarta), kompleks permakaman bisa dibilang
cukup megah. Waktu itu, perbaikan kompleks menghabiskan dana Rp 125 juta.
Hajjah Yuyun memang donatur tetap kompleks permakaman itu. Dia merupakan
salah seorang keturunan Dalem Cikundul.

Pengunjung yang datang ke kompleks permakaman itu berasal dari berbagai
kalangan usia ataupun profesi, mulai remaja hingga dewasa, termasuk pelajar.
Selain itu, mereka yang datang bukan hanya warga Cianjur, melainkan juga
dari daerah lain bahkan luar negeri. Setiap malam Jumat --apalagi malam
Jumat Kliwon-- dan pada hari Minggu, jumlah pengunjung cukup banyak.

Gani, salah seorang kuncen makam Dalem Cikundul mengatakan, pada hari biasa,
pengunjung yang datang bisa mencapai dua ratus orang. Namun, pada momentum
tertentu, jumlah pengunjung bisa mencapai belasan ribu. Biasanya, jumlah
pengunjung atau peziarah meningkat bertepatan dengan tibanya bulan Maulid
(Rabiulawal). Selain itu, jumlah pengunjung juga meningkat menjelang
datangnya bulan Ramadan. "Tujuan ziarah sendiri ada tiga bagian, yakni
ziarah kepada orang tua, ziarah kepada para ulama, dan ziarah kepada syuhada
salihin," ujarnya.

**

Akses ke lokasi makam bisa ditempuh dengan roda empat ataupun dua hingga di
pelataran parkir. Sebelum masuk lingkungan makam, peziarah terlebih dulu
melewati kios-kios pedagang yang menyediakan berbagai makanan/barang yang
bisa dijadikan oleh-oleh. Setelah itu, barulah tiba di halaman depan
kompleks permakaman, tepatnya di kaki bukit tempat makam berada. Di sana,
terdapat sebuah masjid, lengkap dengan sarana air bersih. Tempatnya cukup
nyaman untuk melepas lelah sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju
bangunan utama. Karena bangunan utama makam berada di bagian atas bukit,
dibutuhkan tenaga ekstra untuk menempuhnya melalui anak tangga menanjak
terjal dengan kemiringan 45 derajat.

Sebelum menapaki tangga, pengunjung bisa menitipkan alas kaki ataupun barang
bawaan di tempat yang sudah disediakan. Dua lajur anak tangga siap ditapaki.
Lajur kanan untuk masuk dan lajur kiri untuk keluar. Jumlah anak tangga yang
ditempuh cukup banyak. Oleh karena itu, bagi yang belum terbiasa akan cukup
melelahkan.

Namun di tengah perjalanan, terdapat bagian tangga yang landai, bisa
dimanfaatkan untuk istirahat sejenak memberi kesempatan mengatur napas,
sebelum melanjutkan perjalanan. Beberapa meter sebelum mencapai bangunan
utama, terdapat sejenis gapura yang di bagian atasnya terdapat tulisan
"Makam Dalem Cikundul Majalaya Cianjur". Setelah melewati gapura itu,
tinggal belok kiri dan menapak sejumlah anak tangga lagi, barulah bisa
menginjakkan kaki di bangunan utama makam.

Saat menapaki anak tangga itu, banyak di antara pengunjung yang melakukannya
sambil menghitung jumlah anak tangganya. Namun, biasanya, hasil hitungan
setiap orang tidak sama. Ada yang mengatakan 179, 210, 198, dan 205. Ada
pula yang tidak jadi menghitung karena sibuk mengatur napas.

Menurut juru kunci H. Akhmad Fudoli, jumlah anak tangga menuju lokasi makam
dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, sebelum bagian tangga yang
landai, terdapat 170 anak tangga. Jumlah itu diambil dari bilangan membaca
Ayat Kursi yang sering dilakukan orang yang juga sering dilakukan Dalem
Cikundul. Sementara jumlah anak tangga bagian kedua sebanyak 34 buah. "Ada
anggapan, bila menghitung anak tangga sama dengan jumlah yang sebenarnya,
bakal dikabul segala maksud atau keinginan. Itu tergantung kepercayaan
masing-masing atau hanya sugesti," tuturnya.

Ukuran areal halaman bangunan utama makam cukup luas. Di sana, di
ketinggian, udara terasa sejuk. Para peziarah pun bisa menikmati panoram
alam yang indah. Ruangan utama pun cukup luas, membentuk letter U, dan bisa
menampung ratusan peziarah. Di dalam bangunan utama, terdapat beberapa
ruangan. Makam Dalem Cikundul tepat berada di tengah-tengah. Di sebelahnya,
terdapat ruangan khusus yang hanya bisa digunakan untuk kalangan tertentu.
Di kompleks itu, terdapat pula makam R. Djaja Perbata (R.H. Ibrahim) yang
lahir tahun 1816 dan wafat 1906. Tokoh ini dikenal sebagai pencipta maen po,
pencak silat Cikalong, sekaligus pendiri Paguron Pusaka Cikalong (PPC).

Mengingat peran dan jasa Dalem Cikundul, pada setiap peringatan Hari Jadi
Cianjur, para petinggi di Kabupaten Cianjur selalu menyempatkan berziarah.
Kegiatan itu sudah menjadi agenda rutin tahunan, seperti pada hari jadi
ke-333 pada 12 Juli 2010 lalu. Apalagi, Dalem Cikundul dikenal sebagai salah
seorang penyebar agama Islam di Cianjur, sekaligus bupati pertama Cianjur.
"Jadi, tidak mungkin kami atau Cianjur bisa seperti sekarang kalau tanpa
peran beliau," katanya.

**

Ketua Dewan Kesenian Cianjur (DKC) D. Andri Kartanagara mengatakan, dengan
melihat potensi makam Dalem Cikundul, seharusnya pemerintah bisa menjadikan
makam itu sebagai salah satu kantong wisata. Apalagi, saat ini, Cianjur
belum memiliki kantong wisata. Ia menilai, pengelolaan dan penataan kawasan
itu masih belum optimal, jauh dari harapan. "Soalnya, masih banyak peluang
dan potensi yang memungkinkan untuk digali, seperti penjualan cinderamata
khas, tempat menginap yang memadai, hingga infrastruktur. Apabila itu bisa
dilaksanakan, bukan mustahil nantinya mampu bersaing dengan objek wisata
ziarah daerah lain yang sudah lebih dulu besar," katanya.

Mengenai adanya pro dan kontra menyikapi tujuan peziarah ke makam Dalem
Cikundul, menurut dia, sebaiknya pemerintah tidak perlu khawatir, apalagi
terbawa ke dalam pro dan kontra itu. Pemerintah harus berfokus terhadap
upaya penataan dan pengembangan lokasi makam, sebagai bentuk penghargaan
terhadap kiprah Dalem Cikundul sebagai bupati pertama Cianjur.

Dia juga menyayangkan, di areal makam Dalem Cikundul, dijual lembaran kertas
yang cenderung memuat kisah dari sisi mistis. Di antaranya kisah tentang
pertemuan Dalem Cikundul dengan putri jin. Sementara, kiprahnya dalam menata
pemerintahan serta bidang lainnya dalam kehidupan sehari tidak diungkap.
"Semestinya pihak terkait bisa menertibkan itu. Apa yang dilakukan pengurus
makam Syekh Abdul Muhyi di Tasikmalaya perlu dicontoh. Mereka menjual
sejarah wali itu secara lengkap berupa buku saku untuk para peziarah.
Tujuannya menghindari pemujaan yang mengarah kepada kemusyrikan," katannya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur Himam Haris,
didampingi Kepala Seksi Pariwisata Neneng mengatakan, pihaknya telah dan
akan terus melakukan berbagai upaya untuk mengembangkan objek wisata ziarah
tersebut. Di antaranya dengan melakukan pembinaan secara berkelanjutan.
Demikian pula dengan pengelolaannya, dinas melaksanakannya dengan melibatkan
peran aparat desa dan kuncen. Selain itu, pihaknya secara rutin mengimbau
pengunjung agar kedatangan mereka semata-mata untuk mendoakan.

Dikatakan Himam, makam Dalem Cikundul memberikan keuntungan buat Kabupaten
Cianjur, terutama dari sisi PAD. "Setiap tahun, pencapaian PAD selalu
melebihi target. Tahun 2010 ini sudah mencapai 120 persen dari target yang
ditentukan," katanya. (Yusuf Adji/"PR")***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=164542

Kirim email ke