Wanayasa = sate maranggi + beuleum ketan
                = ajib

2010/11/26 mh <[email protected]>

>
>
> Situ Wanayasa
> Menikmati Situ Kala Senja
>
> SITU Wanayasa yang berhawa sejuk, banyak dikunjungi pelancong dari berbagai
> daerah.* AAN MERDEKA PERMANA
>
>  BILA Anda melakukan perjalanan antara Purwakarta dan Subang, sebelum
> masuk ke Kota Kecamatan Wanayasa, akan melewati satu danau yang cukup luas.
> Danau itu dikenal dengan sebutan Situ Wanayasa.
>
> Tempat ini semakin hari kian semakin banyak dikunjungi, baik oleh mereka
> yang sengaja melakukan kunjungan wisata, maupun yang secara kebetulan
> melakukan perjalanan Purwakarta-Subang. Danau asri ini memang tepat berada
> di sisi jalan provinsi sehingga siapa pun yang lewat pasti akan tergerak
> hatinya untuk sekadar beristirahat sejenak.
>
> "Kan di sana banyak rumah makan yang menyediakan sajian khas seperti sate
> maranggi atau manisan pala," kata Mansyur (45) penduduk Karawang, yang
> sedang dalam perjalanan menuju Subang. Kedua jenis makanan ini memang khas
> terdapat di sepanjang jalan dari Purwakarta hingga Wanayasa. "Bahkan,
> manisan pala yang diramu seperti ini hanya ada di Wanayasa," tutur Mansyur.
> Memang, ada banyak jenis manisan pala, seperti yang ada di Bogor, Sukabumi
> atau Cianjur. Akan tetapi, manisan pala produksi Wanayasa rasanya sungguh
> amat manis sebab takaran gula putihnya cukup banyak sehingga terlihat
> kental, lalu cairan gula ini akan meresap ke dalam pori-pori buah pala.
>
> Sate maranggi juga merupakan sajian khas wilayah Purwakarta dan Wanayasa.
> Bila pagi hari, di salah satu pasar tradisional di Wanayasa akan berderet
> jongko-jongko pedagang sate maranggi. Mereka melayani sesama pedagang di
> pasar yang sejak subuh sudah berkumpul di sana atau juga melayani para
> pengunjung pasar.
>
> Mulai subuh hingga pukul 8.00 WIB, suasana pasar akan dipenuhi "kabut asap
> sate" sebab di pagi hari banyak orang gemar sarapan sate maranggi. Karena
> sate maranggi sudah jadi ikon daerah Wanayasa maka tak aneh di setiap
> kelokan jalan di Wanayasa akan mudah didapat penjaja sate maranggi.
>
> Sebetulnya sate merupakan makanan yang tak asing, apakah itu dibuat dari
> daging sapi atau kambing. Hanya bedanya, sate maranggi sebelum dibakar sudah
> dilumuri bumbu-bumbu. "Dengan demikian, bila sudah masak, sebetulnya sudah
> tak perlu bumbu kacang atau kecap lagi sebab sudah terasa enak beraroma,"
> tutur Totong, pedagang cuka tradisional. Sate maranggi bisa dimakan bersama
> nasi ketan, tetapi nasi timbel pun sudah disiapkan bila konsumen memerlukan.
>
> Indahnya saat berkabut
>
> Hari itu kala senja, serombongan pelaku perjalanan turun dari kendaraan
> jenis niaga, belasan jumlahnya. Mereka memasuki salah satu rumah makan sate
> maranggi dan memesan sate banyak-banyak. Mereka makan sate sambil menghadap
> ke hamparan Situ Wanayasa yang sedang berkabut tebal. Mungkin mereka juga
> ikut menyaksikan sepasang muda-mudi yang asyik masyuk di bawah pepohonan
> yang diselimuti kabut, walau tentu lebih berselera menekuni sajian sate
> maranggi di piring dengan asap tipis mengepul. Sate itu ditemani oleh
> sejumput sambal goang di piring kecil dan satu mangkuk kecap tradisional
> (bukan di botol) yang bercampur tomat hijau. Cara makannya pun unik, sate
> maranggi dicelupkan ke dalam kecap di mangkuk, lalu langsung masuk mulut.
> Sementara nasi timbel dimakan sesudah dicocolkan ke sambal goang. Mungkin
> akan terasa pedas, tetapi teh panas satu gelas sudah siap menolong menguasai
> keadaan.
>
> Itulah sepenggal atraksi wisata kuliner di Situ Wanayasa, saat senja hari
> yang penuh kabut. Tidak selamanya senja di Wanayasa adalah senja berkabut.
> Namun, bila Anda datang senja hari saat Situ Wanayasa berkabut maka inilah
> panorama paling indah di objek wisata lokal ini.
>
> Mari kita pesiar ke Situ Wanayasa di saat kabut membayang. (Aan Merdeka
> Permana)***
>
> http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=165628
>   
>

Kirim email ke