hehehe, enya nya bah oca, baraya kanekes pada marebutkeun padahal urang kanekesna mah aranteng we jigana
2010/12/1 Roza R. Mintaredja <[email protected]> > > > aneh, > mereka gak pernah ngusik kita, > dituduh itu, di cap ieu, perlu di'modren'keun jsbna > tapi maranehna ngajaga leuweung teu digajih, tug nepi ka kiwari, tapi > leuweung weuteuh. > tapi maranehna tara ngabohong, sok sanajan teu sakola > tapi maranehna hirup mandiri tara kakurangan beas, komo impor > ari urang, aya pulisi hutan anu digajih, leuweung bet jadi beak ledis > ari urang, anu hirup 'modern' kudu impor uyah komo beas > ari urang, anu ber'agama' anu sarakola, justru lolobana tukang > ngabohong.komo pejabat > aneh, > tapi nyata! > jadi saha atuh anu beradab teh.??? > > hn*R3M > > > 2010/11/27 mh <[email protected]> > > >> >> Masyarakat Baduy bukan Pelarian >> >> WARGA suku Baduy luar mengangkut kebutuhan sehari-hari melintasi rumah >> adat di Kampung Kadu Ketug, Desa Kanekes, Kec. Leuwidamar, Kab. Lebak, >> Banten, Rabu (8/4/2009). Masyarakat Baduy berpendapat, mereka merupakan >> keturunan pertama yang langsung diciptakan Tuhan di muka bumi bernama Adam >> Tunggal.* USEP USMAN NASRULLOH/"PR" >> >> Suku Baduy tinggal di sekitar pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, >> Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, yang merupakan tanah >> ulayat sesuai dengan Perda Kabupaten Lebak No. 32 /2001 tentang Perlindungan >> Atas Hak Tanah Ulayat Masyarakat Baduy. Luas total wilayahnya mencapai >> 5.136, 58 hektare. >> >> Selama ini, sebagaimana suku lainnya, suku Baduy disebut suku terasing >> atau masyarakat pedalaman. Namun, istilah tersebut kini tidak relevan lagi >> karena dikonotasikan negatif sebagai masyarakat tertinggal, masyarakat >> terbelakang. Untuk menyebut komunitas semacam Baduy sekarang menggunakan >> istilah "masyarakat adat terpencil". Dengan demikian, walau menempati daerah >> pedalaman yang terpencil, tak mengurangi jati diri dan martabat mereka >> sebagai manusia. >> >> Kendati dari segi istilah mengalami perubahan, suku Baduy masih menyisakan >> beberapa perbedaan persepsi, misalnya tentang asal-asul dan prinsip >> masyarakat Baduy. Persepsi yang beredar di kalangan masyarakat luar yang >> bukan Baduy berbeda dengan persepsi masyarakat Baduy sendiri. >> >> Ada pendapat mengatakan, asal-usul masyarakat Baduy sebagai bagian dari >> Kerajaan Pajajaran. Masyarakat Banten yang dipimpin Raja Saka Domas (Pucuk >> Umun) sebagai pemeluk animisme. Tahun 1525, Maulana Hasanuddin mengislamkan >> Banten Utara secara berangsur-angsur, yang tidak masuk Islam mengungsi ke >> Parahiyangan atau Cibeo, Kanekes, Banten ( Rafiudin dalam Iskandar dkk, >> 2001). Masih ada beberapa versi lain tentang asal-usul masyarakat Baduy yang >> hampir sama. >> >> Hal ini berbeda dengan pengakuan pemangku adat Baduy. Mereka berpendapat >> bahwa masyarakat Baduy merupakan keturunan langsung manusia pertama yang >> diciptakan Tuhan di muka bumi, bernama Adam Tunggal. Mereka meyakini >> suku-suku bangsa lain di dunia bagian atau keturunan lanjutan dari masa lalu >> mereka dengan tugas berbeda-beda. Tanah ulayat mereka diyakini pula sebagai >> inti jagat (Dr. Ahmad Sihabudin M.Si. dan Asep Kurnia, 2010). Keyakinan >> masyarakat Baduy tersebut persis seperti keyakinan masyarakat di sekitar >> Gunung Merapi. Seperti di desa Mbah Maridjan yang meyakini tanah mereka >> merupakan pusat kekuasaan di tanah Jawa. >> >> Prinsip hidup >> >> Asal-usul yang diyakini menjadi prinsip hidup masyarakat Baduy yang >> berlaku hingga kini. Di antara prinsip yang diyakini adalah >> carek-lisan-khabar (perintah, ucapan, dan berita) yang merupakan tugas >> kesukuan mereka (wiwitan). Sementara lawan dari ketiga kata itu adalah >> coret-tulisan-gambar yang merupakan tugas manusia modern di luar suku Baduy. >> >> Sebagai implementasi carek-lisan-khabar, masyarakat Baduy tetap teguh >> menggunakan tradisi lisan atau bahasa tutur. Lebih jauh, masyarakat Baduy >> tak mau belajar di sekolah formal dengan alasan bisa merusak tatanan budaya >> mereka. Akan tetapi, terutama Baduy luar (penamping), banyak yang pandai >> baca-tulis. >> >> Uniknya, seperti pengamatan penulis dan wawancara dengan beberapa penduduk >> di sana, cara mereka belajar, yaitu ketika misalnya membeli sabun atau rokok >> dihafal mereknya dan di rumah tulisan pada bungkusnya dipakai untuk belajar. >> (Penduduk Baduy luar hampir mirip masyarakat bukan Baduy, mandi dengan >> sabun, gosok gigi dengan pasta gigi, dan merokok). Atau, mereka belajar >> baca-tulis dengan membentuk kelompok belajar di rumah yang dipandu para >> sukarelawan. >> >> Budaya masyarakat Baduy yang nonliterat dinilai sebagian kalangan sebagai >> bentuk strategi mereka dalam melestarikan prinsip hidup dan adat istiadat >> secara turun-menurun. Apa yang disampaikan oleh sesepuh berupa carek >> (perintah), lisan (ucapan), dan khabar (berita). Dengan demikian, asal-usul >> mereka pun sangat sulit dilacak, kemungkinan untuk menghindari kaji ulang >> atau dikritisi. >> >> Masyarakat Baduy juga tidak mengikuti gaya hidup modern. Masyarakat Baduy >> luar sekalipun tak mau menggunakan listrik untuk penerangan. Mereka kukuh >> menggunakan lampu tempel. Di Kampung Ciboleger, perbatasan antara >> perkampungan Baduy dan perkampungan bukan Baduy, hanya dibedakan oleh bentuk >> rumah. Rumah baduy berdinding bilik bambu dan beratap rumbia, sedangkan yang >> lain berdinding tembok dan beratap genteng. Ketika malam tiba, perbedaan >> kian kontras karena soal listrik tadi. >> >> Lawan carek, lisan, dan khabar adalah coret, tulisan, dan gambar. Tiga >> kata terakhir merupakan tugas kelompok manusia lain yang modern, yaitu >> meramaikan dunia. Yang pada perkembangan mutakhir, adanya berbagai alat >> elektronik dan komputerisasi. Ketiganya terpadu atau biasa disebut >> multimedia. Namun, kemajuan yang terus bergerak bukan tanpa risiko. Berbagai >> persoalan terus terjadi dan tak jarang menelan korban, termasuk manusia >> sendiri yang menjadi korbannya. >> >> Bukan pelarian >> >> Banyak literatur tentang asal-usul masyarakat adat terpencil. Seperti >> halnya Suku Tengger dan suku asing di sekitar pegunungan Bromo dan >> Pegunungan Ijen di Jawa Timur. Mereka diam di daerah pegunungan karena >> terdesak seiring runtuhnya Majapahit dan Blambangan. >> >> Demikian halnya suku Baduy. Beberapa sejarah mengidentifikasi mereka ke >> daerah pegunungan Kendeng karena terdesak seiring runtuhnya Pajajaran >> setelah masuknya Islam di Banten. Namun, seperti diungkapkan di atas, suku >> Baduy menolak disebut pelarian setelah terdesak dari proses islamisasi di >> Banten Utara. >> >> Terlepas pengakuan mana yang benar, terpenting adalah keberadaan >> masyarakat adat terpencil tidak selayaknya diusik. Keberadaannya sangat >> berarti bagi kelangsungan kosmologi. Diketahui, topografi Provinsi Banten >> terdiri atas empat kota dan empat kabupaten. Kota Serang, Tangerang, >> Tangerang Selatan, Cilegon, Kabupaten Serang, Tangerang, Lebak, dan >> Pandeglang. >> >> Dari wilayah tersebut, sebagian besar telah padat, berupa kawasan industri >> ataupun perumahan yang ekologinya sudah terganggu akibat pesatnya proses >> pembangunan. Tinggal dua daerah, Lebak dan Pandeglang yang relatif masih >> memiliki kawasan alami. Di Lebak, ada kawasan tanah ulayat masyarakat Baduy. >> Sementara di Pandeglang, ada kawasan konservasi Taman Nasional Ujung Kulon. >> >> Sangat naif jika Baduy, komunitas masyarakat adat terpencil yang menjaga >> keseimbangan alam dan keharmonisan sosial terus diusik dan dipolitisasi. >> Jika terus diusik, akan berakibat pada rusaknya lingkungan dan lunturnya >> keyakinan serta adat istiadat mereka sebagai bentuk kearifan lokal. Biarlah >> mereka bertahan bersama budaya tradisi carek, lisan, dan khabar. (Sumarno, >> pemerhati masalah sosial budaya, tinggal di Tangerang, Banten)*** >> >> http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=165655 >> > > >
