tah ieu nu di siar teh...sok kaluarkeun.
--- In [email protected], mh <khs...@...> wrote:
>
> Baduy â" Sebuah Perjalanan Batin Ke Suku Kuno tahun 1959
>
> *Oleh : Suria Saputra.*
>
> *Keterangan :*
>
> - *Ini merupakan cuplikan dari buku yang berjudul BADUY tahun 1959 oleh
> Suria Saputra, yang merupakan hasil perjalanannya ke Suku Kuno Baduy
> (Kanekes). Buku ini terdapat dalam Perpustakaan Prof. Dr. Doddy A. Tisna
> Amidjaja (yang telah disalin kembali dalam bentuk EYD oleh para pengurusnya
> di tahun 1995).*
> - *Foto-foto di sini adalah hasil foto sesepuh Sunda, yaitu Ali
> Sastramidjaja. Dalam perjalanan lahir batinnya di tempat yang sama,
> Kanekes (Baduy) di tahun 1979.*
>
> * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
>
> * * * * * * * * * * * * *
>
> *BADUY*
>
> <http://artshangkala.files.wordpress.com/2010/02/baduy-luar2.jpg>
>
> *Baduy Luar*
>
> Pada 5 hari bulan April 1950, citaâ`cita saya untuk pergi ke Baduy baru dapat
> dilaksanakan.
>
> Sebelum berangkat, kami cari dulu keterangan tentang tempat dan orang yang
> akan kami kunjungi dengan memajukan pertanyaanâ` pertanyaan kepada
> orangâ`orang yang pernah pergi berziarah ke Baduy. Mereka kebanyakan adalah
> petaniâ`petani dan pedagangâ`pedagang yang ingin maju dalam masingâ`masing
> perusahaannya. Dan ada pula yang datang di Baduy untuk minta obat bagi
> keluarganya yang sakit, karena obat dokter tak dapat menolongnya. Maksud
> kedatangan mereka itu sepanjang katanya, ada yang berhasil, ada yang tidak.
>
> Mereka yang datang ke sana dengan sesuatu maksud untuk memperbaiki nasibnya,
> sepanjang katanya tidak boleh bermalam disana, setelah mendapat jawaban yang
> diinginkannya, waktu itu juga ia harus berangkat pulang, tidak boleh menoleh
> ke belakang.
>
> Setelah keteranganâ`keterangan dikira cukup untuk bekal pertemuan pertama
> kami peroleh, barulah kami berangkat, ialah: Saya sendiri, Pak Atmawidjaja â`
> Kepala Sekolah Rakyat di kota Bogor, dan seorang wanita Ibu Arum
> Suwita[1]<http://artshangkala.wordpress.com/2010/02/23/baduy-sebuah-perjalanan-batin-ke-suku-kuno-tahun-1959/#_ftn1>.
> Ibu Arum ini adalah seorang wanita yang kuat berjalan kaki dan banyak
> pengalamannya, jauh perjalanannya. Demak, Madura, Tengger, Kalimantan,
> Ngampel dan tempat-tempat yang beriwayat lainnya telah dikunjunginya. Dan
> telah berkali-kali pula Ibu Arum ini pergi ke Baduy.
>
> *
>
> Jam 06.00 pagi pada waktu yang tersebut di atas tadi, kami dari kota Bogor
> menuju ke barat, berkendaraan bus, melalui Jasinga, Cipanas dan berhenti di
> Haurgajrug jam 09.30 pagi hari. Dari sini berjalan kaki menuju ke kampung
> Karang untuk singgah dan bermalam di sana.
>
> Tiba di Karang jam 06.30 petang hari. Waktu itu di Karang sedang diadakan
> perayaan khitanan yang cara-caranya berbeda dengan di tempat lain, hampir
> sama dengan cara khitanan di Baduy.
>
> Kampung Karang adalah sebuah kampung yang penghuninya hampir seperti Baduy.
> Kepala kelompoknya pun disebut Puun. Ketika itu, kami tak sempat berkenalan
> dengan Puunnya, karena esok harinya pagi-pagi harus berangkat lagi. Baru
> dapat berkenalan dengan orang-orang tua di sana setelah pulang dari Baduy.
>
> Di Karang, rombongan kami bertambah dengan dua orang suami-istri.
> Laki-lakinya bernama Sopian, orang Jakarta dan istrinya orang Karangcombong.
> Sedang perjalanan kami hari itu akan menuju Karangcombong, untuk singgah dan
> bermalam di sana.
>
> *
>
> Perjalanan Haurgajrug â" Karang dan Karang â" Karangcombong melelahkan dan
> meletihkan, karena turun naik gunung, tapi tak seperti yang saya
> cita-citakan. Cita-cita saya sebelum berangkat, untuk pergi ke Baduy itu,
> tentu melalui jalan yang berhutan lebat, sebagaimana hutan-hutan yang pernah
> kami masuki dalam tiap-tiap tahun atau setahun dua kali, manakala ada
> kesempatan.
>
> Di dalam hutan lebat yang pernah kami masuki itu, saya menginginkan udara
> yang sejuk, pendengaran yang sunyi, pemandangan yang menghijau disertai air
> bening yang mengalir.
>
> *
>
> Rombongan kami tiba di kampung Karangcombong jam 05.30 petang hari. Jadi
> antara Karang dan Karangcombong kami jalani hampir satu hari penuh, karena
> berangkat dari Karang jam 07.00 pagi-pagi.
>
> Penduduk Karangcombong ini menurut tilikan kami pada waktu itu, adalah orang
> baik-baik. Agama Islam tampak ditaati dengan bukti adanya mesjid dan
> madrasah. Dalam prakteknya agama Islam itu berasosiasi dengan agama lama,
> ternyata dari mantera-manteranya.
>
> Sungguh tak kami sangka bahwa dua tahun kemudian penduduk kampung inilah
> yang mengganas merusak hutan-hutan larangan Baduy, yang keadaannya bersifat
> âHutan Pelindung Mutlakâ. Rusaknya hutan ini berarti rusaknya
> tempat-tempat
> yang ada di aliran sungai sebelah bawah, yang hulunya di hutan larangan itu.
> Kemudian hari ternyata, bahwa keganasan orang Karangcombong terhadap hutan
> larangan / Hutan Pelindung Mutlak itu disebabkan setelah di kampungnya ada
> seorang haji berasal dari Leuwidamar. Haji inilah yang menjadi kepala dan
> penganjur rakyat di sana agar supaya berladang di hutan larangan. Malam
> harinya, di kampung ini kami tak dapat melepaskan lelah, karena dikerumuni
> oleh orang-orang tua di tempat itu. Mereka bertanyakan bermacam-macam soal
> yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa di kota dan di negara.
>
> *
>
> Pada hemat kami, bagi seseorang pegawai Jawatan Penerangan, saat dan keadaan
> sedemikian itulah yang merupakan peristiwa yang sebaik-baiknya untuk
> meresapkan keinginan-keinginan pemerintah kepada rakyat. Di tempat dan waktu
> yang seperti itu, bukannya kita yang ingin berpidato, melainkan mereka yang
> ingin mendapat nasihat.
>
> Kedatangan kami di kampung ini mendapat sambutan dan jamuan yang istimewa,
> meskipun mereka tidak diberi tahu lebih dahulu.
>
> *
>
> Keesokan harinya, ialah pada 6 hari bulan Januari 1959, jam 7 pagi-pagi,
> kami berangkat menuju daerah Baduy Dalam Cikeusik (Tangtu Padaageung).
> Rombongan kami berkurang dengan seorang, ialah wanita istri Sopian, tapi
> bertambah dengan 2 orang laki-laki ialah penghuni rumah tempat kami bermalam
> dan seorang iparnya; jadi berjumlah 6 orang, 5 orang laki-laki dan seorang
> wanita.
>
> *
>
> Perjalanan yang turun naik di lereng gunung, hingga adakalanya lutut
> mengenai dagu, sangatlah melelahkan dan meletihkan. Nafas turun naik dengan
> cepatnya bagaikan orang berlari cepat. Pakaian basah kuyup dengan keringat
> bagaikan habis ditimpa hujan. Walaupun demikian lelah dan letih itu, bagi
> saya dapat dilipur oleh keadaan dan suasana hutan yang saya cita-citakan.
> Hutan ini bernama *Leuweung Kolot* (Rimba Tua); kayu-kayunya besar-besar,
> bermacam-macam, berdahan rindang berdaun rimbun, hingga adakalanya sinar
> matahari tak sampai di bumi karena terempang oleh daun-daunan yang rimbun
> itu.
>
> *
>
> Kami pernah masuk hutan Cimari yang letaknya kira-kira 26 km ke sebelah
> dalam dari Cikotok, Banten Selatan (tempat tambang emas). Hutan ini terkenal
> hutan gelap, karena cahaya matahari terempang oleh daun-daunan hingga tak
> menerangi bumi. Tapi keindahannya kalau dibanding dengan Leuweung Kolot
> Baduy, masih kurang. Pengantar sukarela kami dari Karangcombong itu, seorang
> diantaranya membawa bedil penembak babi. Katanya untuk menjaga keselamatan
> dan keamanan kami kalau-kalau di jalan bertemu dengan binatang buas atau
> dengan orang-orang pengganggu perjalanan.
>
> <http://artshangkala.files.wordpress.com/2010/02/bermusik.jpg>
>
> *bermusik di âdalamâ*
>
> Kira-kira jam 13.00 tengah hari, kami tiba di perhumaan Cikeusik. Orang
> Baduy Dalam yang mula-mula kami jumpai itu adalah Puun Manten. Kata
> âmantenâ
> ini bahasa Sunda Halus dari kata âpensiunâ. Tapi di Baduy tak ada
> pensiunan,
> artinya Puun yang tak menjadi *Karolot* lagi atau Puun yang sudah berhenti.
> Beliau bernama Arsadja dan terkenal dengan sebutan Puun Kais.
>
> Tempat dimana kami berjumpa, ialah sebuah bangunan yang kami sebut
> âdangau-dangauâ. Untuk disebut gubug, terlalu besar dan lengkap.
> Dangau-dangau ini hampir sebesar rumah mereka. Pada waktu berhuma,
> kebanyakan orang Tangtu diam dan bermalam di dangau-dangau ini.
>
> Kami dapati Puun Manten sedang memintal tali untuk menjalin *lanjak* (jaring
> perburuan). Mula-mula orang ini kelihatan acuh tak acuh kepada kedatangan
> kami, karena sedang asyik bekerja. Kemudian setelah ia mengemasi
> pekerjaannya, kami didekatinya dan berkatalah ia: *âTeu harti aing, naeun
> karah rea jelema datang ka dieuâ*.
>
> Susunan kalimat ini sudah berlainan dengan bahasa Sunda biasa. Awalan dan
> ahiran tak terlalu dihiraukan. Arti kalimat itu: *âAku tak mengerti mengapa
> banyak orang datang kemariâ*.
>
> Setelah kami berkenalan dengan tak berjabatan tangan, Puun Manten berusaha
> berbicara dengan bahasa Sunda Halus. Akan tetapi saya minta kepadanya, agar
> percakapan dilakukan dengan bahasa Sunda mereka. Hal-hal yang tak dapat saya
> pahamkan, saya minta penjelasan kepadanya.
>
> *
>
> Tanya jawab dengan Puun Manten saya tuliskan di bawah. Akan tetapi barang
> siapa yang belum pernah berkata-kata dengan orang Cikeusik, terutama dengan
> Puun Kais ini, mungkin menyangka bahwa percakapan kami ini hanyalah
> karangan belaka. Untung bagi saya karena Pak Atmawidjaja dan Ibu Arum
> menyaksikan pembicaraan kami ini.
>
> *
>
> Orang yang kami hadapi ini, waktu itu berumur 60 tahun, tetapi masih amat
> tangkas dan cekatan. Berbadan tegap, senantiasa tegak. Berkulit kuning agak
> kemerah-merahan karena cahaya matahari. Matanya bersih, pandangannya tajam
> seolah-olah hendak menembus jantung lawannya berbicara. Rambutnya masih
> hitam dan panjang, bersanggul, berikat kepala kain putih mentah. Bajunya
> kebaya putih, bertangan panjang yang sempit pergelangannya. Kain sarungnya
> pun putih pula, hingga di bawah lutut di atas pertengahan betis, tidak
> bercelana. Pakaian serba putih itu kelihatannya kotor, sesungguhnya adalah
> kain putih mentah yang dicelup dengan warna kekuning-kuningan. Beliau
> berbicara fasih. Kalimat purwakantinya diucapkan dengan sangat lancar,
> dengan tekanan suara pada suku kata kedua dari belakang.
>
> Dengan kalimatnya yang tegas dan jelas, acapkali dipatahkannya perkataan
> lawan bicaranya, hingga sukar dielakkan.
>
> Pada hemat saya tampan orang ini tidak pernah gentar walau berhadapan dengan
> siapa jua pun. Dugaan saya tentang sifat orang ini yang didapat dari
> kesimpulan jawaban orang-orang yang telah pernah pergi ke Baduy (di atas
> telah dikemukakan), adalah orang yang tak menyukai manusia yang berjiwa
> peminta-minta. Disangkanya semua orang sebagai dirinya, ialah dapat
> menyelesaikan sendiri segala keperluan hidupnya.
>
> Oleh karena itu, saya amat berhati-hati menjawab pertanyaannya, seolah-olah
> sedang berhadapan dengan seorang penguji. Pada hemat saya, andai kata waktu
> itu lidah saya terpeleset, niscaya kami tak diizinkan bermalam di rumahnya.
> Istimewa pula kalau kami minta apa-apa sebagaimana keterangan yang kami
> peroleh, tentunya disuruh pulang pada waktu itu juga. Sedang kami perlu
> mengetahui keadaan rumah bersama alat-alatnya yang ada di daerah Baduy Dalam
> itu. Bahkan pada persangkaan saya waktu itu, niscaya Puun Kais itu karena
> bekas pemimpin, berumah bagus, dengan alat rumah tangganya yang mewah.
>
> <http://artshangkala.files.wordpress.com/2010/02/minum-dg-batok-kelapa.jpg>
>
> *Batok Kelapa sebagai wadah minum air*
>
> Kini kami lanjutkan percakapan kami dengan Puun Kais, dalam pertemuan
> pertama itu.
> + *âSaha ieu karah?, Ti mana nya lembur matuh dayeuh maneuh banjar**
> **karang
> pamidangan?â* (Siapakah ini?, dimana kampung halamanmu?). - âDari Bogor,
> Girangâ.* * + âApakah maksud kalian?â - âKami dari Bogor berhasrat
> untuk
> bertemu dan berkenalan dengan orang-orang di siniâ. + *âGeusan naeun
> karah?â* (untuk apa? atau apakah gunanya?)
>
> Pertanyaan ini adalah diluar dugaan kami, hingga saya tertegun dan
> meraba-raba jawaban yang akan dikemukakan.
> - âBegini Girang, bila anak cucuku kelak datang atau tersesat kemari,
> kalau kami sudah kenal, mudah-mudahan diterima oleh orang siniâ. + âKalau
> hanya itu kehendak kalian, sungguh tidak masuk pada akalku (*teu harti aing*).
> Kalian datang dari jauh, biayanya pun tidak sedikit. Sungguh tak masuk pada
> akalku bila hanya untuk menitipkan anak cucumu yang kini tak dibawa. dan
> ketahuilah, barang siapa yang datang kemari, walau tak dititipkan sekalipun,
> harus kami sambut dengan cara dan kekuatan kami. Tamu yang lapar kami beri
> makan, tamu yang mengantuk kami persilahkan tidur. Kami orang Sunda telah
> mendapat pesan dari nenek moyang kami, katanya: âkelak bila anak cucuku
> datang kemari, hendaklah dipenuhi barang kehendak dan kekurangannyaâ.
>
> Saya terdesak, tak dapat mengelakkan kalimat-kalimat Puun Kais yang
> berlogika, mendesak dan bersifat mematahkan itu. Oleh karena itu, saya
> berbicara lebih berhati-hati lagi, karena ternyata orang yang saya hadapi
> ini tak dapat dibawa lemah. Agaknya orang-orang yang lemah di dalam hatinya,
> ditertawakan.
>
> Puun Kais tersenyum melihat saya kemalu-maluan itu.
>
> Selanjutnya bertanya pula.
> + âApakah maksud kalian yang sesungguhnya, ingin kayakah?â - âBukan.
> Orang kaya pada masa ini risau hatinya, karena banyak harta benda yang
> dirampok dan dibakarâ. + âIngin kebal kulit, barangkali?â - âTidak.
> Orang
> berkulit kebal, biasa dicoba orang. Sekali diparang ia kebal, dua kali tidak
> luka, tetapi selanjutnya ia akan rebah juaâ. + âIngin menjadi pemimpin
> agar
> dihormat, dipuja orang?â - âBukan. Pemimpin yang tak berdarah pemimpin
> hanya bersifat sementara. Pemimpin yang diangkat oleh orang banyak, akan
> dijatuhkan oleh orang banyak pulaâ. + âApakah engkau hendak membuat sawah
> di sini, sebagaimana orang *Are* (luar Baduy) yang ada di sekitar kami.
> Ataukah hendak membuat bendungan air, sebagai keinginan Belanda di masa
> lampau?â. - âSekali-kali tidak. Sawah yang terlalu jauh dari tempatku tak
> berguna bagiku. Dan aku bukannya pegawai pengairan.â + âKalau demikian,
> engkau penyelidik malahâ. - âBila aku bermaksud berkhianat kepada
> orang-orang di sini, Girang melihat sendiri. Leherku tak dipalut dengan
> baja. Sedang golok orang Baduy panjang-panjang dan tajam-tajam. Sekali
> parang, leherku putusâ. + âKami orang Sunda, tak diizinkan mencucurkan
> darah manusiaâ.
>
> Puun Kais diam sejenak, agaknya sedang berpikir. Sambil tersenyum,
> berkatalah pula:
> + *âHeu-euh* (bunyi heu, ditekan dalam-dalam);
>
> *Nu bisa ngapung, tunggu turunna.*
>
> *Nu liat kulit, tunggu uduhnya. *
>
> *Nu bisa teuleum, tunggu nyenghapna.*
>
> *Nu ambek, tunggu leuleusna.*
>
> *Aran jelema tetap jelema; daging hipu tulang rangu, ngancik dina kulit
> bumi. Cara kami, weduk hanteu manggih urut, bedas hanteu ku karana*.
>
> (Yaâ¦
>
> Si pandai terbang, tunggu turunnya,
>
> Si kebal kulit, tunggu empuknya.
>
> Si pandai selam, tunggu timbulnya.
>
> Si pemarah, tunggu lemahnya.
>
> Orang adalah orang, berdaging empuk bertulang rapuh; tempatnya di kulit
> bumi. Cara kami, kebal kulit tak berbekas, kuat tak karena sebab).
>
> Dan kini, niscaya kalian merasa lelah. Istirahatlah dahulu. Kalau hendak
> tidur, tidurlah. Kami di luar. Biasa tidur siang hari, kami tidak. Sementara
> itu, aku akan menyelesaikan dulu pekerjaanku. Nanti kita teruskan
> pembicaraan (*cacahan*) kitaâ
>
> Pada waktu itu kami tinggal berempat. Orang Karang Jombong dua-duanya
> disuruh pulang oleh Puun Kais. Sedang Sopian, orang yang ikut dari Karang
> itu, masih terus bersama-sama kami. Ia agaknya berlawanan dengan maksud
> kami, karena sementara berbaring berkata bahwa tanah Baduy sungguh baik
> untuk dijadikan sawah. Ia tak tahu bahwa tanah pegunungan yang bentuknya
> demikian dan menjadi hulu beratus-ratus anak sungai, kalau dijadikan sawah,
> akan berakibat erosi besar-besaran. Disangkanya, bahwa kedatangan kami
> kesana itu akan dapat menolong untuk menyampaikan cita-citanya. Maka adalah
> selayaknya Puun Kais menyindir-nyindir kami akan membuat sawah. Agaknya Puun
> Kais telah mendapat firasat yang tidak baik, karena ternyata Sopian ini
> kelak kemudian hari ikut menjadi perusak hutan. Sopian waktu itu memakai
> rantai arloji emas dengan mainan (gantungan) batu merah sebesar ibu jari
> kaki, yang diikat dengan emas pula.
>
> *
>
> Kira-kira jam 17.00 petang hari, Puun Kais datang pula kepada kami, disertai
> beberapa orang Baduy Dalam lainnya. Puun Kais memperhatikan batu merah
> perhiasan Sopian itu seraya katanya:
> + *âAing nyeueungâ*. (Coba kulihat).
>
> Maka batu bersama arlojinya diberikan Sopian kepada Puun Kais. Setelah batu
> merahnya itu diamat-amatinya, dikembalikan lagi kepada Sopian, seraya
> berkata :
> + âIndah benar batu itu. Niscaya pada pendapatmu batu ini keramat.
> Orang-orang ditempatmu biasa minta keramat kepada batu-batu, kayu atau besi.
> Bahkan kabarnya ada pula yang minta keramat kepada kuburan. Sungguh bagi
> kami di sini, cara demikian tak diperkenankan. Kami hanya meminta kepada
> Yang Satuâ.
>
> Saya mengambil rokok dan berkata :
> - âBolehkah aku merokok?â. + âDi sini boleh, karena aku tak menjadi
> Puun
> lagi. Tapi bila berhadapan dengan Puun Karolot, sekali-kali tak boleh minum
> rokokâ. - âMengapa orang Baduy Dalam tak minum rokok?â. + âKami
> *buyut*(tabu). Tanah disini tak baik untuk tembakau. Jika kami biasa
> merokok, harus
> mencari di tempat lain. Sedang perjalanan kami berlainan dengan kamu. Kamu
> boleh berkendaraan, kami tidak. Bila bepergian, semua tanah yang dilalui
> haruslah diinjak dan dilangkahi (maksudnya berjalan kaki). Kami tak hendak
> jadi bujang tembakauâ.
>
> Puun Kais memperhatikan pemantik api bensin yang saya pergunakan.
> + âBagus benar. Adakah buatanmu sendiri?â. - âBuatan pabrik,
> Girangâ. + âAdakah
> pabrik itu di tempatmu?â. - âDi luar negeri. Kalau Girang ingin,
> ambillahâ.
> + âAku, tak perlu. Kalau rusak, aku tak dapat membetulkannyaâ.
>
> Kalimat ini saya terima sebagai sindiran, karena orang-orang yang biasa
> berziarah kepadanya, tentu membawa pemantik api bensin yang tak asing lagi
> bagi Puun Kais.
>
> Tengah kami bercakap-cakap, tiba-tiba berdiri seorang Baduy Dalam lain di
> samping Puun Kais, tak ketahuan darimana datangnya, karena sangat gesitnya
> bertindak. Ia berkata kepada Puun Kais, bahwa di hutan yang dekat dari sana,
> ada seekor kancil. Puun Kais menoleh, dan berkata:
> + âHari sudah mulai gelap. Kancil itu kita kejar esok hari saja. Jika esok
> hari tidak ada, biarkan ia hidupâ.
>
> Mendengar peristiwa itu, Sopian kawan kami itu berkata:
>
> âSayang, mengapa tidak dikejar. Kalau kancil itu tertangkap, saya berani
> menukarinya dengan ikan peda 50 ekorâ.
>
> Puun Kais berkata.
> + âTidak mungkin (*hanteu*)â. - âSeratus ekorâ. + *âHanteuâ*.
> - âDua
> ratus ekorâ. + âSeribu atau dua ribu ekor pun tetap tidak dapat. Engkau
> pintar. Ikan peda, banyak di kedai dan di toko. Ia tak ber-nyawa, tak dapat
> bergerak. Engkau boleh mengambil sesuka hatimu, asal ada uang. Tapi kancil
> makhluk bernyawa. Dikejar, ia lari, disergap, belum tentu dapat. Andaikata
> permintaanmu itu kusanggupi, besok atau lusa pedamu sudah ada di sini,
> sedang kancilku belum tentu ada. Betapa mungkin manusia *âtigin ka jangji
> bela ka lisanâ* (memenuhi janjinya dan perkataannya). Apabila kancil itu ada
> di tanganku sekarang atau esok hari, dan engkau ada di depanku, mengapa
> harus ditukar dengan peda, engkau boleh makan dagingnya
> sekenyang-kenyangnyaâ.
>
> Senja hari, setelah kami mandi di sungai Ciujung, kami diajak bermalam di
> rumah Puun Kais yang ada di perkampungan Baduy Dalam Cikeusik. Kami masih
> sempat memperhatikan keadaan perkampungan itu. Rumah-rumahnya sangat
> berdekatan. Antara rumah dengan rumah tak berpagar, demikian pula
> perkampungannya. Rumah mereka bertiang kayu beratap rumbia. Lantainya dibuat
> dari bambu yang diremukkan membujur (*palupuh* = Sunda). Tinggi
> kolongnya +1,50 m. Untuk naik ke atas lantai, ada tangga pendek dari
> bambu. Di ujung
> tangga disediakan perian yang berisi air untuk membasuh kaki. Dapurnya ada
> di dalam rumah.
>
> <http://artshangkala.files.wordpress.com/2010/02/rumah-kanekes-baduy-1979.jpg>
>
> Rumah adat Kanekes / Baduy
>
> Ketika kami tiba, isteri Puun Kais sedang memasak nasi. Puun Kais sendiri
> membantu dengan cekatan. Setelah nasi masak, dibentangkannya dua helai tikar
> untuk tempat kami makan dan tidur. Penghuni rumah bersama-sama makan dengan
> kami. Tempat nasi adalah sebuah piring batu, besar (piring antik). Kami
> masing-masing mendapat sehelai daun pisang untuk pengganti piring, karena
> mereka tidak boleh mempunyai piring pinggan biasa. Lauk pauknya lain dari
> pada ikan peda yang kami bawa dari rumah, ada garam lama (*uyah nahun*),
> gulai atau rebus *biji hiris *(Cayanus cayan Millsp. fam. Leguminosae), dan
> petai yang dikeringkan.
>
> Nasinya putih bersih, tetapi keras dan berderai (*bear* = Sunda), hingga
> sukar disuapkan. Akan tetapi bagi mereka sudah biasa dan suapnya pun
> berlainan, ialah nasi itu tak ditaruh diujung jari, melainkan ada di antara
> telapak tangan dari jari, lalu dilemparkan ke dalam mulutnya. Karena itu
> ujung jarinya tak sampai masuk ke dalam mulut.
>
> *
>
> Tengah kami makan, Puun Mantan berkata.
> + âAgaknya kamu belum biasa makan nasi ladangâ. - âHanya sukar
> menyuapkannya saja, ayah. Nasi ayah ini tak dapat dikepal. + âSungguh pun
> begitu, orang yang makan nasi ini lebih tahan lapar dari pada makan nasi di
> tempatmu. Bila engkau biasa makan nasimu sehari tiga kali, dengan nasi kami
> ini cukup dua kali saja. Demikian sepanjang kata orang-orang kami yang
> pernah makan di luar Baduy. Pada hematku nasi sawah itu kurang kekuatannya
> dari pada nasi ladangâ.
>
> Selesai makan, kami duduk-duduk di atas tikar. Sedangkan Puun Manten bersama
> istrinya dan anak-anaknya duduk di atas lantai bambu tak beralaskan apa-apa.
> Saya berkata :
> - âMengapa Girang duduk tidak bertikar. Ambillah yang sehelai ini untuk
> Girang dan Ambu (istri Puun Kais)â. + âTidak. Tikar ini kusediakan bagi
> tamu. Kami tidak biasa bertikar berbantal, apalagi tidur berkasurâ. -
> âSeorang
> bekas Puun tidur tidak berkasur berbantal?â. + âPuun sendiri tidak
> berkasur
> berbantalâ. - âMengapa?â + âKami takut kalau-kalau terlalu nyenyak
> tidur.
> Terutama bagi kami, tidur di atas kasur itu adalah suatu larangan. Sedang
> bantal ada juga seorang dua yang empunya. Kamu pun terpaksa di sini tidur
> tak berbantal, karena aku tak punya barang sebuah punâ.
>
> Saya mengambil kain putih dari dalam tas dan diserahkan kepada Puun Manten
> sebagai buah tangan bagi keluarganya.
> + âApakah ini?â - âKain putih, Girangâ. + âYa,⦠aku tahu ini
> kain putih.
> Tapi apakah maksudmu?â - âUntuk keluarga Girangâ. + âTidak perlu.
> Lebih
> baik kau simpan lagi. Kami orang Sunda hanya boleh memberi tak boleh meminta
> (*wenang mere teu wenang menta*). Orang yang pandai meminta adalah tukang
> baramaen (orang minta-minta)â. - âAku sendiri orang Sundaâ. +
> âEntahlah.
> Engkau orang Sunda atau bukan tak menjadi soal kepadaku. Bahasamu dapat
> kupahamkan, tetapi kita berlainan bagian karena berlainan tempat kelahiran.
> Bagian kami di sini hidup terbatas dengan ketentuan larangan kebuyutan.
> Bagian kamu di luar, hidup bebas, dapat melakukan sembarang
> kehendakmuâ. - âWalaupun
> begitu, kain ini aku yang memberi kepada Girang, bukannya Girang yang
> meminta kepadaku. Apakah beri-memberi terlarang pula?â. + âTidak, bahkan
> diharuskan. Adakah kainmu ini bukan kau dapat dari pembagian Pemerintah?
> Kabarnya orang-orang di luar mendapat bagian pakaian dan makanan dari negara
> (maksudnya distribusi). Tak masuk pada akalku orang yang sehat-sehat seperti
> kamu sekalian harus dibagi makanan dan pakaianâ. - âMeskipun dibagi, tapi
> dengan membeli juga. Dan kain putih ini aku tak tahu dengan pasti darimana
> asalnya, sebab didapat dari istrikuâ. + âWalaupun dibeli, harganya tak
> seperti harga pasar. Dan aku tidak mengerti mengapa engkau membawa benda
> yang tak kau ketahui asalnyaâ. - âTetapi senang benar hatiku, bila kain
> putih ini ayah terima. Aku tak sanggup membawanya kembali, karena perjalanan
> dari sini ke tempatku sangat berat bagiku. Jangankan membawa beban, sedang
> membawa tubuh pun merasa letih. Lain dari pada itu, andaikata kain ini
> berasal dari pembagian sekalipun, namun tetap kepunyaanku, bukannya benda
> curian. Jikalau ayah tak suka memakainya, boleh dibuang, dibakar atau
> dijualâ. + âKalau demikian, baiklah kuterima. Tetapi aku berharap agar
> pemberian ini terbit dari hatimu yang tulus ikhlas, dan hendaklah kau
> izinkan bila esok atau lusa benda ini kutukarkan dengan benda lain. Kami
> disini tidak boleh memakai kain sehalus ini. Pakaian kami harus dari kain
> yang kami tenun sendiriâ.
>
> Kemudian pembicaraan kami beralih kepada peristiwa negara pada masa itu.
> + âAku mendengar kabar, bahwa negara kita telah terlepas dari kekuasaan
> Belanda. Masih banyakkah orang-orang Belanda di tempatmu?â. - Pertanyaan
> itu tentu saja saya jawab âmasih banyakâ karena waktu itu adalah tanggal 7
> Januari 1950â³. + âAdakah mereka masih menjadi *Pangagung?* (memegang
> jabatan tinggi)â. - âTidak. Tampuk pimpinan pemerintahan ada di tangan
> orang-orang awakâ. + âMenurut pakem kami, kekuasaan Belanda di sini harus
> sudah hapus semenjak 100 tahun yang lampau. Mereka tak mungkin berkuasa
> kembali, sebab telah tiba *âdisnyaâ* (batas yang ditunjuk). Setelah habis
> kekuasaan Belanda, masih ada lagi beberapa bangsa asing yang menduduki tanah
> air kita ini. Akan tetapi pada hematku, mereka hanya untuk mengacaukan saja,
> karena kekuasaannya telah dihabiskan Belanda oleh kelebihan waktu 100 tahun
> itu. Sesungguhnya ada suatu kesalahan besar yang dijalankan oleh orang
> dulu-dulu di luar. Mereka telah menjual tanah kepada orang-orang Belanda dan
> orang-orang asing lainnya. Karena itu, orang-orang asing itu mempunyai tanah
> di sini, bercocok tanam, merasa beruntung dan akibatnya tak mau melepaskan
> tanahnya itu. Orang-orang Belanda dan orang-orang asing yang datang kemari
> hanya untuk berdagang dan berjual beli, bukan untuk berkebun berladang.
> Mereka mempunyai tanah air sendiriâ.
>
> Puun Manten bertanya pula :
> + âKabarnya kamu berperang dengan Belandaâ. - âTerpaksa, karena
> masing-masing mempertahankan pendiriannyaâ. + âApakah tak lebih baik bila
> diselesaikan dengan perundinganâ. - âBerunding dan berdamai sudah kami
> jalankan, tetapi akhir-akhirnya bertempur jugaâ. + âBerperang berarti
> berbunuh-bunuhan. Akibatnya niscaya banyak anak-anak dan perempuan yang
> terlantar. Pada hematku, bila perundingan itu dijalankan dengan tulus
> ikhlas, mengapa tak mendapat penyesuaian?. Kamu di luar orang pandai-pandai.
> Orang-orang Belanda pun tak semua buruk dan tamak; mereka tentu mengetahui
> bahwa batas kekuasaannya di sini telah lampau. Pada hematku perundingan itu
> dapat diatur agar tak merugikan kedua belah pihak, misalnya begini:
> Kepandaian Belanda tentang mengatur negara, membuat uang, membuat pakaian
> dan sebagainya, kamu ambil dahulu. Orang-orang Belanda yang baik hati,
> niscaya bersedia memberikan kepandaian itu kepada kamu. Kelak, bila kamu
> telah pandai sebagai mereka, orang-orang Belanda itu disuruh pulang dengan
> diberi uang secukupnya untuk tambangan (biaya perjalanan) dan untuk hidup di
> tanah airnyaâ. - âApakah manusia itu tak boleh berperang?â + âKamu
> boleh,
> kami tidak. Akan tetapi cara kamu berperang menurut kabar yang kudengar, tak
> masuk pada akalku. Orang-orang yang berperang pada masa ini, dibolehkan
> membakar rumah, membunuh perempuan dan anak-anak atau menyiksa orang-orang
> yang tak berdosa. Pada pakem kami, ada peristiwa *perang ayunan*.
> Orang-orang yang berperang ayunan, harus sama senjatanya, seimbang
> tenaganya. Musuh lawan harus memegang kejujuran. Barang siapa yang tak
> jujur, meskipun ia menang, tetap kalahâ.
> ------------------------------
> [1] Ketika buku ini ditulis, kedua-duanya masih hidup dan ada di Bogor.
>
> http://artshangkala.wordpress.com/2010/02/23/baduy-sebuah-perjalanan-batin-ke-suku-kuno-tahun-1959/
>
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/