Situ Wanayasa
Menikmati Situ Kala Senja

SITU Wanayasa yang berhawa sejuk, banyak dikunjungi pelancong dari berbagai
daerah.* AAN MERDEKA PERMANA

 BILA Anda melakukan perjalanan antara Purwakarta dan Subang, sebelum masuk
ke Kota Kecamatan Wanayasa, akan melewati satu danau yang cukup luas. Danau
itu dikenal dengan sebutan Situ Wanayasa.

Tempat ini semakin hari kian semakin banyak dikunjungi, baik oleh mereka
yang sengaja melakukan kunjungan wisata, maupun yang secara kebetulan
melakukan perjalanan Purwakarta-Subang. Danau asri ini memang tepat berada
di sisi jalan provinsi sehingga siapa pun yang lewat pasti akan tergerak
hatinya untuk sekadar beristirahat sejenak.

"Kan di sana banyak rumah makan yang menyediakan sajian khas seperti sate
maranggi atau manisan pala," kata Mansyur (45) penduduk Karawang, yang
sedang dalam perjalanan menuju Subang. Kedua jenis makanan ini memang khas
terdapat di sepanjang jalan dari Purwakarta hingga Wanayasa. "Bahkan,
manisan pala yang diramu seperti ini hanya ada di Wanayasa," tutur Mansyur.
Memang, ada banyak jenis manisan pala, seperti yang ada di Bogor, Sukabumi
atau Cianjur. Akan tetapi, manisan pala produksi Wanayasa rasanya sungguh
amat manis sebab takaran gula putihnya cukup banyak sehingga terlihat
kental, lalu cairan gula ini akan meresap ke dalam pori-pori buah pala.

Sate maranggi juga merupakan sajian khas wilayah Purwakarta dan Wanayasa.
Bila pagi hari, di salah satu pasar tradisional di Wanayasa akan berderet
jongko-jongko pedagang sate maranggi. Mereka melayani sesama pedagang di
pasar yang sejak subuh sudah berkumpul di sana atau juga melayani para
pengunjung pasar.

Mulai subuh hingga pukul 8.00 WIB, suasana pasar akan dipenuhi "kabut asap
sate" sebab di pagi hari banyak orang gemar sarapan sate maranggi. Karena
sate maranggi sudah jadi ikon daerah Wanayasa maka tak aneh di setiap
kelokan jalan di Wanayasa akan mudah didapat penjaja sate maranggi.

Sebetulnya sate merupakan makanan yang tak asing, apakah itu dibuat dari
daging sapi atau kambing. Hanya bedanya, sate maranggi sebelum dibakar sudah
dilumuri bumbu-bumbu. "Dengan demikian, bila sudah masak, sebetulnya sudah
tak perlu bumbu kacang atau kecap lagi sebab sudah terasa enak beraroma,"
tutur Totong, pedagang cuka tradisional. Sate maranggi bisa dimakan bersama
nasi ketan, tetapi nasi timbel pun sudah disiapkan bila konsumen memerlukan.

Indahnya saat berkabut

Hari itu kala senja, serombongan pelaku perjalanan turun dari kendaraan
jenis niaga, belasan jumlahnya. Mereka memasuki salah satu rumah makan sate
maranggi dan memesan sate banyak-banyak. Mereka makan sate sambil menghadap
ke hamparan Situ Wanayasa yang sedang berkabut tebal. Mungkin mereka juga
ikut menyaksikan sepasang muda-mudi yang asyik masyuk di bawah pepohonan
yang diselimuti kabut, walau tentu lebih berselera menekuni sajian sate
maranggi di piring dengan asap tipis mengepul. Sate itu ditemani oleh
sejumput sambal goang di piring kecil dan satu mangkuk kecap tradisional
(bukan di botol) yang bercampur tomat hijau. Cara makannya pun unik, sate
maranggi dicelupkan ke dalam kecap di mangkuk, lalu langsung masuk mulut.
Sementara nasi timbel dimakan sesudah dicocolkan ke sambal goang. Mungkin
akan terasa pedas, tetapi teh panas satu gelas sudah siap menolong menguasai
keadaan.

Itulah sepenggal atraksi wisata kuliner di Situ Wanayasa, saat senja hari
yang penuh kabut. Tidak selamanya senja di Wanayasa adalah senja berkabut.
Namun, bila Anda datang senja hari saat Situ Wanayasa berkabut maka inilah
panorama paling indah di objek wisata lokal ini.

Mari kita pesiar ke Situ Wanayasa di saat kabut membayang. (Aan Merdeka
Permana)***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=165628

Kirim email ke