Rabu, 27/10/2010 16:20 WIB
Indonesia Benua yang Hilang Apakah Nabi Nuh Orang Indonesia? Fitraya Ramadhanny - detikNews <p>Your browser does not support iframes.</p> Bogor - Kisah banjir besar Nabi Nuh, cocok dengan kajian ilmiah tenggelamnya Indonesia di masa silam dari sejumlah ilmuwan. Lantas, apakah Nabi Nuh berasal dari Indonesia? "Saya tidak bisa bilang Nuh dari Indonesia. Walaupun Islam, Kristen dan Yahudi berbagi cerita banjir yang sama," kata peneliti dari Universitas Oxford, London, Stephen Oppenheimer dalam wawancara dengan detikcom di Hotel Salak, Bogor. Penulis buku Eden in The East ini mengatakan kisah banjir besar tersebar luas di dunia. Namun memang kisah banjir besar paling banyak terdapat di Indonesia. "Meski demikian, kita belum bisa menyimpulkan kisah banjir berasal dari Indonesia," kata Oppenheimer. Hal ini disebabkan, banjir dialami di berbagai daerah di dunia pada akhir zaman es. Kisah banjir Sumeria diduga berbeda sumbernya dengan banjir di Sundaland atau Indonesia masa silam. "Kisah banjir Sumeria diduga bersumber dari banjir di kawasan Teluk pada akhir Zaman Es, bukan Sundaland," jelas Oppenheimer. Oleh karena itu, darimana Nabi Nuh berasal belum bisa dijawab. Kitab suci pun tidak menyebut nama negeri Nabi Nuh. Meskipun banjir di Sundaland dianggap fakta sejarah, namun kisah banjir belum bisa dianggap berasal dari kejadian yang sama di Indonesia pada Zaman Es. "Saya tidak punya metodologi ilmiahnya untuk aspek religi ini," tutupnya. (fay/lrn) Oppenheimer: Peradaban Dunia dari Indonesia Ismoko Widjaya Kamis, 28 Oktober 2010, 16:18 WIB VIVAnews - Teori ahli genetika dan struktur DNA manusia dari Oxford University, Inggris, Stephen Oppenheimer, seperti memutarbalikkan sejarah yang sudah ada. Lewat bukunya yang merupakan catatan perjalanan penelitian genetis populasi di dunia, ia mengungkapkan bahwa peradaban yang ada sesungguhnya berasal dari Timur, khususnya Asia Tenggara. Hal itu disampaikan Oppenheimer dalam diskusi bedah bukunya berjudul 'Eden in The East' di gedung LIPI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Kamis 28 Oktober 2010. Sejarah selama ini mencatat bahwa induk peradaban manusia modern itu berasal dari Mesir, Mediterania dan Mesopotamia. Tetapi, menurut dia, nenek moyang dari induk peradaban manusia modern berasal dari tanah Melayu yang sering disebut dengan sundaland atau Indonesia. Apa buktinya? "Peradaban agrikultur Indonesia lebih dulu ada dari peradaban agrikultur lain di dunia," kata Oppenheimer dalam diskusi yang juga dihadiri Jimly Asshiddiqie. Lulusan fakultas kedokteran Oxford University melalui bukunya mengubah paradigma yang ada selama ini, bahwa peradaban paling awal adalah berasal dari daerah Barat. Perjalanan yang dilakukannya dimulai dengan komentar tanpa sengaja oleh seorang pria tua di sebuah desa zaman batu di Papua Nugini. Dari situ dia mendapati kisah pengusiran petani dan pelaut di pantai Asia Tenggara, yang diikuti serangkaian banjir pasca-sungai es hingga mengarah pada perkembangan budaya di seluruh Eurasia. Oppenheimer meyakini temuan-temuannya itu, dan menyimpulkan bahwa benih dari budaya maju, ada di Indonesia. Buku ini mengubah secara radikal pandangan tentang prasejarah. Pada akhir Zaman Es, banjir besar yang diceritakan dalam kitab suci berbagai agama benar-benar terjadi dan menenggelamkan paparan benua Asia Tenggara untuk selamanya. Hal itu yang menyebabkan penyebaran populasi dan tumbuh suburnya berbagai budaya Neolitikum di Cina, India, Mesopotamia, Mesir dan Mediterania Timur. Akar permasalahan dari pemekaran besar peradaban di wilayah subur di Timur Dekat Kuno, berada di garis-garis pantai Asia Tenggara yang terbenam. "Indonesia telah melakukan aktivitas pelayaran, memancing, menanam jauh sebelum orang lain melakukannya," ujar dia. Oppenheimer mengungkapkan bahwa orang-orang Polinesia (penghuni Benua Amerika) tidak datang dari Cina, tapi dari pulau-pulau Asia Tenggara. Sementara penanaman beras yang sangat pokok bagi masyarakat tidak berada di Cina atau India, tapi di Semenanjung Malaya pada 9.000 tahun lalu. Eden In The East juga mengungkapkan bahwa berbagai suku di Indonesia Timur adalah pemegang kunci siklus-siklus bagi agama-agama Barat yang tertua. Buku ini 'membalikkan' sejumlah fakta-fakta yang selama ini diketahui dan dipercaya masyarakat dunia tentang sejarah peradaban manusia. "Buku ini memang juga ada biasnya. Karena penulis istrinya orang Malaysia sehingga ada perspektif Malaysia," kata Jimly yang hadir dalam acara itu. Laporan: Fina Dwi Yurhami www.vivanews.com http://nasional.vivanews.com/news/read/185507-oppenheimer--peradaban-dunia-d ari-indonesia Dipublikasikan : Kamis, 28 Oktober 2010, 16:18 WIB CVIVAnews.com
