Bukan Sekadar Cerita Mistis

Nama besar Dalem Cikundul sudah dikenal masyarakat luas, di antaranya
sebagai penyebar Islam sekaligus perintis dan bupati pertama Cianjur.
Karismanya sebagai seorang ulama sekaligus umara tak hanya menyebar di
Kabupaten Cianjur, tetapi sampai ke luar daerah. Oleh karena itu, tidaklah
mengherankan jika banyak peziarah berasal dari luar Cianjur, bahkan luar
negeri.

Dalem Cikundul, pemilik nama Raden Aria Wiratanu I itu, menjabat sebagai
Bupati Cianjur pada periode 1640-1686. Sayangnya, perjalanan dan kiprahnya
dalam pemerintahan tenggelam oleh dongeng-dongeng berbau mistik. Kebanyakan
orang lebih mengetahui sisi cerita mistiknya, sedangkan kisah kepahlawanan
dan kiprahnya dalam membangun belum banyak tergali. Salah satu kisah yang
seharusnya dipahami adalah ketika Dalem Cikundul didaulat oleh beberapa
bupati yang berkuasa di Jawa Barat dan sekitarnya untuk menjadi raja,
bergelar Raja Gagang (Raja Pegunungan).

Ketua Lembaga Kebudayaan Cianjur (LKC) Denny Rusyandi mengungkapkan, cerita
bermula dari undangan Prabu Borosngora (Raja Panjalu) terhadap sejumlah
bupati di sekitar Cianjur, Sukabumi dan Garut. Ketika itu, mereka mengadakan
musyawarah di Gunung Rompang (bagian dari pegunungan Bengbreng), Desa Loji,
perbatasan antara Ciemas dan Palabuhanratu. Sejumlah dalem menyempatkan
hadir dalam pertemuan tersebut, seperti Sang Hyang Panaitan (Adipati
Sukawayana), Adipati Lumaju Gede Nyilih dari Cimapag, Dalem Nalamata dari
Cipamingkis, Dipati Jayaloka dari Cidamar, Hyang Jatuna dari Kandangwesi
Garut, Dipati Krutuwuna dari Parakantilu, dan Hyang Manda Agung dari
Kerajaan Sancang.

Menurut Denny, berdasarkan catatan yang ada, pertemuan tersebut berlangsung
pada 24 September 1665. Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan, yaitu
mengangkat Dalem Cikundul/ Aria Wiratanu I sebagai pemimpin dengan gelar
Raja Gagang (Raja Pegunungan).

Catatan mengenai Raja Gagang ini tercantum dalam buku De Priangan jilid dua
dari Degregister Belanda tertanggal 14 September 1666 Masehi. "Dalam buku
itu diterangkan bahwa Raja Gagang menyerahkan surat kepada Sersan Scipio,
serdadu Belanda yang tengah melakukan pengukuran terhadap daerah bekas
Kerajaan Pajajaran. Isi suratnya menyatakan bahwa kerajaan pegunungan (Raja
Gagang) tidak tunduk kepada siapa pun, kecuali kepada Tuhan Yang Maha Esa,"
katanya.

Menurut Denny, setelah peristiwa itu, kiprah Raja Gagang tidak terdengar
lagi. Akan tetapi, baginya, hal itu merupakan bukti sikap anti dan
perlawanan terhadap penjajah dari para dalem yang dipimpin Raja Gagang.

**

dalem Cikundul memiliki nama kecil, yakni Raden Jayasasana. Denny
menjelaskan, sesungguhnya, tokoh itu bukanlah asli kelahiran Cianjur. Dalem
Cikundul merupakan putra dari Dalem Aria Wangsagoparana, ulama besar
penyebar Islam di daerah Sagalaherang, Kabupaten Subang, kini. Dia juga
merupakan cucu dari Sunan Wanaperih (Raja Talaga, Majalengka).

Sejak kecil, Jayasasana telah menjadi santri di Pesantren Amparan Jati
Cirebon. Ketika Sultan Agung Mataram menggempur Portugis di Sunda Kelapa,
Jayasasana sempat menghadap Sultan Cirebon Panembahan Ratu agar dirinya juga
dikirim ke Batavia. Ia ingin membantu pasukan Mataram. Namun, keinginan
Jayasasana itu tidak dikabulkan. Sultan Cirebon sudah mempersiapkan tugas
lain bagi Jayasasana, yaitu membuka pemerintahan baru, bawahan Cirebon, di
sekitar Sungai Cikundul Leutik (kini bernama Desa Cijagang, Kecamatan
Cikalong Kulon, Kabupaten Cianjur).

Di dalam buku Sejarah Cianjur karya Damanhuri, Jayasasana diutus ke Cikundul
(kemudian diberi gelar Aria Wiratanu) pada usia 23 tahun. Ia dibekali
pasukan dan ulama dari Banten. "Dia juga mengemban misi memperkuat pengaruh
Islam di daerah Cianjur," kata Denny.

Ketika mereka tiba, Cikundul sudah dihuni oleh sekelompok warga yang pola
pemerintahannya masih menggunakan hukum rimba. Siapa yang paling sakti, ia
menjadi pemimpin. Singkat cerita, Aria Wiratanu berhasil mengungguli
jawara-jawara lainnya di daerah itu. Saat memerintah, ia meninggalkan
praktik hukum rimba, tetapi menggantinya dengan sistem yang teratur. Ia juga
membasmi pengaruh anismisme dan dinamisme, dengan menerapkan ajaran Islam.

Berdasarkan keterangan dari Pepet Djohar, mantan Ketua LKC sekaligus
keturunan Dalem Cikundul, kata Denny, Aria Wiratanu wafat pada usia sembilan
puluh tahun. Saat itu, beliau sudah tidak mengurus pemerintahan, tetapi
berfokus terhadap syiar agama Islam. Tugas kepemerintahan sudah ia serahkan
kepada anaknya, Raden Wiramanggala sebagai Aria Wiratanu II (1686-1707) dan
bergelar Dalem Tarikolot.

**

tampuk kepemimpinan selanjutnya diteruskan secara turun-temurun. Setelah
Dalem Aria Wiratanu II, kepemimpinan dilanjutkan oleh Dalem Aria Wiratanu
III/Raden Astramanggala yang dikenal sebagai Dalem Dicondre. Setelah itu,
penerus Dalem Dicondre menambahkan kata "Datar" di belakang gelarnya,
menjadi Dalem Aria Wiratanu Datar. Namun, kurangnya sosialisasi membuat
kebanyakan warga dan aparat kerap menyebut semua Dalem Cianjur dengan
sebutan Dalem Aria Wiratanu Datar. Padahal, sebutan itu baru berlaku bagi
Dalem Aria Wiratanu IV, V, VI, VII hingga VIII.

Ustaz Djalaluddin Isa Putra, pemegang wawacan Sejarah Prabu Kujang Pilawa
(Raja Kerajaan Jampang Manggung) menyatakan, di dalam wawacan disebutkan
bahwa sebelum Dalem Cikundul datang, sebenarnya di Cianjur sudah ada
Kerajaan Jampang Manggung. Namun, saat itu, pengaruh kerajaan sudah semakin
memudar. Ketika Dalem Cikundul pertama kali tiba di Cianjur, Patih Jampang
Manggung yang bernama Hibar Malimping memberikan kepercayaan kepada Raden
Jayasasana untuk mengajarkan cara menanam padi. Soalnya, warga Cikundul saat
itu masih menanam padi di gunung (ngahuma). "Cara menanam padi di daratan
saat itu disebut huma banjir," ujar nya.

Tidak hanya itu, Dalem Cikundul mendapat kepercayaan memimpin pasukan
Kerajaan Jampang Manggung untuk menghalau pasukan dari Kesultanan Banten
yang akan menyerang Cianjur. (Yusuf Adji/"PR")***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=164541

Kirim email ke