Mengunjungi Suku Baduy yang Satu Kampung Golput Saat Pilpres 2009 (1) 13:31, 10/07/2009 [image: Mengunjungi Suku Baduy yang Satu Kampung Golput Saat Pilpres 2009 (1)]
*Ingar-bingar pemilihan presiden (Pilpres) ternyata tak sampai ke wilayah pedalaman Indonesia. Ketika mayoritas warga negara menggunakan hak pilih untuk menentukan masa depan negeri, suku Baduy Dalam justru memilih tak terlibat.* *ZULHAM MUBARAK*, Lebak RABU pagi (8/7) kemarin suasana di Kampung Cibeo, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, tempat tinggal suku Baduy Dalam, terlihat hidup. Sekilas melempar pandang, tepat pukul 06.00 WIB, mayoritas penduduk mulai beraktivitas. Sebagian besar sibuk menyelesaikan urusan rumah tangga masing-masing. Ada juga yang terlibat komunikasi dan aktivitas kecil dengan para tetangga. Mereka terlihat santai. Semua aktivitas dan pekerjaan dilakukan di sekitar rumah, yang rata-rata berbentuk panggung berukuran 10 x 10 meter. Rumah itu terbuat dari konstruksi kayu dan anyaman bambu. Padahal, biasanya, setiap pagi suku Baduy Dalam sudah sibuk mempersiapkan alat-alat pertanian dan berladang. Namun, tepat pada hari pesta demokrasi (pilpres) kemarin, sebagian besar warga Baduy tidak pergi ke sawah. Mereka memilih menghangatkan diri di rumah. ‘’Hari ini kami banyak yang libur berladang karena menghormati pemilu,’’ ujar tokoh adat Badui Dalam Jaro Sami saat ditanyai koran ini kemarin. Menurut Jaro Sami, karena ketatnya peraturan adat, suku Baduy Dalam memang cenderung tidak ikut mencontreng dalam pemilu. Mereka memiliki metode lain untuk menunjukkan dukungan terhadap pesta demokrasi itu. Mereka bersemadi dan berdoa kepada Yang Mahakuasa agar siapa pun yang menjadi pemenang dalam pemilu bisa mengemban amanat warga Indonesia. ‘’Abdi mah ngiring karu kenging bae (kami ikut yang menang sajalah, Red)’’ ujar Jero Sami. Apa yang disampaikan Jero Sami itu ternyata memang diikuti para warga Baduy Dalam lain. Jika pada hari-hari biasa pagi-pagi buta warga Baduy Dalam sudah berangkat ke ladang, hari itu mereka memilih bersemadi atau berdoa di kediaman masing-masing. Menjelang siang, gang-gang di sela-sela rumah warga lengang. Banyak juga pintu yang tertutup. Anak-anak kecil yang biasanya ramai bermain di hutan dan sungai juga tak terlihat lagi. ‘’Ada juga yang tidak pulang karena menginap di Saung di ladang. Tapi, sehari-hari memang sepisih di sini,’’ ujar pria 48 tahun itu. Suku Baduy sendiri merupakan salah satu di antara masyarakat adat yang hidup secara eksklusif di kaki pegunungan Kendeng. Secara umum, Baduy terbagi menjadi dua golongan, yakni Baduy Luar dan Baduy Dalam. Warga Baduy Luar lazim dikenali dari pakaiannya yang serbahitam dan baju adat batik warna biru dan tinggal tersebar di 56 dari total 59 kampung di wilayah perbukitan. Tiga kampung sisa, yakni Cibeo, Cikeurta Warna, dan Cikeusik ditinggali suku Baduy Dalam. Berbeda dengan suku Baduy Luar yang lebih modern dan terbuka, Baduy Dalam cenderung hidup tertutup dan memiliki pantangan layaknya sufi. Mereka, antara lain, tidak boleh merokok, tidak boleh sekolah, menggunakan alat-alat modern, ke mana-mana harus berjalan kaki, dan berpakaian serbaputih dengan tutup kepala putih. Suku Baduy Dalam adalah petani dan hidup dari hasil bumi tanaman mereka sendiri. Di samping itu, kampung Baduy Dalam tersebut masih memegang adat istiadat yang teguh, termasuk larangan memotret bagi para pengunjung. Tempat tinggal masyarakat Baduy Dalam juga unik dan khas. Rumah mereka dibangun tanpa merusak alam. Seratus persen bahannya didapatkan dari alam. Rumah dibangun satu meter dari tanah dengan kaki penyangga yang berada di atas batu. Rumah juga dibangun tanpa meratakan tanah. Jadi, kalaupun permukaan tanah miring, panjang kaki-kaki rumah yang menyesuaikan dengan kerataan lantai rumah. Tiap rumah hanya memiliki satu pintu yang dibuat dari anyaman bambu (sarigsig, Sunda, Red). Selain itu, rumah tinggal Baduy Dalam tidak memiliki jendela, tetapi hanya berupa lubang-lubang kecil yang disesuaikan dengan ukuran kedua belah mata. Fungsinya untuk melihat atau mengintip ke luar rumah. Lubang-lubang tersebut disebut lolongok dan menyebar di beberapa tempat. Ketika Jawa Pos (grup Sumut Pos) berkeliling, tak sedikit mata yang mengintip dari dalam rumah lewat lubang lolongok. Salah satu tokoh pemangku adat lain, Ayah Mursid mengatakan, perwakilan panitia pemilihan suara (PPS) sudah membagikan undangan untuk mencontreng. Puun Jahadi, tokoh adat tertinggi Baduy Dalam, juga telah menginstruksi semua warga untuk menggunakan haknya. Tapi, ternyata pada hari pencontrengan warga Cibeo tak terlihat antusias untuk terlibat dalam pemilu. ‘’Kami mempercayakan semua kepada warga Baduy Luar yang lebih dekat dengan dunia luar,’’ ujarnya. Hal itu, kata Ayah Mursid, karena warga Baduy Dalam memang selama ini selalu hidup dan menjalani aturan filosofis adat yang ketat. Salah satunya tidak terlibat dalam tindakan dan hal yang merugikan orang lain atau memicu perpecahan. ‘’Karena itu, kami tidak suka politik. Tapi, kalau memang ada yang ingin mencontreng, kami tetap mempersilakan karena itu memang sudah hak pribadi mereka,’’ ujarnya dengan bahasa Indonesia yang lancar. Kenalkah mereka dengan capres dan cawapres? Dengan mantap pria 44 tahun itu mengangguk. Tak hanya kenal, Ayah Mursyid lantas menyebutkan nama capres dan cawapres sekaligus visi misinya. Hal itu ternyata merupakan buah dari upaya keras para petinggi adat untuk tetap mendapatkan informasi walau tinggal di pedalaman. Bahkan, dirinya dan sejumlah petinggi adat sempat menyaksikan debat capres ke kampung terdekat, yakni di Ciboleger. Untuk keperluan itu mereka harus turun gunung dan berjalan sejauh 12 kilometer selama dua-tiga jam dan keluar ke wilayah di luar kampung Baduy. ‘’Saya masih ingat janji-janji mereka dan merekamnya di ingatan untuk ditagih,’’ candanya. Walaupun tidak ikut memilih, Jaro Sami mengatakan memiliki visi atau wangsit bahwa yang akan lolos menjadi presiden adalah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dua kompetitornya, Megawati dan Jusuf Kalla, mungkin belum mampu menyaingi SBY. ‘’Tapi, itu yang saya lihat tadi malam. Kalau nanti malam bisa lain lagi, siapa tahu,’’ katanya dengan wajah serius. Siang menjelang, Jawa Pos pun turun gunung ke kampung Ciboleger, yang merupakan wilayah Baduy Luar yang di dalamnya terdapat tempat pemungutan suara (TPS) untuk 6.325 dari total 11.170 warga Baduy. Desa Ciboleger merupakan daerah yang berbatasan dengan Kampung Baduy Luar. Sebagian besar penduduk Baduy Luar ataupun Dalam membeli keperluan sehari-hari dari desa tersebut. Tidak heran jika di Desa Ciboleger ditemukan hilir mudik orang-orang Baduy. Karena itu, desa tersebut dipilih untuk lokasi satu dari dua TPS Baduy. Benar saja, hingga TPS ditutup pada pukul 13.00, tak satu pun warga Baduy Dalam yang mencontreng. Ada beberapa perwakilan Baduy Dalam yang ikut turun gunung, tapi mereka tak tampak ikut masuk ke area pemungutan suara. ‘’Belum ada yang mencontreng. Ya, kami maklum, karena bagaimanapun aturan adat masih kental di komunitas mereka,’’ ujar Ketua PPS H Sarpin. Ketika wartawan koran ini sampai di TPS, sudah ada sekitar 1.004 yang telah menggunakan hak pilih. Ayah Mursid yang ikut turun ke TPS mewakili tokoh adat juga tak terlihat mencontreng. Selain mengatakan siap ikut dengan siapa saja yang terpilih, Mursid menitipkan pesan agar siapa pun yang terpilih bisa membantu warga Adat menjaga keaslian wilayah dan kehidupan mereka. ‘’Terutama, agar melindungi hak kami untuk tetap menjaga keaslian tradisi adat Baduy sampai kapan pun,’’ harapnya. Pria yang telah belasan kali berjalan kaki dari Cibeo ke Jakarta untuk menemui sejumlah pejabat tinggi negara itu berharap semua orang bisa tetap hidup damai walaupun berbeda pilihan. ‘’Ini negara kita semua. Jadi, kami selalu berdoa agar bangsa ini tetap utuh dan bersatu,’’ ujarnya. (bersambung/iro) http://www.hariansumutpos.com/2009/07/3601/mengunjungi-suku-baduy-yang-satu-kampung-golput-saat-pilpres-2009-1.html
