2 Pangeran nu nyieun sajarah, Pangeran Jaya Pakuan jeung Pangeran Wangsakerta.

 
Makarya Mawa Raharja




________________________________
Dari: mh <[email protected]>
Kepada: Ki Sunda <[email protected]>
Terkirim: Jum, 3 Desember, 2010 10:33:46
Judul: [kisunda] Tokoh - Pangeran Wangsakerta

  
Pangeran Wangsakerta Sang Sejarawan
Oleh : Ayatrohaedi
1. Pengantar
Pangeran Wangsakerta dari Cirebon mungkin merupakan orang Indonesia  yang 
pertama kali berusaha menyusun sejarah bangsanya selengkap  mung­kin. Untuk 
keperluan penyusunan “buku induk” sejarah itu, ia  melaku­kan hal-hal positif 
yang bahkan menurut penilaian orang Indonesia  se­karang masih terlalu “ilmiah” 
sehingga diragukan (Ayotrohaedi 1981).  Apalagi karena secara kebetulan usaha 
untuk lebih memperkenalkannya  baru dilakukan setelah muncul ihwal pemalsuan 
catatan harian Adolf  Hitler di Jerman. Apakah naskah yang disusun Pangeran 
Wangsakerta dan  kawan-kawannya, juga hanya karya orang iseng setelah tahun 
1950? Usaha  memperkenalkan karyanya, walaupun sedikit demi sedikit, sudah 
dilakukan  sejak tahun 1981 yang lalu (Ayatrohaedi 1981, 1981a, 1983, 1983a, 
1983b,  1983c, 1983d, 1983e, 1983f, 1983g, 1984, 1984a, 1984b; Yoseph Iskandar  
1983, Saleh Danasasmita 1982) sedemikian jauh, jus­tru usaha untuk  
memperkenalkan sang sejarawan sendiri belum pernah dilakukan. Tulisan  inipun, 
yang sebenarnya dimaksudkan sebagai salah satu usaha awal untuk  menyiasati 
kehidupan sang sejarawan itu, akhir­nya juga akan lebih  banyak berbicara 
tentang karyanya juga. Salah sa­tu sebabnya, sumber  utama untuk mengetahui 
siapa Pangeran Wangsakerta justru karyanya  tersebut.
2. Pangeran tanpa Wilayah
Wangsakerta adalah anak ketiga Panembahan Girilaya dari Cirebon.  Girilaya yang 
meninggal tahun 1662 adalah cucu Sunan Gunung Jati dan  ber­kuasa di Cirebon 
menggantikan kakeknya karena ayahnya sendiri sudah  meninggal ketika Sunan 
Gunung Jati masih berkuasa. Girilaya menikah  dengan seorang putri Mataram, dan 
perkawinan itu menghasilkan tiga anak  lelaki. Anak sulung bernama Pangeran 
Martawijaya yang kemudian menjadi  Sultan Sepuh I dan menurunkan para penguasa 
kesepuhan, anak kedua  bernama Pangeran Kartawijaya yang menjadi Sultan Anom I 
dan menjadi  leluhur para sultan Kanoman, sedangkan anak ketiga Pangeran 
Wangsakerta,  tidak memperoleh warisan daerah. Ia kemudian menjadi “tangan 
kanan”  abangnya, Sultan Sepuh I (Kosch 1979; 85; PS Sulendraningrat 1974; 66).
Hubungan baik dengan Mataram berkatperkawinan Girilaya  dengan putri Mataram 
itu 
rupanya tidak berjalan mulus. Sultan Mataram  tidak urung mencurigai Panembahan 
Girilaya sehingga akhirnya berhasil  menawan Girilaya dan kedua anaknya di 
Mataram. Girilaya diuntang ke  Mataram, disertai Martawijaya dan Kartawijaya, 
tetapi sesampai disana  tidak diper­bolehkan kembali ke Cirebon. Karena 
Wangsakerta tidak ikut  ke Mataram, ia pun tidak ditawan (Edi S Ekajati 1984…).
Setelah Panembahan Girilaya meninggal di Mataram, kedua anaknya  kem­bali ke 
Cirebon, dan dengan persetujuan Sultan Banten, Cirebon  dipecah menjadi 
Kasepuhan dan Kanoman. Walaupun Wangsakerta juga  menpero­leh daerah, ia tidak 
diangkat sebagai sultan.
Pangeran Wangsakerta rupanya seorang “kutu buku”. Petunjuk kearah itu  kita 
peroleh dari jilid terakhir karya utamanya yang bernama Pustaka Rajya-rajya i 
Bhumi Nusantara ‘Kitab tentang kerajaan-kerajaan di Nusantara’. Jilid terakhir 
yang  merupakan daftar pustaka itu menyebut­kan tidak kurang dari 1.700 judul  
naskah atau karangan yang pada masa itu terdapat di perpustakaan  kerajaan 
Cirebon, terutama Kasepuhan, me­ngingat Wangsakerta menjadi  pembantu utama 
Sultan Sepuh I (Ayatrohaedi 1983.. ).
Usahanya menyusun buku induk itu pun nampaknya  didasari oleh  kegemar­annya 
membaca itu. Disamping itu, ada alasan lain yang secara  resmi dikemukakannya 
dalam Purwaka ‘Kata pengantar’ tiap jilid karyanya itu.
Menurut kata-katanya sendiri, karya itu dikerjakan karena “ …… di­nawuhan  de 
ning ayayahku yata pangeran rasmi kawan namasidam panembahan  adiningratkusuma 
athawa panembahan girilaya ngaranya waneh ri kala sang  rama ta tan angemasi. 
Mangkang juga ngwang dinawuhan anyerat iti pustaka  de ning sultan banten yata 
pangeran adulpatha abdulpatah lawan  pramanaran abhiseka sultan ageng 
tirtayasa. 
Kumwa juga susuhunan mataram  yata pangeran arya prabhu adi mataram i kang 
ngaran ira susuhunan  amangkurat mahyun i mangkana, kumwa jugakweh manih sang 
pinakadi i bhumi  swarnadwipa mwang jawadwipanung mahgyung ing mangkana”.
Jadi, menurut Wangsakerta, sekurang-kurangnya ada tiga orang penguasa  di Jawa 
yang menugasinya menyusun naskah itu, yaitu Panembahan Girilaya  (Cirebon), 
Sultan agung Tirtayasa (Banten), dan Sultan Amangkurat II  (Mataram). Disamping 
itu para penguasa daerah lain yang lebih kecil di  Jawa dan Sumatra pun 
menunjang usaha tersebut.
Ketiga pengusaha Jawa itu berkuasa sekitar paro-akhir abad ke-17.  Me­ngingat 
keterangan Wangsakerta sendiri yang menyebutkan bahwa kedua  abangnya 
masing-masing menjadi Sultan Sepuh dan Sultan Anom, dapat  dipastikan bahwa 
tugas yang diterima sebelum ayahnya meninggal (1662)  itu, baru dilaksanakannya 
pada masa pemerintahan abangnya. Berdasarkan  kolo­fon yang tercantum pada 
akhir 
setiap jilid memang dapat diketahui  bahwa seluruh naskah itu disusun selama 21 
tahun (1670-91 Masehi)  (Ayatroha­edi 1983 …).
Pangeran Wangsakerta ternyata mempunyai nama lain, Abdulkamil  Muhammad 
Nasaruddin, yaitu namanya setelah ia berkedudukan sebagai  Panembahan Car­bon. 
Nama lainnya lagi, yang kurang dikenal, ialah  Panembahan Agong Gus­ti Carbon 
dan Panembahan Tohpati. Di kalangan  Cirebon sendiri, Wangsa­kerta lebih 
dikenal 
sebagai pangeran Arya Carbon  yang menyusun naskah Purwaka Caruban Nagari 
(1720).
3. Panitia Wangsakerta dan tugasnya
Untuk melaksanakan tugas dari ketiga sultan itu, Pangeran Wangsakerta  meminta 
bantuan tujuh orang pemuka dan ahli di Cirebon. Mereka itulah  yang pada 
hakekatnya bertindak sebagai “Panitia Wangsakerta” dengan  tugas yang cukup 
berat itu. Para anggota itu ialah Ki Raksanagara, Ki  Ang­gadiraksa, Ki 
Purbanagara, Ki Singhanagara, Ki Anggadiprana, Ki  Angga­raksa, dan Ki 
Neyapati. 
Kesejarahan tokoh-tokoh itu seharusnya  tidak usah diragukan, mengingat enam 
orang diantara mereka tercatat  namanya dalam Dagregister (Atja 1984)
Pangeran Wangsakerta bertindak selaku penanggungjawab, pengambil  kepu­tusan 
terakhir, dan penyusun tunggal naskah akhir naskah setelah  “bahan baku”nya 
tersedia. Bahan baku itu diperoleh dengan berbagai macam  ca­ra, antara lain 
dengan pengumpulan sumber di lapangan, wawancara  dengan para ahli, kajian 
kepustakaan, dan seminar atau lokakarya khusus.  Ki Raksanagara bertugas 
sebagai 
penulis naskah dan mengurus keperluan  para ahli yang dikumpulkan di Cirebon. 
Sebagai penulis ia mempunyai  wakil, yaitu Ki Anggadiraksa yang juga bertindak 
sebagai bendahara  proyek itu. Ki Purbanagara bertugas untuk mengambil dan 
mencari semua  naskah yang terdapat di berbagai negara, sekaligus memilih mana 
yang  meme­nuhi syarat untuk dipergunakan sebagai sumber penulisan. Ki  
Sanghana­gara bertugas sebagai kepala rumah tangga keraton dan  menempatkan 
para 
duta selama mereka berada di Cirebon, ia mempunyai anak  buah sebanyak 70 
orang. 
Ki Anggadiprana bertugas sebagai duta keliling  ke berbagai negara, mengundang 
mereka untuk mengikuti pertemuan di  Cirebon, dan ju­ga menjadi juru bahasa 
dalam pertemuan. Ki Anggaraksa,  bertugas mengurus jamuan dan hidangan, 
sedangkan Ki Nayapati  bertanggungjawab atas pemon­dokan, pengangkutan, dan 
keamanan.
Tugas utama Panitia Wangsakerta ialah menyusun “buku induk” sejarah  Nusantara. 
Untuk maksud tersebut, panitia menempuh tahap-tahap  pengum­pulan bahan, 
penyaringan sumber, penyusunan naskah. Jadi, sama  halnya dengan kegiatan yang 
pasti dilakukan oleh para sejarawan modern  seka­rang ini.
Tahap pengumpulan sumber mencakup kegiatan-kegiatan pengumpulan  sumber di 
lapangan, wawancara dengan para ahli, kajian kepustakaan, dan  penyelenggaraan 
seminar atau lokakarya sejarah. Pengumpulan sumber di  la­pangan terutama 
dilakukan oleh Ki Purbanagara, yang tugasnya memang  me­ngambil danmencari 
semua 
naskah yang terdapat di berbagai  negara. Ki Purbanagara jugalah yang rupanya 
diberi tugas untuk  mengundang para ahli untuk turut berperan dalam seminar 
atau 
lokakarya  yang diselenggarakan di Cirebon. Kajian kepustakaan menjadi tugas  
Pangeran Wangsakerta, se­suai dengan pengakuannya sendiri,  “…. karana  mami 
wus 
akweh mangajya sarwasastra katha ning rajya-rajya i bhumi  nusantara ….” “…. 
karena saya sudah banyak mempelajari segala macam  kitab kisah 
kerajaan-kerajaan 
di Nusantara …. ”.
Wawancara dengan para ahli dilakukan terutama bersamaan waktunya  de­ngan 
penyelenggaraan lokakarya. Kegiatan itu dipusatkan di paseban  keraton 
Kasepuhan, Cirebon. Pesertanya berasal dari seluruh Nusantara,  terdiri dari 
para mahakawi, para duta yang ada di Cirebon, mantri pa­tih, senapati, ulama 
(dang accaryagama), ahli kemasyarakatan (widya­janapada), ahli ilmu agama 
(widyagama), dan ahli ilmu politik (widyanagara).
Tercatat tidak kurang dari 70 daerah yang mengirimkan utusan ke loka­karya 
tersebut, disamping “hana juga pirang amatyanung tan taka”  ada juga (banyak) 
ahli yang tidak datang. Mereka berkumpul di Cirebon,  selain untuk bersawala 
dalam lokakarya, juga menulis bermacam monografi  mengenai daerahnya 
masing-masing. Itulah sebabnya, mengapa di  per­pustakaan keraton Kasepuhan 
pada 
akhir abad ke-17 itu, terdapat  tidak kurang dari 1.700 buah naskah yang sempat 
tercatat oleh Pangeran  Wang­sakerta dalam jilid terakhir karyanya. Diantara 
naskah itu, ada  yang isinya tentang bahasa, penduduk, para pahlawan, para raja 
dan  penguasa yang memerintah di daerah masing-masing.
Tahap penyaringan rupanya menjadi tugas khusus panitia, terutama  ketu­anya, 
Pangeran Wangsakerta. Penyaringan pertama juga dilakukan oleh  Ki Purbanagara, 
yang dalam kegiatan mencari dan mengumpulkan naskah di  berbagai negara, 
sekaligus juga sudah memilih naskah yang memenuhi  syarat untuk dipergunakan 
sebagai sumber penulisan. Tetapi jelas,  pe­nyaringan itu terutama dilakukan 
oleh Pangeran Wangsakerta sendiri,  apalagi jika terjadi sawala yang panas dan 
berkepanjangan diantara para  peserta lokakarya. Jika suasana panas itu 
memuncak, Pangeran  Wang­sakerta menutuskan untuk mengambil alih masalah dan 
menentukan  pilihan terakhir, karena bukankah dengan pengetahuannya yang luas  
mengenai se­gala macam kitab itu ia “angasoraken sira kabeh” “mengalahkan 
mereka 
semua”? Pilihan terakhir itu biasanya merupakan lampah tengah!  “jalan tengah”, 
dengan senantiasa mengingatkan para peserta akan tujuan  uta­ma pertemuan 
mereka, yaitu menyusun “buku induk” sejarah. Namun  Pa­ngeran Wangsakerta tetap 
mengakui adanya kemungkinan kesalahan  menyu­sun, dan karenanya ia meminta maaf 
jika sampai terjadi hal semacam  itu, “yadyapin mangkana waraksamakena yan 
hanekang salah atau kaluputan ing panusun iti pustaka”.
Tahap penyusunan akhir menjadi tugas Pangeran Wangsakerta sendiri,  dibantu 
oleh 
para anggota panitia, terutama Ki Raksanagara dan Ki  Anggadiraksa sebagai 
penulis dan wakil penulis naskah. Nampaknya  penyusunan itu memang merupakan 
tugas yang sangat sukar, antara lain  sebagai akibat munculnya berbagai beda 
pendapat di antara para peser­ta  lokakarya yang cenderung menyalahkan orang 
lain dan menganggap dirinya  paling baik. Rupanya kegiatan penyaringan itulah 
yang ber­langsung lama.  Akibatnya, penyusunan naskahnya pun menjadi 
berkepan­jangan juga.  Seluruh naskah yang terdiri dari 25 jilid itu baru 
sele­sai digarap  dalam waktu 21 tahun. Dengan catatan bahwa ada masa-teng­gang 
selama 12  tahun antara penyusunan jilid terakhir parwa keempat (jilid 20) 
dengan seluruh parwa,  kelima (jilid 21-5). Masa tenggang itu dipergunakan oleh 
Pangeran  Wangsakerta untuk menyusun sejumlah naskah lain yang diantaranya  
bersumber kepada naskah utama itu juga.
4. Karya Pangeran Wangsakerta
Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari Pustaka Rajya-rajya i Bhumi 
Nusantara 
dapat diketahui bahwa Pangeran Wangsakerta sangat rajin me­nulis. Disamping 
menyusun naskah Pustaka tersebut, ia juga menulis sejumlah naskah yang lain, 
terutama pada masa  tenggang 12 tahun (1680-91). Selama itu ia menulis karya 
sejarah yang  lain, semuanya tidak kurang dari 18 jilid. Disamping itu, ada 
sebuah  naskah lain yang ditulisnya pada waktu yang lebih kemudian, yaitu  
Pustaka Purwaka Caruban Nagari (1720). Dengan demikian, seluruh naskah yang 
ditulisnya selama 50 tahun ialah Pustaka Rajya-rajya i bhumi Nusantara (25 
jilid), Naga­rakertabhumi (8 jilid), Pustaka Pararatwan (Jawamandala, 
Sundamandala, daerah lain, 10 jilid.), dan Purwaka Caruban Nagari (1 jilid).
Dibandingkan dengan kebiasaan menulis “kisah sejarah”  yang terdapat  pada 
umumnya orang Indonesia masa itu, gaya Wangsakerta jelas sekali  berbeda. Karya 
“sejarah” yang lain, yang biasanya disebut babad, hi­kayat, sejarah, kisah, 
tambo, atau carita banyak sekali mengandung unsur mitos, dongeng, atau legenda 
yang berada “di luar akal sehat”.
Hal itu menyebabkan tugas ahli sejarah untuk menyaring sumber-sumber  tersebut 
cukup berat. Sejarawan dihadapkan kepada suatu suasana yang  mencampur-adukan 
dongeng dan peristiwa sejarah.
Keadaan seperti itu tidak terdapat didalam karya Wangsakerta. Ia  me­nyusun 
karyannya berdasarkan  sumber sejarah yang (menurut hematnya)  benar-benar 
dapat 
dipercaya. Karena itu, hasilnya pun tentu saja sebuah  karya yang (seharusnya) 
dapat dipercaya juga. Karya itu, terutama Pustaka Rajya-rajya i Bhumi 
Nusantara,  
oleh sebagian sarjana Indone­sia dianggap “terlalu sejarah” untuk  masyarakat 
Indonesia 300 tahun yang lalu. Rupanya mereka lupa bahwa  sebelum tahun 1000 
pun 
orang In­donesia sudah “terlalu maju teknologi”  sehingga menghasilkan 
Borobudur, Prambanan, Sewu, dan Ratubaka!
5. Masa hidup Wangsakerta
Sedemikian jauh belum diperoleh data yang pasti mengenai usia  Wangsa­kerta. 
Ada 
dua titimangsa yang dapat dipergunakan untuk mencoba  memperkirakan kapan 
Wangsakerta hidup. Titimangsa pertama ialah tahun  kematian Panembahan 
Girilaya, 
ayahnya, sedangkan titimangsa kedua  ada­lah tahun penyusunan Purwaka Caruban 
Nagari.
Menurut catatan yang ada, Panembahan Girilaya meninggal tahun 1662,  dan ia 
meninggalkan tiga orang anak lelaki. Wangsakerta sebagai anak  ketiga (bungsu), 
tentunya harus sudah lahir sebelum tahun itu. Jika  disesuaikan dengan 
pernyataannya sendiri bahwa ayahnyalah yang  menu­gasinya. Menyusun sejarah, 
berarti ketika menerima perintah itu ia  su­dah cukup dewasa. Karena tugas itu 
baru dilaksanakan pada masa  kekua­saan Sultan Sepuh I, abangnya, itu berarti 
bahwa kegiatan  lokakarya itu seharusnya berkangsung antara tehun 1662 
(kematian  
Girilaya) dan 1669 (selesai penyusunan jilid pertama).
Mengingat bahwa ketika pemerintahan Sultan Sepuh I, Wangsakerta  menja­di 
tangan 
kanan dan pembantu utama Sultan, seharusnya ketika itu  ia sudah cukup matang 
di 
sidang pemerintahan dan bacaan. Jika dianggap  bahwa usia 25 tahun merupakan 
kemungkinan paling muda untuk mengukur  kedewasaan kejiwaan seseorang, berarti 
Wangsakerta lahir sekitar tahun  1645, tahun terakhir pemerintahan Sultan Agung 
di Mataram. Dugaan ini  cocok, mengingat bahwa dua orang sultan yang memberinya 
perintah (Sultan  Ageng Tirtayasa dari Banten dan Sultan Amangkurat II dari 
Mataram) juga  berkuasa sesudah tahun 1650. Artinya, pada masa pemerintahan 
ke­dua  orang sultan itu, Wangsakerta memang sudah menjadi seorang yang dewasa  
dan matang.
Titimangsa penulisan Purwaka Caruban Nagari dapat dipergunakan untuk 
memperkirakan tahun akhir hayatnya. Mengingat  bahwa naskah itu disusun tahun 
1720, dapat dipastikan bahwa sampai tahun  itu Wangsakerta masih hidup. Itu 
berarti bahwa Wangsakerta  sedikit-dikitnya hidup selama 75 tahun (1645-720), 
dan 50 tahun terakhir  dari usianya itu selalu diper­gunakan untuk mempelajari, 
menyusun, dan  menulis karya sejarah. Sungguh suatu prestasi yang sukar dicari  
bandingannya, walaupun menja­di tugas para sejarawan modern masa kini  untuk 
menyiasati apakah semua karyanya itu benar-benar dapat  dipertanggungjawabkan 
dari kacamata modern.
* * *
http://artshangkala.wordpress.com/2010/01/14/pangeran-wangsakerta-sang-sejarawan/


 

Kirim email ke