Nu tos puguh ti ayeuna, beunghar ku nu miskin, beunghar ku hutang...
Hahahaha 
Sent from MobilePhone®

-----Original Message-----
From: [email protected]
Sender: [email protected]
Date: Tue, 30 Nov 2010 22:03:37 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [kisunda] Ngimpi Taun 2030?

Tah pami ieu enyaan, pasti kajadian, nagara indonesia bakal jadi salah sahiji 
nagara beunghar
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: MRachmat Rawyani <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Tue, 30 Nov 2010 13:56:36 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [kisunda] Ngimpi Taun 2030?

Halah, punten teu disundakeun. Ieu mah opini kuring perkara ngimpi taun 2030, 
aya di www.staff.blog.ui.ac.id/rani

baktos,

mrachmatrawyani

Berkokok Keok kok-merokok


Binatang apa pula, yang bisa berkokok keok kok-merokok? Bukan binatang, tetapi 
merupakan gabungan beberapa kata  berkokok (sesumbar), keok (kalah) dan 
Kok-merokok ( mengadaptasi dari bahasa Madura, asal kata rokok merokok), yang 
mempunyai pengertian seperti yang akan dijelaskan  di bawah ini.

Menurut berita yang dimuat Harian Pikiran Rakyat online, Chairul Tanjung 
(alumni 
FKG UI, Ketua Dewan Pakar Ekonomi Nasional, pen)   dalam ceramahnya di Jakarta 
yang berlangsung Senin (29/11) menyatakan, Indonesia bisa mengalahkan ekonomi 
Jepang pada tahun 2030 dan bakal menjadi Negara maju di urutan kelima dunia 
dalam dua dekade lagi, yaitu China, amerika Serikat, Uni Eropa, India dan 
Indonesia. Pendapat ini sebetulnya pernah dinyatakan dalam  satu seminar 
Wirausaha muda di UI beberapa waktu lalu. Pendapatnya ini didasarkan pada 
faktor 
demografi, dimana  Jepang akan banyak orang yang lanjut usia yang memerlukan 
banyak biaya perawatan. Sementara Indonesia akan banyak orang yang berusia 
produktif. Tahun 2020 penduduk Indonesia mencapai 268 juta, 134 juta laki-laki, 
dan 134 juta perempuan. Jumlah usia produktif mencapai 136 juta (51%).

Sementara itu, Sabtu lalu (27/11) dalam orasi ilmiah pengukuhannya sebagai Guru 
Besar Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat (FKM) UI, Prof.Dr.dr. Anhari Achadi, 
SKM,Scd menyatakan, prevalensi merokok di negara-negara maju seperti Amerika, 
Inggris, dan Jepang menunjukkan adanya penurunan dalam 30 tahun 
terakhir,sementarajumlah perokok di Indonesia  terjadi peningkatan secara 
tajam, 
khususnya pada laki-laki dewasa 15-19 tahun, dan munculnya perokok pemula di 
usia 5 – 9 tahun. Peningkatan pemakaian tembakau berdampak buruk pada kesehatan 
dan kesejahteraan semakin menurun, karena efek penyakit merokok akan dirasakan 
20 sampai 25 tahun yang akan datang.

Dari dua informasi di atas terjadi paradoks. Optimisme yang tinggi terhadap 
usia 
produktif dibayang-bayangi dengan derajat kesehatan yang menurun, karena adanya 
bahaya penyakit akibat merokok yang akan terlihat pada tahun 2030-an. Jadi, 
sesumbarnya Chairul Tanjung ibarat berkokok tetapi akan keok karena  generasi 
produktifnya terkena penyakit akibat kok-merokok.





________________________________
From: mh <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tue, November 30, 2010 12:18:13 PM
Subject: Re: [kisunda] Ngimpi Taun 2030?

  
hehehe, embi ari jaga di aherat masih keneh aya endonesa kitu?



>



      

Kirim email ke